Beranda Opini Hantu Perempuan dan Ketakutan Masyarakat terhadap Perempuan yang Melawan

Hantu Perempuan dan Ketakutan Masyarakat terhadap Perempuan yang Melawan

BERBAGI
Ilustrasi. (Putri Izziah/DETaK)

Opini | DETaK

Jauh sebelum Orba menakuti nakuti masyarakat dengan dogma “hantu” Gerwani yang berhasil dibentuk Orde Baru (Orba), masyarakat kita telah menanamkan dan mewariskan ketakutan melalui hantu-hantu perempuan seperti kuntilanak, suster ngesot, sundel bolong, si manis jembatan ancol, dan lain sebagainya. Namun, ada satu pertanyaan yang menarik: mengapa perempuan yang menjadi korban justru kerap digambarkan sebagai sosok mengerikan ketika mereka bangkit untuk membalas dendam?

Sosok-sosok ini hampir selalu memiliki pola narasi yang sama, dimana hantu perempuan di Indonesia digambarkan sebagai entitas yang ingin membelaskan dendam setelah sebelumnya semasa hidupnya tertindas, entah dibunuh pacar, suami, korban kekerasan seksual, dan segudang cerita sadis lainnya. Tetapi setelah mereka mati, sosok penyintas kekerasan ini tiba-tiba digambarkan sebagai makhluk yang kuat, menakutkan, dan siap membalas dendam kepada tersangka utama pembunuhan mereka. Hal ini seakan-akan, sosok perempuan hanya akan kuat, penuh kuasa, dan siap membela dirinya setelah mereka mati. Seolah-olah, perempuan Indonesia baru diizinkan memiliki kuasa dan membela dirinya sendiri setelah tubuhnya tak bernyawa.

Iklan Souvenir DETaK

Tak jarang, hantu perempuan yang membawa dendam digambarkan menyerang fisik dan sisi psikologis pelaku yang membuat mereka akhirnya mati, tak tentu sebabnya karena hantu atau karena ketakutan terhadap hantu sehingga mereka memutuskan mengakhiri hidupnya. Yang jelas akhir mengenaskan sudah tentu dihadapi para pelaku ini. Tapi kita tak akan membahas bagaimana para “pelaku” ini mati, tapi mengapa di negara kita hantu-hantu banyak yang berjenis kelamin perempuan. Apakah karena mereka memiliki rambut indah panjang serta berkilau semasa hidupnya yang membuat para pemuka agama muntab jika saja sehelai dari rambut itu keluar dari jilbab?

Jawabnnya tak lepas dari cengkeraman sistem yang sudah mengakar dalam nadi masyarakat kita. Patriarki benar-benar merusak sistem tatanan normal dan malah dianggap sebagai sistem sebenarnya. Padahal tak lain dan tak bukan patriarki merugikan bagi kedua belah gender. Kita bisa lihat dari beban domestik yang seringkali dibebankan kepada pihak perempuan tapi juga dituntut untuk membantu perekonomian keluarga, hingga keluar kata kata keramat “perempuan kodratnya di dapur”. Laki-laki terjebak toxic masculinity yang diam diam membunuh empati demi memenuhi ego yang mereka agung-agungkan sebagai pride, harga diri. Patriaki benar-benar meracuni pikiran kita.

Dalam sistem yang menempatkan perempuan sebagai pihak yang harus patuh dan laki-laki sebagai pemegang kuasa, perempuan yang menolak tunduk dapat dipersepsikan sebagai ancaman terhadap tatanan yang selama ini dianggap normal. Pola ketakutan terhadap perempuan yang melawan inilah yang menarik untuk dibaca melalui representasi hantu perempuan dalam budaya populer.

Walaupun sekilas nampaknya seperti tidak berkaitan, tetapi pembentukan tokoh hantu perempuan di Indonesia sangat lah amat berkaitan dengan bias gender tersebut. Dilansir dari cinemapoetic, dalam berbagai studi antropologi, perempuan punya kekuatan lebih dibanding laki-laki dalam memendam hasrat serta keuangan dengan lebih rasional. Itu kenapa perempuan seringkali menjadi manajer dan pengaturan keuangan dalam rumah tangga. Hal-hal ini yang memicu kecemasan laki-laki. Sosok hantu perempuan pada dasarnya adalah manifestasi alam bawah sadar atas kecemasan masyarakat patriarkal, terutama saat memasuki era transisi kapitalisme dari masyarakat agraris ke industri di mana laki-laki merasa terancam oleh peran baru perempuan di ruang publik dan dunia kerja.

Bahkan terbersit di pikiran saya, hantu perempuan ini tercipta untuk mengekang perempuan. Kita semua tau bahwa hantu perempuan tercipta karena penganiayaan yang dilakukan oleh laki-laki. Kebanyakan mereka menjadi korban kekerasan seksual saat malam hari. Hal ini seakan-akan menegaskan dan membenarkan pendapat yang mengatakan bahwa perempuan tidak boleh keluar malam, duduk manis saja di rumah tak peduli tentang pekerjaan atau hal mendesak lainnya yang mungkin harus dilakuakn di luar rumah dan di malam hari. Dari sini, seharusnya kita tak menyalahkan perempuan yang keluar di malam hari. Tetapi bagaimana laki-laki seharusnya bersikap saat melihat perempuan yang keluar malam hari, tak seharusnya para penyembah logika itu berlagak layaknya anjing birahi di musim kawin saat melihat perempuan berjalan melewati.

Masyarakat kita sepertinya terlalu menormalkan pelecehan kepada perempuan yang berjalan sendirian di malam hari daripada mempertanyakan motivasi para pemuja ego (dibaca: laki-laki) yang melecehkan perempuan yang berjalan sendiri di malam hari. Jika ditanya seperti itu, para laki-laki ini pasti akan menjawab, “kucing mana yang melewatkan kesempatan saat diberi ikan?”. Tidak masuk akal, memangnya perempuan yang keluar malam semuanya adalah penjaja seks?

Memang sejak dulu laki-laki yang diangung agungkan sebagai makhluk logika, tak satupun pendapat mereka masuk logika. Ironisnya, tidak hanya laki-laki, perempuan sendiri juga melanggengkan opini sampah ini, sering kali kita dengar perempuan jangan keluar rumah, karena kejadian ini dan itu, yah pastinya tidak jauh jauh dari pelecehan yang dilakukan oleh makhluk tuhan paling sensi tersebut. Sungguh demi tuhan, saya muak.

Narasi “hantu-hantu perempuan” ini tidak berhenti sekelas dongeng-dongeng yang diceritakan secara lisan, ia juga turut dilanggengkan dalam rumah produksi perfilman. Sebelum saya masuk jurusan Ilmu Komunikasi, jurusan 1001 loker konon katanya. Saya mengira film hanya media hiburan semata, siapa sangka bahwa sebuah film yang kita konsumsi sehari-hari akan mempengaruhi bagaiamana cara kita berpikir dan memandang dunia.

Dilansir dari Theconversation, dari 559 film horror Indonesia periode 1970-2019 menunjukkan bahwa perempuan sangat dominan direpresentasikan sebagai hantu yaitu sebanyak 60,47% atau 338 film menampilkan perempuan sebagai hantu utama, hanya sebanyak 24,15 % menampilkan laki-laki sebagai hantu utama. Saya pribadi jarang sekali mendengar film hantu dengan menampilkan laki-laki sebagai hantu utama, berbeda dengan perempuan, siapa yang tak kenal dengan Suzanna, ratu horror ikonik Indonesia, tentunya dia perempuan bukan?

Film horor hampir selalu menampilkan paradoks atas sosok perempuan. Di satu sisi, mereka dikonstruksi sebagai korban, sedangkan di sisi lain, mereka punya sifat layaknya monster. Perempuan dalam film awalnya ditampilkan sebagai korban, lalu kemudian berubah menjadi hantu yang menampilkan sisi monster. Tubuh perempuan ditiadakan haknya semasa hidup, lalu diseksualisasi dan ditakuti saat menjadi mayat. Media secara tidak sadar terus mendidik masyarakat bahwa perempuan yang bersuara, menuntut keadilan, atau menolak ketertindasan adalah sosok yang “mengerikan” dan “berbahaya”, sebuah anomali yang harus ditakuti, bukan didengarkan.

Pola ini mengundang pertanyaan yang lebih jauh: mengapa kekuatan perempuan begitu sering dikaitkan dengan kematian, dendam, dan teror? Apakah perempuan yang menuntut keadilan memang harus digambarkan sebagai sosok mengerikan? Atau, jangan-jangan, yang menakutkan bagi masyarakat bukanlah hantu perempuan itu sendiri, melainkan kemungkinan bahwa perempuan yang selama ini ditindas akhirnya memiliki kuasa untuk melawan?

Sepertinya, sudah saatnya kita sadar dengan cara pandang ini, Sudah saatnya kita membongkar cara pandang yang cacat ini. Perempuan tidak boleh lagi hanya diberi panggung kekuatan ketika mereka sudah menjadi narasi tragis dan berwujud mayat. Kedaulatan, kekuatan, dan hak membela diri harus diakui dan dijamin saat perempuan masih bernapas, menjalani hidup, dan berkarya di ruang publik. Kita harus berhenti merayakan “kekuatan” hantu perempuan dan mulai membangun sistem sosial serta hukum yang benar-benar melindungi tubuh serta jiwa mereka semasa hidup.

Pada akhirnya, hantu-hantu perempuan seperti kuntilanak, sundel bolong, atau hantu perempuan lainnya dapat diartikan bukan sekedar sebagai sosok mistis yang menakut tetapi juga bayangan cermin dari kecemasan masyarakat terhadap perempuan yang terluka, marah, dan menuntut keadilan. Kita takut pada hantu perempuan karena jauh di dalam lubuk hati, masyarakat patriarkal ini tahu betapa besarnya dosa dan kekerasan yang telah mereka timpakan kepada perempuan. Sudah saatnya kita berhenti memelihara hantu-hantu ini, dan mulai mematikan sistem patriarki yang melahirkannya.

Akhir kata saya sampaikan, kepada perempuan-perempuan yang terus bersuara, kalian hebat, terima kasih atas perjuangannya, karena perjuangan kalian juga saya bisa menulis pendapat pribadi saya dengan bebas dan tanpa rasa takut. Saya menyadari bahwa perjuangan perempuan belum usai tetapi keberanian kalian mengingatkan kita bahwa perubahan selalu layak untuk diperjuangkan.

Panjang Umur Perjuangan dan Hidup Perempuan Yang Melawan.

Dari perempuan yang marah, Sara Salsabila.

Penulis merupakan Sara Salsabila, Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala.

Editor: Kamilina Junita Damanik