Feature | DETaK
Langkah-langkah kecil terdengar pelan di sebuah ruangan sederhana di Yogyakarta. Ruangan itu bukan aula besar atau sekolah megah, tetapi hanya rumah kecil dengan meja kayu, papan tulis seadanya, dan beberapa anak yang duduk lesehan. Tidak ada kursi mahal, seragam rapi, atau fasilitas modern. Namun dari sudut ruangan itu, tampak seorang pria berwajah teduh, sorot matanya tajam tetapi hangat. Dengan bahasa yang lembut namun penuh keyakinan, ia sedang mengajarkan huruf demi huruf kepada murid-muridnya. Pria itu adalah Ki Hajar Dewantara, bapak pendidikan nasional Indonesia.
Nama Ki Hajar Dewantara telah menjadi simbol perubahan dalam sejarah pendidikan bangsa. Ia bukan sekadar guru, tetapi pejuang, pemikir, dan pelopor gerakan pendidikan bagi rakyat. Terlahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat pada 2 Mei 1889, ia berasal dari lingkungan bangsawan. Namun alih-alih menikmati hidup nyaman yang ditawarkan status keluarganya, ia justru memilih jalan berbeda: memperjuangkan hak pendidikan bagi rakyat yang tertindas.

Pada masa kolonial Belanda, pendidikan adalah kemewahan yang hanya boleh dinikmati kaum bangsawan dan orang Eropa. Masyarakat pribumi dilarang memasuki sekolah-sekolah elit, bahkan sebagian besar tidak memiliki kesempatan sekolah sama sekali. Kondisi ini membuat Ki Hajar Dewantara gelisah. Ia merasa pendidikan seharusnya menjadi hak semua orang, bukan hak istimewa.
Perjuangannya tidak dimulai di kelas, tetapi dari pena. Sebagai wartawan, ia menulis tajam tentang ketidakadilan pemerintah kolonial. Salah satu tulisannya yang terkenal, “Als Ik Een Nederlander Was” (Seandainya Aku Seorang Belanda), membuat pemerintah kolonial murka. Karena keberaniannya, ia diasingkan ke Belanda. Namun pengasingan itulah yang menjadi titik pembentukan gagasan besarnya.
Di negeri yang asing itu, Ki Hajar mempelajari sistem pendidikan Eropa. Ia belajar bahwa pendidikan bukan hanya soal ilmu, tetapi juga pembentukan karakter, moral, dan kebangsaan. Ia menyadari bahwa bangsa Indonesia membutuhkan pendidikan yang mengakar pada budaya sendiri, bukan sekadar meniru sistem Barat.
Saat kembali ke Indonesia pada 1919, ia tidak pulang dengan tangan kosong. Ia membawa misi besar: mencerdaskan bangsanya.
Tiga tahun kemudian, pada 3 Juli 1922, ia mendirikan Taman Siswa, sekolah alternatif yang membuka pintu pendidikan bagi rakyat jelata. Di sinilah prinsip pendidikannya lahir, yang kini masih menjadi pedoman pendidikan Indonesia:
“Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.”
Bagi Ki Hajar, guru bukan sekadar penyampai materi. Guru adalah teladan, penyemangat, sekaligus pendukung pertumbuhan anak. Di Taman Siswa, tidak ada rasa takut dalam belajar. Murid diberi ruang untuk bertanya, berpendapat, berkreasi, dan bereksperimen. Pendidikan bukan penjara bagi pikiran, tetapi rumah bagi tumbuhnya gagasan.
Pendekatan ini sangat berbeda dengan sistem kolonial yang memberlakukan hukuman fisik dan aturan kaku. Ki Hajar percaya bahwa pendidikan harus memerdekakan. Ia pernah berkata: “Pendidikan adalah tempat menumbuhkan benih-benih kebudayaan yang hidup dalam masyarakat.” Filosofi ini membuat Taman Siswa bukan hanya sekolah, tetapi juga gerakan budaya dan kebangsaan. Dari ruang kecil itu, lahir pemikiran-pemikiran besar tentang Indonesia merdeka.
Kini, wajahnya tampil di banyak ruang kelas. Namanya tercatat dalam buku sejarah. Tanggal kelahirannya diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional sebuah penghargaan atas jasa dan pengorbanannya. Namun warisan terbesar Ki Hajar bukan pada patung atau perayaan. Warisannya ada pada cara bangsa ini memandang pendidikan: sebagai hak, bukan hadiah.
Sebagai mahasiswa pendidikan di era modern, kita mungkin tidak lagi mengajar di ruang bambu seperti Ki Hajar. Namun semangatnya tetap relevan: bahwa tugas seorang pendidik bukan hanya mengajar, tetapi membimbing manusia menjadi merdeka—merdeka berpikir, merdeka memilih, dan merdeka bermimpi.
Dari ruangan sederhana di Yogyakarta itu, Ki Hajar Dewantara telah menyalakan api perubahan. Api itu terus menyala hari ini—di ruang kelas, di perpustakaan, di universitas, dan di hati mereka yang ingin mencerdaskan bangsa.
Dan selama api itu terus dijaga, nama Ki Hajar Dewantara tidak akan pernah padam.
Penulis bernama Afif Wicaksono, Mahasiswa Program Studi Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Syiah Kuala.
Editor : Rimaya Romaito Br Siagian










