Resensi | DETaK
Judul: Pendidikan Kaum Tertindas / Pedagogy of the Oppressed
Penulis: Paulo Freire
Penerbit: NARASI
Tahun terbit: 2019
Alih Bahasa: Yudha Wahyu Pradana
Tebal Buku: 220 halaman
ISBN: 978-602-5792-42-7
Harga: Pulau Jawa Rp 88.000
Tentang Penulis
Paulo Freire (1921–1997) adalah seorang pendidik dan pemikir asal Brasil yang dikenal luas sebagai tokoh sentral dalam pengembangan pendidikan kritis. Pemikirannya lahir dari pengalaman konkret mendampingi masyarakat miskin dan buta huruf di Brasil, di tengah kondisi ketimpangan sosial dan tekanan politik yang kuat. Freire memandang pendidikan sebagai proses humanisasi yang berperan penting dalam membebaskan manusia dari penindasan struktural. Karyanya Pedagogy of the Oppressed, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Pendidikan Kaum Tertindas, menjadi salah satu karya paling berpengaruh dalam kajian pendidikan dan ilmu sosial hingga saat ini.

Sinopsis
Pendidikan Kaum Tertindas membahas pendidikan sebagai praktik sosial yang tidak pernah bersifat netral. Menurut Freire, pendidikan selalu berada dalam posisi berpihak, ia dapat memperkuat penindasan atau justru menjadi sarana pembebasan. Buku ini mengkritik model pendidikan tradisional yang bersifat satu arah dan otoriter yang disebut Freire sebagai banking model of education, yaitu ketika peserta didik diperlakukan sebagai wadah kosong yang hanya menerima pengetahuan dari pendidik.
Sebagai jalan lain, Freire menawarkan pendidikan dialogis yang menempatkan pendidik dan peserta didik sebagai subjek yang setara. Pendidikan dalam buku ini dipahami sebagai proses dialog, refleksi, dan tindakan sadar (praxis) yang bertujuan membangun kesadaran kritis (conscientização). Dengan kesadaran ini, manusia diharapkan mampu memahami realitas sosialnya secara kritis dan terlibat aktif dalam upaya perubahan. Freire menegaskan bahwa pembebasan tidak dapat diberikan dari luar, melainkan harus diperjuangkan oleh manusia itu sendiri melalui pendidikan yang berakar pada kemanusiaan.
Ulasan dan Penilaian
Kelebihan utama buku ini terletak pada kedalaman analisis kritis serta kestabilan pada kerangka pemikirannya. Dalam buku ini, Freire berhasil menunjukkan bahwa pendidikan tidak dapat dipisahkan dari relasi kuasa dan tanggung jawab moral. Kritiknya terhadap pendidikan gaya bank disampaikan secara tajam dan argumentatif, sekaligus membuka ruang bagi konsep pendidikan dialogis yang lebih humanis. Gagasan tentang kesadaran kritis menjadi kekuatan utama buku ini, karena mendorong pembaca untuk tidak sekadar memahami teori pendidikan, tetapi juga merefleksikan posisi dirinya dalam struktur sosial yang lebih luas. Pandangan Freire bahwa “pendidikan tidak mengubah dunia, tetapi mengubah manusia yang kemudian mengubah dunia” memperlihatkan keyakinannya pada peran pendidikan sebagai pondasi perubahan sosial jangka panjang.
Meski begitu, buku ini tak lepas dari keterbatasan dalam hal keterjangkauan bagi pembaca pemula. Gaya penulisan yang reflektif dan filosofis membuat beberapa gagasan terasa abstrak dan memerlukan pembacaan berulang agar dapat dipahami oleh pembaca pemula. Buku ini juga relatif minim memberikan contoh empiris dan panduan praktis yang dapat langsung diterapkan dalam konteks pendidikan formal. Latar sosial-politik Amerika Latin yang menjadi konteks kelahiran gagasan Freire juga tidak selalu dijelaskan secara rinci dalam buku ini, sehingga pembaca dari konteks lain perlu melakukan penafsiran dan penyesuaian kritis terhadap realitas lokal masing-masing.
Rekomendasi
Secara keseluruhan, buku Pendidikan Kaum Tertindas merupakan karya penting yang layak dibaca oleh pendidik, mahasiswa, serta pembaca yang memiliki ketertarikan terhadap isu keadilan sosial dan transformasi pendidikan. Buku ini bukan bacaan ringan, tetapi memberikan sumbangan pemikiran yang mendalam dan relevan hingga saat ini. Karya Paulo Freire ini mampu memperkaya pemahaman tentang pendidikan sebagai ruang dialog, kesadaran, dan pembebasan manusia.
Penulis Bernama Nurul Asya Salda, Mahasiswi Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala.
Editor: Pramudiyanti Saragih











