Beranda Feature Pocut Baren, Cahaya Abadi Perempuan Aceh

Pocut Baren, Cahaya Abadi Perempuan Aceh

BERBAGI
Ilustrasi (M. Iqmal Pasha/DETaK)

Feature | DETaK

Di sebuah desa kecil bernama Tungkop yang terletak di pedalaman Aceh Barat, seorang bayi perempuan hadir ke dunia dan kelak menjadi simbol keberanian, pengetahuan, dan tekad. Namanya Pocut Baren, putri seorang ulama terkenal bernama Teuku Cut Amat. Sejak kecil, Pocut Baren dibesarkan dalam lingkungan yang tidak hanya kaya akan ajaran agama tetapi juga adat istiadat dan nilai-nilai kehormatan. Ia mempelajari Al-Quran, mempelajari hukum Islam, dan dididik untuk mengikuti teladan kepemimpinan keluarganya yang cemerlang.

Perang Aceh melawan penjajah Belanda telah menyebar ke seluruh negeri. Orang-orang kehilangan rumah, keluarga, dan keamanan mereka. Tetapi seringkali, bahkan di masa-masa tergelap sekalipun, akan ada cahaya yang bersinar. Cahaya itu dalam hal ini adalah perempuan Aceh, dan salah satunya adalah Pocut Baren.

Iklan Souvenir DETaK

Kecerdasannya tajam, menembus sekat-sekat tradisi. Ia bukan sekadar putri bangsawan, melainkan perempuan berilmu yang disegani. Di tengah kaumnya, Pocut Baren dikenal sebagai ulama muda yang mendedikasikan diri untuk mendidik perempuan dan anak-anak, mengajarkan bukan hanya hukum Islam, tetapi juga nilai-nilai kehidupan. Namun ketika perang kian membara dan tanah kelahirannya terancam, ia memilih meninggalkan kenyamanan rumah dan melangkah ke garis depan pertempuran.

Ia kemudian terjun langsung ke medan perlawanan dan menjadi bagian dari barisan militan. Sejumlah sumber lokal bahkan menyebutkan bahwa Pocut Baren kemungkinan bertempur bersama Cut Nyak Dhien, pahlawan perempuan Aceh yang paling dikenal dalam sejarah perlawanan terhadap Belanda. Ketika suaminya, seorang pemimpin pasukan, gugur dalam pertempuran, Pocut Baren tidak memilih mundur. Ia justru mengambil alih peran tersebut, memimpin sekitar tiga puluh pengawal laki-laki dan menjaga bara pemberontakan tetap menyala di rimba Aceh Barat.

Pocut Baren dikenal mahir menggunakan peudeung – pedang Aceh yang melambangkan keberanian. Selain memberi perintah dari belakang, ia juga berada di sana bersama pasukan, menjalankan taktik gerilya, saat mereka bergerak dari satu tempat ke tempat lain, ia melawan serangan musuh di tanahnya. Karena keberaniannya, ia dihormati oleh rakyat dan ditakuti oleh Belanda, namun, perjuangannya melawan Belanda tidak pernah mudah.

Pada suatu kesempatan, ia tertembak di kaki saat pertempuran. Lukanya sangat parah, memburuk, dan akhirnya, Belanda berhasil menangkapnya. Ia dibawa ke Kutaraja (Banda Aceh) dan karena kondisi medis yang rumit, kakinya diamputasi. Namun, semangatnya tidak patah meskipun kehilangan kakinya.

Pocut Baren dibawa kembali ke desanya setelah dibebaskan. Ia menjalani hidup yang lebih tenang tetapi tetap mempertahankan pengaruhnya. Ia memberi informasi kepada masyarakat, mengajarkan agama, menulis puisi perjuangan, dan menjadi guru bagi perempuan yang haus akan ilmu. Ia tak lagi memiliki pedang, tetapi ia menggunakannya sebagai simbol, menjadi seorang guru dan ulama, menunjukkan bahwa perjuangan juga dapat dilakukan dengan cara yang berbeda.

Seiring waktu, kisahnya berubah menjadi legenda lokal. Anak-anak Tungkop tumbuh besar mendengarkan cerita tentang keberanian Pocut Baren, bagaimana ia tak pernah menyerah bahkan ketika tubuhnya sendiri hancur oleh perang. Sebuah jalan di Banda Aceh menyandang namanya, dan makamnya di Tungkop kini menjadi saksi bisu perjalanan panjang wanita yang siap mengorbankan segalanya untuk tanah kelahiarannya.

Meskipun ia bukan salah satu pahlawan besar yang tercatat dalam buku sejarah nasional, Pocut Baren masih sangat hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Aceh. Ia adalah bukti bahwa keberanian dapat datang dari perempuan, sama seperti dari laki-laki, dan bahwa perjuangan tidak selalu didokumentasikan oleh pemerintah. Terkadang, pahlawan adalah mereka yang bertahan dalam cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Kisah Pocut Baren menunjukkan bahwa menjadi pahlawan bukanlah soal meraih kemuliaan, melainkan memiliki keberanian untuk mengambil keputusan yang tepat meskipun berisiko. Ia menunjukkan bahwa perempuan juga mampu memimpin, mengajar, menginspirasi, dan berpengaruh.

Hari ini, saat kita menelusuri kembali kisahnya, kita diingatkan akan pentingnya semangat perjuangan. Seperti Pocut Baren, kita dapat melawan segala bentuk ketidakadilan, baik melalui pengetahuan, keberanian, atau pengorbanan. Pada akhirnya, setiap tindakan kebaikan kecil adalah bagian dari perjuangan yang lebih besar yang mengarah pada terciptanya sejarah yang layak dikenang.

Penulis adalah Muhammad Nazar, Mudahdiniko, Syarif Meutuah Syaqif, Muhammad Dzaki Hafizhi, dan Bismi Muhammad Mufti, mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Program Studi Bahasa Inggris, Universitas Syiah Kuala.

Editor : Zarifah Amalia