Feature | DETaK
Di tengah riuhnya dunia seni yang terus berubah seiring berjalannya waktu, nama Nisa Rizkya Andika hadir sebagai sosok yang menjadikan karya seni bukan hanya sekadar ekspresi estetika, melainkan sebuah jembatan menuju kemanusiaan. Perempuan asal Aceh ini dikenal lewat karya-karyanya yang kerap menyentuh isu perempuan, tubuh, dan kemanusiaan, serta keberaniannya untuk menghadirkan pengalaman personal menjadi bentuk refleksi sosial.
Nisa merupakan salah satu bagian dari Musawah Artists Collective, inisiatif seni yang berada di bawah Musawah, sebuah gerakan global untuk kesetaraan dan keadilan dalam keluarga Muslim yang memperjuangkan hak-hak perempuan di konteks masyarakat Muslim. Melalui Musawah, Nisa dan juga para seniman lainnya berupaya menciptakan ruang dialog tentang pentingnya peran perempuan, keadilan sosial, serta bagaimana caranya seni dapat menjadi sarana untuk menyuarakan perubahan.

Selain itu, ia juga terlibat dalam Breaking The Chain Project, sebuah proyek yang membahas isu pernikahan anak dalam kacamata kesehatan dan keselamatan bagi anak perempuan. Melalui proyek ini, Nisa memperluas diskusi tentang bagaimana seni itu dapat menjadi sebuah ruang advokasi dan juga empati terhadap pengalaman perempuan-perempuan muda, terutama di Aceh sendiri.
Ketertarikannya terhadap dunia seni telah tumbuh sejak ia masih kecil. Bakat menggambar dan berimajinasi sudah terlihat sejak masa sekolahnya, namun keseriusannya baru terasah ketika ia memutuskan untuk melanjutkan studi di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada tahun 2017. “Aku tertarik di dunia seni sejak kecil, memang bakatnya udah ada, tapi mulai serius sejak memutuskan masuk kampus seni ISI Yogyakarta di tahun 2017, Itu pertama kali aku menjadi seniman dan mengedukasi diri sebagai seniman.” ungkapnya.
Keputusan itu menjadi langkah awal yang besar dalam hidupnya. Dunia kampus yang akhirnya memperkenalkan Nisa kepada berbagai bentuk seni dan juga pemikiran yang lebih dalam. Ia mulai memahami bahwa seni bukan hanya sekadar hasil karya semata, melainkan sebuah proses untuk berpikir dan berefleksi terhadap kehidupan sosial itu sendiri. Dari sinilah lahir karya pertamanya berupa sebuah film “Becoming” (2018), yang ia tulis dan sutradarai sendiri sebagai tugas kuliah.
“Itu pertama kali aku menyutradarai naskah filmku sendiri,” kenangnya dengan nada bangga sekaligus hangat.
Sejak saat itu pula, langkahnya tak pernah berhenti. Nisa terus mengeksplorasi berbagai film, fotografi, hingga instalasi seni. Dalam setiap karyanya, ia kerap kali menghadirkan narasi-narasi yang berangkat dari pengalaman pribadinya, budaya Aceh, serta kehidupan sosial perempuan yang berada di sekitarnya. Beberapa karyanya antara lain Beudoh Dara, Playgrounds of Resilience, dan Babysitting.
Melalui karyanya “Beudoh Dara” yang berarti Bangun Perempuan. Karya ini merupakan seri potret diri yang disertai dengan foto-foto ibu dan saudara perempuannya dari album keluarga tahun 2009 hingga 2015. Melalui arsip pribadi itu, Nisa menggambarkan keyakinannya bahwa identitas diri tidak akan pernah terpisah dari sejarah dan pengalaman kolektif. “Beudoh Dara” adalah upayanya untuk memahami diri sebagai perempuan yang lahir setelah masa konflik, sekaligus menjadi bagian dari sejarah sosial Aceh yang lebih luas.
Karya ini telah dipamerkan di berbagai ruang seni internasional, antara lain Institut Français Indonesia (IFI) Yogyakarta pada 2022 dan Chapel Gallery Objectifs, Centre for Photography & Film, Singapura pada 2023. Melalui pameran itu, Nisa menegaskan bahwa posisi perempuan Aceh bukanlah hanya sebagai objek sejarah, tetapi juga sebagai subjek yang memiliki suara, memori, dan juga daya tahan.
Bagi Nisa, seni bukan hanya sebagai alat ekspresi, tapi cara untuk menyuarakan hal-hal penting dalam kehidupan manusia. “Selama kesenian itu menyuarakan sesuatu yang penting bagi kehidupan manusia hari ini, sesuatu yang kontekstual, sesuatu yang bisa menyentuh perasaan orang-orang di sekitarnya dan mengarahkan mereka ke kebaikan, itu sudah cukup jadi motivasi untuk terus berkarya,” ujarnya lembut.
Pernyataannya mencerminkan bagaimana pandangannya terhadap seni sebagai suatu media komunikasi yang bisa menyentuh sisi emosional dan moral manusia. Ia percaya bahwa karya seni yang baik itu seharusnya membuat orang merasa, berpikir, dan pada akhirnya bisa bertindak lebih peduli terhadap sesamanya.
Motivasi itu ia jaga dengan teguh, bahkan ketika tantangan tetap datang dari berbagai arah. “Motivasi aku sama seperti manusia lainnya,” tambahnya, “menggunakan pekerjaannya untuk menjadi lebih baik, memanusiakan manusia, membuat orang-orang di sekitarnya jadi lebih peduli satu sama lain, dan melihat dunia dengan optimis.”
Dalam berbagai pameran yang telah ia ikuti, baik di Indonesia maupun mancanegara, Nisa selalu membawa semangat itu. Pengalaman lintas budaya memperkaya cara pandangnya dalam berkarya. Ia tidak hanya berbicara tentang Aceh, tetapi juga tentang dunia, tentang tubuh, identitas, dan perjuangan manusia untuk tetap berdaya di tengah tekanan sosial.
Melalui setiap warna, cahaya, dan narasi yang telah ia hadirkan, Nisa mengajak publik untuk menyadari bahwa seni bukan hanya sekadar tontonan, tetapi cermin dari realitas dan juga harapan. Ia percaya bahwa ketika seni itu mampu menyentuh hati, dan juga mampu menggerakkan kesadaran.
“Aku berharap kesenian bisa lebih dinikmati oleh banyak orang,” ujarnya. “Bisa diterima sebagai sebuah profesi, dan menjadi sesuatu yang bisa memberikan kebaikan untuk sesama manusia lainnya.”
Kalimat itu merangkum esensi seluruh perjalanan seorang Nisa Rizkya Andika, menjadikan seni sebagai jalan untuk memanusiakan manusia. Di balik setiap karyanya, ada suara yang ingin didengar, dan suara itu, sering kali, adalah suara kemanusiaan itu sendiri.
Penulis bernama Mauliza Araska Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala
Editor: Sara Salsabila










