Resensi | DETaK
Judul: Hello, Cello
Penulis: Nadia Ristivani
Penerbit: PT. Bukune Kreatif Cipta
Tahun terbit: 2022
Kota terbit: Jakarta
Tebal Buku: 428 halaman
ISBN: 978-602-220-438-1
Harga: Rp. 99.000
Tentang Penulis
Nadia Ristivani atau yang biasa dikenal sebagai Ijo, pemilik akun Twitter, adalah seorang pengangguran ambisius yang sedang mencari masa depan. Anak perempuan dan cucu pertama dan cucu perempuan pertama di dua keluarga. Lahir satu tahun setelah pergantian abad, di bulan dengan hari paling sedikit sepanjang tahun, dan dua hari sebelum hari kasih sayang yang belum pernah dirayakan karena masih sediri.

Kesehariannya adalah mengeluh sambil menulis. Mengeluh adalah hobi, menulis adalah passion. Kebetulan, sedang meniti karir agar bisa tetap kaya walau tidur seharian. Hello, Cello adalah buku ketiganya dari semesta yang sama dengan Hilmy Milan.
Sinopsis
Novel Hello, Cello mengisahkan perjalanan seorang remaja bernama Cello, yang sedang berada pada fase hidup penuh kebimbangan, mimpi, dan pertumbuhan. Hidup Cello awalnya berjalan biasa saja, hingga pertemuannya dengan seseorang yang datang dari dunia yang tidak sepenuhnya ia pahami seperti dunia olahraga, disiplin, dan kompetisi.
Ilstrasi sampul yang menampilkan ring basket dan bola menjadi petunjuk bahwa cerita ini bergerak di sekitar kegiatan basket baik sebagai latar belakang maupun simbol perjalanan batin Cello. Interaksi dengan tokoh tokoh yang mencintai dunia olahraga membuat Cello belajar tentang kerja keras, komitmen, dan keberanian menghadapi perasaan sendiri.
Di tengah berbagai dinamika sekolah, kegiatan ekstrakulikuler, dan pertemanan, kedekatan yang semula terasa sederhana perlahan tumbuh menjadi rasa yang lebih rumit: kekaguman, pertentangan batin, dan cinta yang muncul secara perlahan. Cello harus berhadapan dengan ketakutan akan perubahan, rasa takut kehilangan, serta keinginan untuk tetap menjadi dirinya sendiri tanpa menyingkirkan orang orang yang ia sayangi.
Tentang Novel
Hello, Cello. merupakan novel romansa remaja yang menghadirkan suasana hangat, ringan, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari pelajar. Kehidupan sekolah yang penuh rutinitas, latihan basket yang melelahkan namun menyenangkan, serta momen-momen kecil yang membangun hubungan antar tokohnya menghadirkan kisah yang sederhana namun berkesan.
Penulis menggunakan basket sebagai metafora penting dalam cerita-bukan hanya sebagai aktivitas, tetapi sebagai simbol perjuangan, keberanian, dan proses seseorang menghadapi emosi yang ia pendam. Seperti latihan yang harus dilakukan berulang kali, hubungan antar manusia juga memerlukan usaha, kejujuran, dan keberanian untuk mengakui rasa. Bahasa yang digunakan dalam novel ini ringan dan mudah dipahami, sehingga cocok dibaca oleh pelajar atau mahasiswa yang menyukai cerita manis dan tidak rumit. Alur yang mengalir membuat pembaca mudah hanyut dalam kisah Cello dan orang-orang di sekelilingnya, sementara dinamika emosionalnya memberikan nilai moral yang relevan.
Beberapa pelajaran penting yang dapat diambil dari novel Hello Cello antara lain:
1. Keberanian memulai kembali-baik dalam pertemanan, cinta, maupun mimpi.
2. Hubungan yang sehat dibangun dari komunikasi dan kejujuran, bukan hanya rasa suka yang dipendam.
3. Setiap orang memiliki proses pendewasaannya sendiri, dan tidak semua orang melalui jalan yang sama.
4. Kegagalan bukan akhir, tetapi bagian dari perjalanan.
5. Cinta yang tumbuh perlahan seringkali lebih kuat, karena dibangun dari rasa saling percaya dan saling memahami.
6. Menjadi diri sendiri adalah kunci untuk membangun hubungan yang sehat.
Kelebihan dan Kekurangan Novel
kelebihan novel Hello, Cello. terletak pada gaya bahasa yang ringan, komunikatif, dan mudah dipahami, sehingga pembaca remaja dapat menikmati alurnya tanpa merasa terbebani. Latar cerita yang melibatkan dunia basket juga menjadi nilai tambah karena menghadirkan suasana yang segar dan berbeda dari kebanyakan novel romansa remaja, sekaligus membuat dinamika hubungan antar tokoh terasa lebih hidup. Penggambaran emosi para karakternya pun terasa natural, terutama ketika menampilkan keraguan, ketertarikan, dan proses tumbuh dewasa yang dialami Cello.
Namun, di balik kelebihannya, novel ini juga memiliki beberapa kekurangan. Alur yang cenderung ringan membuat konflik terasa kurang menantang, terutama bagi pembaca yang menginginkan plot yang lebih kompleks. Tema romansa sekolah yang familiar juga dapat membuat sebagian pembaca merasa bahwa beberapa bagian cerita mudah ditebak. Selain itu, pendalaman terhadap tokoh-tokoh pendukung terkesan minim sehingga kontribusi mereka terhadap perkembangan cerita tidak terlalu kuat. Meskipun demikian, secara keseluruhan novel ini tetap menawarkan pengalaman membaca yang hangat, manis, dan menyenangkan bagi pembaca muda.
Penulis bernama Mila Santika, Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala.
Editor : Rimaya Romaito Br Siagian










