Beranda Cerpen Waktu Aku Hampir Menyerah

Waktu Aku Hampir Menyerah

BERBAGI
Ilustrasi.(Musfirah(AM)/DETaK)

Cerpen | DETaK

Langit mulai menggelap, seolah ikut lelah menatap barisan mahasiswa yang berhamburan keluar dari kelas. Aruna duduk di anak tangga paling bawah, memeluk lutut sambil menatap lantai yang penuh jejak kaki. Di tangannya ada botol air setengah kosong, bekas ujian yang belum sempat dia rayakan, atau mungkin malah dia sesali.

“Udah selesai?” tanya seseorang di belakangnya.

Iklan Souvenir DETaK

Aruna menoleh, melihat Laras, teman sekelas yang selalu tampak ceria meski tugas menumpuk. “Selesai sih,” jawab Aruna pelan, “tapi kayaknya aku nggak benar-benar selesai.”

Laras duduk di sampingnya tanpa banyak tanya. Hening sejenak. Hanya terdengar langkah-langkah yang makin jarang, dan desiran angin sore yang lembut. Di antara suara itu, Aruna tiba-tiba merasa semuanya terlalu berat. Bukan hanya ujian tadi, tapi juga hari-hari yang terus menuntut untuk kuat.

“Capek ya?” Laras akhirnya bertanya.

Aruna mengangguk pelan. “Capek banget. Kayak apa pun yang aku lakuin, hasilnya selalu kurang. Tugas, laporan, organisasi, semuanya numpuk. Aku cuma pengin berhenti sebentar… tapi dunia nggak ngizinin.”

Laras tersenyum tipis. “Mungkin dunia nggak nyuruh kamu berhenti. Cuma pengin kamu pelan-pelan.”

Ucapan itu sederhana, tapi menampar lembut. Aruna menunduk, memainkan tutup botolnya. Ia tak tahu sejak kapan dirinya menuntut kesempurnaan dari segala hal, bahkan untuk hal-hal yang seharusnya cukup dijalani.

“Pelan-pelan, ya?” gumam Aruna.

“Iya. Kadang bertahan nggak harus sekuat itu. Cukup tahu kapan harus berhenti sebentar, lalu lanjut lagi.”

Aruna menatap ke langit yang hampir gelap sepenuhnya. Ada rasa hangat yang perlahan tumbuh, meski lelahnya belum hilang. Tapi mungkin, memang begitu cara hidup bekerja — bukan tentang selalu kuat, tapi tentang tetap berjalan, meski sambil terengah-engah.

Sore itu, Aruna akhirnya berdiri. “Laras, mau temenin aku ke kantin?”

Laras mengangguk cepat. “Asal traktir tahu goreng,” katanya sambil tertawa kecil.

Aruna ikut tertawa. Untuk pertama kalinya hari itu, tawa kecilnya terasa seperti napas baru — tanda bahwa meski capek, ia masih mau bertahan.

*****

“Hidup ini rasanya kayak diulang terus,” kata Aruna sambil menatap luar jendela. “Tidur cuma dua jam, bangun, kuliah, laporan, rapat, balik lagi ke kamar. Tapi entah kenapa tetap ngerasa nggak cukup.”

Laras tidak langsung menjawab. Ia tahu Aruna bukan butuh solusi cepat. Kadang orang hanya ingin didengar.

“Tau nggak, Na,” katanya pelan, “aku juga pernah kayak gitu. Tapi waktu itu aku sadar… mungkin aku terlalu sibuk ngejar semua hal, sampai lupa caranya menikmati satu hal.”

Aruna terdiam. Matanya menerawang. Ia tahu Laras benar. Ia terlalu sibuk mengejar nilai, ekspektasi, bahkan pengakuan dari orang lain. Hingga lupa bahwa dulu, alasan ia kuliah bukan untuk jadi yang paling hebat, tapi untuk memahami dunia dengan caranya sendiri.

Malamnya, Aruna pulang ke kos lebih awal. Ia menatap dinding kamar yang dipenuhi sticky note berisi target-target besar: “IPK 3.8”, “Asisten Lab”, “Proposal Kegiatan”, “Lulus Tepat Waktu”. Tapi di antara semua catatan itu, tidak ada satu pun yang bertuliskan “Istirahat”. Tangannya perlahan merobek satu sticky note di pojok atas. Bukan karena menyerah, tapi karena sadar, tak semua ambisi harus dijalankan bersamaan.

Hari-hari berikutnya, dunia tidak tiba-tiba jadi lebih mudah. Ia masih harus menghadapi laporan yang belum selesai, jadwal kuliah yang padat, dan rapat organisasi yang tak kenal waktu. Tapi ada sesuatu yang berubah: ia mulai memberi jeda untuk dirinya sendiri.

Kadang duduk di taman kampus sambil minum es teh, kadang menolak rapat tambahan dengan alasan sederhana, ingin tidur lebih cepat.

Dan anehnya, dunia tetap berjalan.

Sampai suatu sore, saat Aruna sedang menyapu teras kos, ia mendapat pesan dari ibunya:

[“Nak, nggak apa-apa kalau capek. Tuhan nggak nuntut kamu kuat terus. Dia cuma pengin kamu nggak berhenti.”]

Air mata Aruna menetes begitu saja. Pesan itu datang di waktu yang paling tepat, di saat dunia terasa paling berat.

*****

Pagi itu kampus terasa lebih riuh dari biasanya. Spanduk berwarna biru muda terbentang di depan gedung utama:

>> “Inovasi Mahasiswa untuk Negeri — Ajang Ide Kreatif Tahunan FMIPA.” <<

Aruna hanya melihat sekilas saat melewati halaman. Ia bahkan tak punya niat untuk ikut. Tapi Laras — seperti biasa, sudah punya rencana lain.

“Na, kau daftar aja. Bukan buat menang, tapi buat ngerasain lagi rasanya berjuang,” katanya sambil menyerahkan formulir.

“Aku nggak punya ide, Lar.”

“Siapa bilang harus hebat dulu baru mulai? Kadang ide datang pas kau udah berani coba.” Aruna mendengus, tapi mengambil juga formulir itu.

Dan malamnya, tanpa sadar ia menulis konsep sederhana: “Kelas Belajar Gratis untuk Anak Nelayan di Pinggir Kota.” Bukan proyek besar, hanya gagasan kecil yang pernah ia pikirkan waktu pulang kampung dulu, saat melihat anak-anak bermain di tepi laut dengan buku lusuh di tangan.

Beberapa hari kemudian, proposalnya diterima. Ia kaget. Bahkan sempat ingin mundur. Tapi Laras dan Dika — yang belakangan makin sering membantunya — meyakinkan Aruna untuk lanjut.

“Kau punya hati yang tulus, Na. Kadang itu lebih penting dari ide yang rumit,” kata Dika.

Persiapan lomba berjalan tak mudah.

Ia harus bolak-balik ke fakultas, menyusun laporan, mempresentasikan di depan dosen pembimbing. Beberapa kali Aruna nyaris menyerah, apalagi ketika salah satu juri menyebut,

“Konsep kamu terlalu sederhana. Apa bisa dampaknya nyata?”

Kalimat itu menampar keras. Malamnya ia menangis diam-diam di kos, menatap layar laptop yang penuh revisi merah.

Tapi sebelum ia menutup semua, pesan Laras masuk:

[“Na, kalau kamu berhenti cuma karena kata orang, kamu lupa alasan kenapa mulai.”]

Ia menatap kalimat itu lama. Lalu menarik napas panjang, menulis ulang semuanya dari awal.

Hari penilaian tiba. Aula kampus penuh dengan kelompok dari berbagai jurusan. Sebagian tampil dengan alat teknologi rumit, sebagian lagi membawa grafik dan prototype besar.

Aruna hanya membawa papan kecil berisi foto-foto anak-anak yang tersenyum di tepi pantai, dan cerita singkat tentang kegiatan belajar yang ia dan teman-temannya jalankan setiap akhir pekan.

Ketika tiba gilirannya, Aruna melangkah ke depan. Tangannya sempat gemetar, tapi kali ini bukan karena takut gagal — tapi karena sadar, apa yang ia bawa bukan sekadar ide, tapi bagian dari dirinya.

“Aku bukan datang untuk pamer prestasi,” katanya pelan di depan juri. “Aku cuma ingin menunjukkan kalau sekecil apa pun langkah kita, kalau dilakukan dengan niat baik, tetap bisa berarti buat orang lain.”

Suasana ruangan hening. Beberapa juri saling pandang.

Dan saat ia selesai bicara, terdengar tepuk tangan bukan meriah, tapi tulus. Tepuk tangan yang membuat matanya berkaca-kaca.

Sore itu, Aruna kembali duduk di tangga fakultas. Tempat yang sama di mana dulu ia hampir menyerah. Menatap langit yang kembali berwarna jingga, serta angin sore mengibaskan rambutnya pelan.

Laras datang membawa dua gelas es teh. “Gimana tadi?” Aruna tersenyum kecil. “Entah menang atau nggak. Tapi aku bahagia.” “Lihat kan? Kadang yang kita butuh bukan hasilnya, tapi perasaan bahwa kita nggak berhenti.”

Mereka diam sejenak, menikmati senja.

Aruna menatap jauh ke arah matahari yang hampir tenggelam. Kali ini, hatinya tenang.

Mungkin hidup memang nggak selalu ringan. Akan ada masa kita capek, kecewa, bahkan hampir menyerah. Tapi selama masih punya keberanian untuk mencoba, sekecil apa pun — itu sudah cukup.

Malamnya, sebelum tidur, Aruna menulis satu catatan kecil untuk dirinya sendiri di sticky note yang baru:

{“Aku nggak harus sempurna, cukup terus berjalan.”}

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian waktu, ia tertidur bukan karena lelah, tapi karena damai.

Penulis bernama Musfirah, Mahasiswi Program Studi Statistika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Syiah Kuala.

Editor: Sara Salsabila