Cerbung | DETaK
Verto hanya bisa terdiam ketika tangannya yang awalnya kosong berubah berisi dengan box berat yang disodorkan kepadanya. Sementara sang pelaku, hanya bisa tersenyum dengan mata berbinar seperti anak kecil, yang membuat Verto enggan untuk menolaknya. Awalnya kedatangan Verto ke tempat yang berbau pekat bunga ini hanyalah untuk sekedar mengambil pesanan buket seperti pada biasanya. Apalagi dirinya sendiri sedang terburu-buru. Namun, apalah daya ketika box yang tidak ia inginkan ditaruh secara tiba-tiba keatas tangannya.
Setelah membayar buket tersebut, Verto-pun berbalik dan segera keluar dari florist tersebut dengan sedikit kebingungan. Kebingungan karena entah mengapa ia tidak dapat menolak pemberian wanita tersebut. Kali pertama ia menerima tembikar dari sang perangkai, ia pikir hal itu hanya satu kali semata. Apalagi ketika alasan muslimah itu adalah untuk diberikan kepada ibunya. Membuat sulit untuknya menolak, meski ia memiliki latihan. Namun, kali ini berbeda, tembikar ini ditujukan kepada dirinya, bukan ibunya.

Verto bukanlah orang yang memahami seni seperti ibunya, tidak, jangankan memahaminya ia bahkan tidak menggemari seni. Ia bukanlah orang yang tepat untuk ditanyai atau mengomentari tembikar ini. Ia mengetahui hal itu, seharusnya ia menolak. Karena memberikan tembikar yang telah dibuat dengan ketelitian lebih baik jatuh ke tangan seseorang yang dapat mengapresiasinya. Ia sendiri tidak mengerti mengapa ia menerima tembikar tersebut tanpa perlawanan.
Mengabaikan pikirannya, Verto memutuskan untuk beristirahat dari latihannya. Ia menduduki kursi yang tersedia dipinggir gedung dan meneguk air untuk menghilangkan dahaganya. Ia mengusap keningnya, sebelum menatap langit malam. Bulan, bintang serta suasana seolah menyulap dirinya untuk terus mendongak ke atas, seperti yang biasa mereka lakukan. Namun, kali ini berbeda. Daripada mengagumi sang bulan dan teman-temannya, Verto mendapati dirinya mengaitkan malam dengan sebuah benda. Benda yang Verto yakin terinspirasi dari malam, dan sepantasnya malam dikenang atas keberadaan benda itu. Namun, sebaliknya ia mendapati dirinya mengenang malam dari benda itu.
Benda yang saat ini berada tangan ibunya. Benda pemberian dari orang yang sama dengan tembikar yang sedang berada disampingnya. Benda yang- . Verto memilih mengabaikan pikirannya kemudian membuka box yang sedari tadi ia tenteng. Dengan perlahan ia mengeluarkan bubble wrap yang ditaruh sebelum akhir sampai ke benda yang dijaga oleh box tersebut. Sebuah tembikar berwarna merah muda dengan tiga kaki serta dua pegangan yang membentuk cangkir. Verto dapat melihat inspirasi dari benda yang ia keluarkan. Sangat jelas membentuk buah strawberry.
Verto dapat merasakan konsep apa yang ingin dicapai oleh sang pengrajin. Elegan, feminim, playful, sweet tapi timeless yang memancar membuat Verto menyadari sumber inspirasi dari benda tersebut. Ibunya, coach Margaret Whitmore Hubertus. Verto sangat yakin bahwasanya ibu-nya adalah inspirasi dari vas yang dihadiahi kepadanya. Karakteristik yang mencolok dari tembikar tersebut juga merupakan sifat yang memancar dari ibu-nya.
Verto dapat melihat mengapa Lyn membuat tembikar ini seperti ini. Ibu-nya adalah orang yang sulit ditebak atau beliau lebih senang dibilang unik. Bahkan ia sebagai anaknya sendiri terkadang kesulitan menanganinya meski menurut ibu-nya ia lebih sulit diurus. Tapi, Verto juga dapat melihat sesuatu yang tidak sesuai dengan tembikar ini. Verto jelas merasakan ibu-nya sebagai sumber inspirasi namun secara bersamaan tidak.
Verto sendiri merasa kebingungan terhadap perasaannya sendiri. Ia tidak dapat menyusun kata atas rasa yang dirasakan. Namun, satulah yang pasti something feel off tentang tembikar ini. Tembikar ini tidak dapat menggambarkan sosok inspirasi dengan sempurna, hanya surface level saja. Mungkin itu kalimat yang dapat dirangkai oleh Verto untuk perasaan aneh yang ia rasakan. Sangat disayangkan, padahal tembikar ini sangatlah unik dan dapat memiliki seni tinggi.
Andai saja, sesempurna dan semenawan tembikar sebelumnya-‘ Verto terdiam menyadari pikirannya sendiri. Sebelum memasukkan tembikar ini dikotak dan menyegel kembali kotak tersebut. Ia membuka seragam dan sword fencing-nya, melipat dan menyimpannya kedalam tas masing-masing. Sebelum melangkah keluar dari gedung latihan dengan kebingungan. Kebingungan mengapa ia tidak dapat berhenti memikirkan tembikar berwarna biru malam laut itu.
-Bersambung-
Penulis bernama Riva Alya Najeela, Mahasiswa Program Studi Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Penegetahuan Alam, Universitas Syiah Kuala.
Editor: Kamilina Junita Damanik










