Cerpen | DETaK
Di halte yang cat birunya mulai mengelupas, Raina menghitung sisa uang di dompetnya untuk ketiga belas kali pagi itu. Dua lembar sepuluh ribuan, tiga ribu dalam bentuk receh, dan secarik kertas tagihan UKT yang angkanya terasa lebih tajam daripada pisau. Angin meniup helaian rambut ke wajahnya, tetapi ia terlalu sibuk menahan air mata untuk peduli. Dari dalam tas, sebuah amplop putih kusut menyembul di antara buku-buku skripsi. Itulah surat ke tiga puluh tujuh untuk ayahnya—lelaki yang bahkan tak punya alamat lagi di dunia ini.
Bus kota berhenti dengan rem berdecit di depannya. Beberapa penumpang turun tergesa, sebagian lain naik sambil menunduk menatap layar ponsel masing-masing. Raina tidak bergerak. Jika ia naik sekarang, ia akan sampai di kampus tepat waktu—tepat waktu untuk mendengar bahwa namanya resmi diblokir dari sidang skripsi karena tunggakan semester terakhir.

Ponselnya bergetar. Pesan dari Ibu masuk tanpa foto profil, seperti biasa.
Jangan pulang siang ini. Ibu baik-baik saja. Fokus urus kuliahmu.
Raina menutup mata. Kalimat baik-baik saja dari ibunya selalu berarti sebaliknya.
Tangannya meraih amplop di dalam tas. Di pojok kanan atas tertulis angka 37 dengan tinta hitam yang mulai memudar. Ia membuka lipatannya perlahan, seolah takut harapan terakhir ikut robek bersama kertas itu.
Yah, kalau hari ini aku menyerah, apa Ayah akan marah?
Bus kota kembali berhenti untuk kedua kalinya. Kali ini, entah keberanian dari mana datangnya, Raina melangkah naik. Ia memilih kursi paling belakang dekat jendela. Sepanjang perjalanan, ia hanya menatap keluar. Seorang anak kecil di bangku depan tertawa sambil memeluk lengan ayahnya.
Raina iri.
Bukan pada tawa itu, melainkan pada kesempatan untuk masih memilikinya.
Ia turun dari bus dengan langkah yang terasa lebih berat dari biasanya. Gerbang kampus berdiri megah di hadapannya, tetapi pagi itu bangunan-bangunan tinggi, taman rapi, dan mahasiswa yang berlalu-lalang justru tampak asing. Seolah tempat itu hanya menerima mereka yang datang tanpa beban.
Raina berjalan cepat menuju fakultas sambil menundukkan kepala. Ia tahu beberapa teman seangkatannya sedang bersiap menghadapi sidang skripsi minggu depan. Sebagian sibuk revisi, sebagian lain bercanda soal pakaian yang akan dikenakan saat ujian nanti. Raina hanya membawa tas lusuh yang berisi amplop dan kecemasan.
Baru saja ia menaiki tangga menuju lantai dua, suara berat memanggil namanya.
“Raina.”
Langkahnya terhenti. Di ujung lorong, Pak Damar dengan map merah di tangan. Wajah dosen pembimbingnya itu seperti biasa, datar dan sulit untuk diterka.
“Bapak sudah mencari kamu sejak minggu lalu. Kenapa sulit dihubungi?”
Raina menggenggam tali tasnya erat. “Maaf, Pak. Saya… sedang ada kendala.”
Pak Damar membuka map di tangannya. “Kendala yang mana? Revisi bab empat belum selesai, administrasi belum lunas, dan jadwal sidang tinggal beberapa hari.”
Beberapa mahasiswa yang duduk di lorong mulai melirik juga berbisik dengan lawan bicaranya. Raina merasakan panas menjalar ke wajahnya.
“Saya akan usahakan, Pak.”
“Usahakan?” suara pak Damar sedikit meninggi. “Kampus tidak berjalan dengan kata usahakan, Raina. Semua ada aturan.”
Lorong mendadak terasa sempit. Suara tawa dari kejauhan, langkah kaki dan percakapan mahasiswa lain berubah seperti suara dengung yang menekan kepalanya.
“Kalau sampai Jumat pembayaran belum selesai,” lanjut pak Damar, “nama kamu saya coret dari daftar sidang periode ini.”
Kalimat itu jatuh seperti palu.
Raina menunduk, berusaha menjaga suaranya tetap utuh. “Baik, Pak.”
Pak Damar menatapnya sejenak, lalu meninggalkannya tanpa menambah kata.
Begitu langkah dosen jauh, bisik-bisik langsung terdengar samar di pendengaran Raina.
“Kasihan ya.”
“Ternyata belum bayar.”
“Padahal pinter….”
Raina ingin berbalik dan mengatakan bahwa ia juga lelah dikasihani. Namun tenggorokannya terasa penuh oleh sesuatu yang tidak bisa keluar.
Ia melangkah ke toilet lantai dua, mengunci salah satu bilik, lalu menutup mulutnya sendiri agar isaknya tak terdengar. Dari dalam tas, amplop putih itu kembali ia keluarkan.
Yah, hari ini aku dipermalukan lagi. Aku tahu Pak Damar hanya menjalankan aturan, tapi kenapa rasanya seperti seluruh dunia menudingku?
Setetes air mata jatuh tepat di atas tulisan tangannya sendiri, membuat tinta sedikit luntur.
“Kalau Ayah masih ada, mungkin aku tidak perlu sekuat ini sendirian,” batin Raina.
Setelah dirinya merasa lebih tenang, ia keluar dari bilik, disana ia melihat temannya berdiri sambil menatap bilik yang baru saja Raina keluar darinya. Raina terkejut. “Ada apa, Ara? Kenapa kamu menatapku begitu?”
“Kamu yang kenapa, Raina.”
“Aku gak kenapa-napa,” balas Raina tak acuh.
“Aku mau pulang dulu ya, sampai jumpa, Ara.”
“Rai!” panggil Ara dengan suara sedikit lebih tinggi dari sebelumnya.
Langkah Raina terhenti. Tapi tidak menoleh.
“Kamu kalau ada masalah cerita ke aku, Rai. Kamu selalu dengerin cerita aku tapi kamu… kamu ga pernah cerita apapun ke aku. Aku sedih, Rai. Aku dengar semuanya tadi. Aku tahu kamu capek,” lanjut Ara, kali dengan suara yang lebih pelan. “Dan aku tahu kamu selalu pura-pura kuat.”
Raina memejamkan mata. Kalimat itu justru lebih menyakitkan daripada bentakan siapa pun pagi itu.
Ia berbalik perlahan. Ara berdiri beberapa langkah darinya, membawa map sidang berwarna merah muda yang biasanya selalu dijaga rapi. Mata sahabatnya itu tampak basah.
“Aku beneran nggak apa-apa, Ara.”
“Kamu bohong.” Ara mendekat. “Dari semester satu kamu selalu bilang kamu nggak apa-apa. Waktu ayahmu meninggal, kamu bilang nggak apa-apa. Waktu kamu kerja malam terus paginya masuk kuliah, kamu bilang nggak apa-apa. Sekarang, kamu hampir gagal sidang pun kamu masih bilang nggak apa-apa?”
Raina menunduk. Ia merasa seluruh tenaga yang sejak tadi dipaksanya berdiri mulai runtuh sedikit demi sedikit.
“Aku cuma nggak mau merepotkan siapa-siapa.”
“Kamu itu temanku, Rai.” Suara Ara bergetar. “Teman bukan cuma ada untuk tertawa bareng di kantin atau di kelas.”
Untuk pertama kalinya hari itu, Raina tak sanggup lagi bertahan. Air mata yang sejak tadi dibendungnya akhirnya jatuh. Ia menutup wajah dengan kedua tangan, sementara bahunya bergetar pelan.
Ara segera memeluknya.
Isak Raina pecah tanpa suara, seperti bendungan yang retak setelah terlalu lama menahan banjir.
“Aku takut, Ra,” ucapnya tersendat. “Kalau aku nggak bisa bayar, aku nggak bisa sidang. Kalau aku nggak sidang, Ibu pasti nyalahin diri sendiri. Aku capek… capek sama semuanya.”
Ara mengusap punggungnya perlahan. “Kenapa nggak cerita dari dulu?”
“Karena aku juga nggak tahu harus mulai dari mana. Masalahku terlalu banyak untuk diceritakan.”
Beberapa saat mereka hanya diam. Hanya terdengar suara keran menetes dari sudut toilet dan isak yang perlahan mereda.
Ara melepas pelukannya, lalu merogoh tas. Ia mengeluarkan amplop coklat kecil dan menyerahkannya pada Raina.
“Ini ambil dulu.”
Raina mengernyit. “Apa ini?”
“Tabunganku. Nggak banyak tapi cukup untuk membantumu ikut sidang.”
Raina langsung menggeleng keras. “Nggak, Ra. Aku nggak bisa.”
“Bisa.”
“Enggak, Ra. Aku nggak mau jadi beban.”
Ara menatapnya tajam. “Denger ya, menerima bantuan dari orang yang sayang sama kamu itu bukan jadi beban.”
Kalimat itu membuat dada Raina sesak kembali.
“Tapi aku malu.”
“Lebih malu mana? Pinjam ke teman atau gagal sidang yang sudah kamu perjuangkan selama empat tahun ini?”
Raina terdiam.
Tangannya bergetar saat menerima amplop itu. Rasanya hangat, mungkin sejak tadi Ara menggenggamnya dengan erat.
“Balikin kalau kamu sudah mampu,” kata Ara sambil tersenyum kecil. “Kalau belum mampu, traktir aku makan bakso aja pas kamu wisuda.”
Raina tertawa kecil di sela air mata. Tawa pertamanya hari itu.
Ponselnya kembali bergetar.
Pesan dari Ibu.
Ibu di puskesmas. Jangan panik. Cuma pusing sedikit.
Dunia Raina seperti kembali runtuh.
Ia menatap Ara dengan wajah pucat.
“Ibuku…” suaranya tercekat.
Ara langsung menggenggam tangannya. “Kita kesana sekarang.”
Raina menatap sahabatnya, lalu ke amplop di tangannya, lalu ke surat kusut dalam tasnya.
Untuk pertama kali setelah sekian lama, ia merasa mungkin… ia tidak benar-benar sendirian.
Di perjalanan menuju puskesmas, Raina tak banyak bicara. Ara duduk di sampingnya sambil sesekali menggenggam punggung tangannya, seolah takut Raina kembali runtuh jika dilepas sedikit saja. Jalanan siang itu macet dan panas, tetapi kepala Raina justru dipenuhi dingin yang aneh.
Sesampainya di puskesmas, ia berlari menuju ruang pemeriksaan. Ibu duduk di ranjang pasien sambil tersenyum lemah. Wajahnya pucat, tetapi masih berusaha terlihat tenang.
“Kamu ngapain ke sini? Harusnya di kampus,” tegur ibunya pelan.
Raina menahan air mata. “Aku lebih butuh di sini.”
Dokter mengatakan ibunya hanya kelelahan dan kurang makan teratur. Tidak ada yang berbahaya, tetapi harus banyak istirahat. Mendengar itu, napas Raina sedikit lega. Namun rasa bersalah justru tumbuh semakin besar.
Selama ini ia sibuk mengejar kelulusan, sementara ibunya diam-diam memaksa tubuh sendiri untuk tetap kuat.
Setelah memastikan ibunya mendapat obat dan bisa pulang sore nanti, Raina keluar dari puskesmas. Ara pamit karena harus kembali ke kampus. Sebelum pergi, sahabatnya itu memeluk Raina erat.
“Jangan ngilang lagi,” katanya.
Raina mengangguk. “Makasih, Ra.”
“Untuk segalanya,” batinnya.
Langit siang mulai redup ketika langkah Raina berbelok ke jalan kecil yang tak asing. Jalan menuju pemakaman umum di pinggir kota. Rumput liar tumbuh di beberapa sisi, dan aroma tanah basah menguar tipis setelah hujan semalam.
Sudah lama ia tidak datang. Terlalu sibuk, terlalu lelah, atau mungkin terlalu takut jika harus jujur pada dirinya sendiri.
Makam ayahnya berada di bawah pohon ketapang tua. Batu nisannya sederhana, cat namanya mulai pudar dimakan waktu. Raina duduk perlahan di samping pusara itu, menaruh tas di pangkuan.
“Halo, Ayah.”
Suaranya kecil, nyaris tenggelam oleh angin.
Ia membuka tas dan mengeluarkan setumpuk amplop putih yang selama ini selalu dibawanya ke mana-mana. Surat pertama, kedua, ketiga, sampai surat ke tiga puluh tujuh. Semua kusut, sebagian menguning di sudut-sudutnya.
Tangannya bergetar saat membuka surat paling lama.
Yah, hari ini aku diterima kuliah. Ibu menangis lebih keras dariku. Aku janji akan belajar sungguh-sungguh.
Raina tersenyum kecil.
Surat berikutnya.
Yah, aku dapat nilai jelek hari ini. Tapi aku bakal coba lagi.
Lalu surat lain.
Yah, hari ini aku capek sekali.
Dan surat lain lagi.
Yah, aku kangen.
Satu per satu ia membaca semuanya. Tentang hari-hari ketika ia bahagia, ketika gagal, ketika kehilangan arah, ketika pura-pura kuat. Tentang malam-malam saat ia menulis sambil menangis diam-diam agar ibunya tak mendengar. Tentang segala hal yang tak sempat ia ceritakan kepada siapapun.
Sampai akhirnya ia membuka surat terakhir. Surat ke tiga puluh tujuh.
Yah, kalau hari ini aku menyerah, apa Ayah akan marah?
Raina menatap tulisan itu lama. Lalu ia menggeleng pelan sambil tersenyum pahit.
“Aku nggak jadi menyerah, Yah,” bisiknya lirih. “Aku harus membuat Ibu bangga. Setelah semua luka dan lelah yang ia sembunyikan demi membawaku sampai sejauh ini.”
Air matanya jatuh, tetapi tak lagi terasa seberat pagi tadi.
Ia merapikan seluruh surat itu, lalu meletakkannya di atas pusara ayahnya. Ditindih batu kecil agar tidak terbang ditiup angin.
“Selama ini aku pikir surat-surat ini nggak pernah sampai,” bisiknya. “Ternyata yang belum sampai itu cuma aku… aku belum sampai pada ikhlas.”
Angin berhembus lembut, menggerakkan helaian rambut di sisi wajahnya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dadanya terasa lapang. Seolah segala beban yang selama ini ia bawa dalam tas, dalam kepala, dan dalam hati, pelan-pelan ikut tertinggal di tempat itu.
Raina berdiri. Menatap sekali lagi nama ayahnya di batu nisan.
“Doakan putrimu lancar sidang, ya, Ayah.”
Lalu ia berbalik dan berjalan pulang.
Langkahnya masih pelan, tetapi tak lagi berat seperti pagi tadi.
Di belakangnya, surat-surat itu tetap diam di atas makam. Untuk pertama kalinya, Raina tak membawanya kembali.
Penulis bernama Musfirah, Mahasiswi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Program Studi Statistika, Universitas Syiah Kuala.
Editor: Naisya Alina










