
Feature | DETaK
“Penghasilan saya gak tentu, kayak air laut. Kadang pasang, kadang surut. Tapi ya cukuplah buat jalanin hidup,” ujar Baharuddin, sambil menunduk menatap sepasang sepatu yang tengah ia jahit. Siang itu, sinar matahari menembus sela-sela atap terpal biru yang meneduhkan lapaknya. Di belakangnya terbentang spanduk rokok bertuliskan Tango Kretek, sudah mulai pudar oleh waktu. Di atas meja kayu kecil, tumpukan sepatu tampak berserakan, ada sepatu olahraga berwarna oranye, sepatu kulit hitam yang tampak tua, hingga sandal wanita berhias bunga. Suara jarum yang
menembus kulit sepatu terdengar teratur, berpadu dengan deru motor dan langkah kaki mahasiswa yang melintas di kawasan Darussalam, Banda Aceh.
Pria berkaus abu-abu itu terlihat fokus. Tangannya lincah memainkan jarum dan benang, seolah setiap tusukan punya irama sendiri. Sudah 25 tahun ia menjalani profesi ini, menambal alas kaki orang lain dari sudut kecil yang nyaris tak berubah bentuk sejak awal ia membuka lapak di tahun 2000.

“Saya belajar dari abang di kampung dulu, turun-temurun,” katanya pelan, sambil mengusap keringat di dahinya. “Saya pilih kerja ini karena cuma ini yang saya bisa. Gak tahu kerjaan lain.”
Baharuddin berasal dari Matang Geulumpang Dua, Bireun. Ia memutuskan merantau ke Banda Aceh ketika istrinya mendapat tempat berjualan kue di dekat pintu gerbang Kopelma Darussalam.
Dari situlah mereka berdua memulai hidup baru di kota ini, saling menopang dengan cara sederhana: sang istri berjualan kue, Baharuddin menjahit sepatu. Lapaknya kecil, tapi penuh kehidupan. Di balik meja kayu dan lem sepatu yang baunya tajam, ada bilik kecil dari triplek tempat ia beristirahat di malam hari. “Sekalian jaga lapak juga,” ujarnya sambil tersenyum kecil. Di tempat itulah ia tidur, makan, dan menjalani sebagian besar harinya. Setiap pagi, sekitar pukul tujuh, ia mulai membuka lapaknya. Satu demi satu pelanggan datang membawa sepatu yang rusak. Ada yang solnya lepas, ada yang jahitannya robek, bahkan ada yang nyaris tak berbentuk. Malam hari, lapaknya tetap terbuka, ditemani lampu bohlam kecil yang menggantung di atas kepalanya. “Kadang jam sebelas malam baru tutup, kadang jam satu. Kalau masih ada pelanggan, ya lanjut aja,” katanya.
Harga jahitannya pun tergolong murah. “Kalau jahit biasa sepuluh ribu, kalau agak susah lima belas ribu,” jelasnya. Ia tak banyak mematok harga tinggi, sebab sebagian besar pelanggannya adalah mahasiswa dan warga sekitar. “Kalau orang kaya jarang mau betulin. Katanya benangnya kelihatan,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Meski begitu, Baharuddin tetap bekerja sepenuh hati. Ia selalu memastikan setiap jahitan kuat dan rapi sebelum sepatu dikembalikan. “Yang penting orangnya senang, sepatunya enak dipakai. Saya gak mau asal-asalan,” katanya mantap.
Dalam bekerja, ia tak sekadar menjahit sepatu, tapi seolah menjahit kepercayaan dari orang-orang yang datang.
Pekerjaan ini memang menuntut ketelatenan. Tantangan terberat baginya adalah ketika harus menambah karet tapak di bawah sepatu. “Harus pas betul biar kuat. Ada yang kecil, ada yang besar,” jelasnya.
Tangan yang mulai berkeriput itu sudah terbiasa dengan pekerjaan berat. Meski jarinya terkadang luka terkena jarum, ia tak pernah mengeluh. Pendapatannya memang tak menentu. “Kadang ramai, kadang sepi. Kayak air laut, pasang surut,” ujarnya lagi. Namun baginya, cukup adalah rezeki. “Gak berlebih, tapi gak sampai kekurangan juga,” tambahnya.
Sudah dua puluh lima tahun ia bertahan, di tengah gempuran zaman yang serba instan. Ketika banyak orang lebih memilih membeli sepatu baru ketimbang memperbaiki yang lama, lapak Baharuddin tetap punya pelanggan setia. Bahkan, di kampung halamannya, orang-orang masih sering menunggu kepulangannya hanya untuk memperbaiki sepatu mereka. “Masih banyak yang butuh tukang jahit sepatu,” katanya bangga.
Meski sederhana, kehidupan Baharuddin adalah potret keuletan yang nyata. Ia tidak hanya menjahit sepatu, tetapi juga menambal harapan di setiap langkah orang lain. Di wajahnya yang teduh terselip rasa syukur yang tulus. “Doain aja semoga lancar,” katanya pelan, menutup percakapan sore itu.
Ketika matahari mulai tenggelam di balik kampus dan jalanan Darussalam perlahan sepi, Baharuddin masih duduk di kursinya. Di bawah cahaya bohlam yang temaram, ia melanjutkan jahitan terakhir hari itu. Di sudut kecil yang mungkin tak banyak orang perhatikan, seorang penjahit sepatu terus bekerja, menjaga satu hal yang mulai langka di zaman ini, ketekunan dan keikhlasan.
Penulis bernama Nurul Asya Salda, Mahasiswi Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala.
Editor: Sara Salsabila









