Resensi | DETaK
Judul Film: Capernaum
Sutradara: Ndine Labaki

Pemeran: Zain Al Rafeea, Yordanos Shiferaw, Boluwatife Traeasure Bankole, Cedra Izzam
Tahun Rilis: 20 September 2018
Genre: Drama Sosial
Durasi: 2 jam 6 menit
Negara: Lebanon
Bahasa: Arab dan Amharik
Sinopsis Film
Capernaum merupakan sebuah film yang mempunyai alur maju mundur dengan dinamika yang sangat kuat. Adegan pertama dalam film langsung dibuka di ruang sidang, sebuah potret radikal yang seketika memantik rasa penasaran penonton. “Saya ingin menuntut orang tua saya,” ucap seorang anak laki-laki berusia 12 tahun dengan tatapan mata yang dingin sekaligus rapuh di hadapan hakim. Ketika ditanya apa alasannya, jawabannya singkat namun menampar kesadaran kita semua, “Karena mereka telah melahirkan saya.” Melalui adegan ini, kita diperkenalkan pada Zain (diperankan oleh Zain Al Rafeea), anak laki-laki yang berusia 12 tahun yang sedang menjalani hukuman penjara. Namun, alih-alih duduk pasrah sebagai pesakitan, Zain justru bertindak sebagai penggugat. Dengan tatapan mata yang dingin, letih, namun penuh amarah, ia menggugat orang tuanya sendiri ke pengadilan atas “dosa” mereka yang telah melahirkannya ke dunia.
Dari titik sidang inilah, sutradara membawa kita ke kilas balik menyusuri labirin kumuh kota Beirut. Tempat di mana Zain tumbuh tanpa dokumen resmi, tanpa sekolah, dan dipaksa bekerja kasar demi menghidupi adik-adiknya. Rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung, bagi Zain, tak ubahnya neraka kecil yang dikelola oleh orang tua abai yang memandang anak sebatas komoditas ekonomi. Puncak patah hati Zain terjadi saat adik perempuannya, Sahar, yang baru saja memasuki masa pubertas, dipaksa menikah dengan pria dewasa yang merupakan bos tempat Zain bekerja.
Kecewa dan muak, Zain memilih kabur ke kerasnya aspal jalanan. Saat ia mulai kelaparan dan terpaksa mengais makanan, takdir mempertemukannya dengan Rahil, seorang imigran gelap asal Ethiopia yang bertahan hidup dari kejaran petugas imigrasi. Rahil membawa Zain ke rumahnya, memberinya makan, dengan imbalan tugas mengasuh bayinya yang bernama Yonas. Saat kehidupan Zain dirasa mulai aman, narasi film bergeser secara emosional. Rahil tiba-tiba ditangkap oleh petugas imigrasi, meninggalkan Yonas yang masih menyusu di tangan Zain. Di sinilah letak kejeniusan alur film ini. Kita dipaksa menyaksikan bagaimana seorang anak berusia 12 tahun yang hak-haknya dirampas, justru harus menjadi figur “orang tua” darurat bagi bayi imigran di tengah kota yang kian apatis. Zain mesti menyeret kereta bayi buatannya, mencari susu, hingga akhirnya terjebak dalam pusaran tragedi hukum yang membawanya ke balik jeruji besi dan berujung pada gugatan kontroversial di awal film.
Kekuatan magis Capernaum terletak pada komitmen radikal Nadine Labaki untuk menghadirkan film ini tanpa polesan komersial. Keputusannya untuk menggunakan jajaran aktor non-profesional adalah sebuah pilihan estetika yang brilian. Zain Al Rafeea pada kehidupan nyatanya memang merupakan seorang pengungsi asli Suriah yang tumbuh di jalanan Beirut. Ketika kamera menangkap emosi Zain secara intim, kita sebagai penonton tidak hanya sedang melihat seorang anak yang sedang berakting berdasarkan naskah, namun kita juga sedang melihat memori tubuh kecil yang jujur. Sinematografinya memaksa kita melihat dunia dari child’s eye view (kaca mata anak kecil) yang rendah, sempit, bising, dan penuh ancaman.
Namun, film ini juga menyisakan sedikit catatan kritis pada bagian akhir cerita. Labaki tampaknya agak terlalu ambisius dengan menumpuk semua jenis tragedi kemanusiaan, mulai dari pernikahan anak, krisis pengungsi, imigran gelap, hingga perdagangan manusia, kondisi ini terlalu gelap untuk dibebankan ke dalam pundak Zain yang kecil. Di beberapa bagian, intensitas penderitaan yang tanpa jeda ini terasa sedikit manipulatif secara emosional demi menekan psikologis penonton. Meskipun demikian, kekurangan kecil itu langsung terbayar tuntas oleh penyelesaian akhir film yang kuat. Gugatan hukum yang diajukan Zain mungkin terdengar tidak masuk akal dan absurd bagi hukum formal yang kaku. Namun secara moral, itu merupakan bentuk perlawanan tertinggi seorang anak terhadap kekecewaan serta kegagalan struktural negara, sekaligus kritik atas keegoisan orang dewasa yang melahirkan anak tanpa tanggung jawab kesiapan mental maupun finansial.
Bagi kita di lingkungan akademik yang sering berdiskusi tentang keadilan sosial, Capernaum adalah tontonan wajib. Film ini mungkin akan membuat Anda keluar dari ruang pemutaran dengan perasaan sesak dan tidak nyaman. Namun, rasa tidak nyaman itulah yang kita butuhkan untuk membuka mata, agar empati kita tidak tumpul di tengah dunia yang kian kejam ini.
Penulis bernama Najma Zhuhra, Mahasiswi program studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala.
Editor: Husniyyati










