Cerbung | DETaK
Telah lebih dari 2 jam suara hembusan nafas dan hentakkan kaki cepat menggema di ruang latihan yang sepi. Namun, meski telah menggema sekian lamanya, tiada tanda-tanda kedua suara tersebut akan berhenti, seolah-olah waktu 2 jam hanya angin lalu bagi sang penciptanya. Kedua suara tersebut pun baru mulai mereda setelah 45 menit berlalu. Hal itu diakibatkan sosok yang sibuk berlatih di malam hari ini sedang beristirahat dengan duduk di bangku kosong yang terletak di pinggir ruang latihan. Suara tegukan terburu-buru menjadi tanda, bahwasanya sosok yang telah berlatih selama hampir 3 jam ini sangat kehausan. Dengan cepat seteguk botol yang berisikan air pun habis. Menyisakan suara hembusan nafas terengah-engah yang perlahan menjadi stabil.
Dengan stabilnya suara hembusan nafas tersebut, hanya keheninganlah yang tersisa. Tetapi, berbeda dari hal biasa, dimana keheningan dianggap negatif. Keheningan kali ini mungkin lebih dapat dikatakan positif. Karena sosok tersebut terlihat menikmati sunyi suasana dan indahnya malam. Seolah kesunyian tersebut telah meringankan beban di dalam dirinya. Setelah beristirahat beberapa saat, ia mengambil sword-nya yang tergeletak di sebelahnya dan kembali berlatih. Namun, hal itu tidak berlangsung sampai setengah jam. Sang sosok pun hanya bisa melangkah kesal, membuka mask-nya sambil menenteng sword-nya dan dengan terburu-buru melepas pakaiannya.

Glove, sous plastron, chest plate dan terakhir socks semua ia tanggalkan dengan cepat dari badannya sebelum berganti ke jaket yang bertuliskan team Belgium sebelum memasukkan perlengkapan latihannya ke dalam tasnya. Setelah menyimpan semua alatnya ke dalam tasnya, ia berjalan menuju ke arah pintu keluar, yang kemudian berhenti untuk berbalik, mengambil sebuah box. Box tersebut ia letakkan di sudut ruangan untuk menghindari kecelakaan yang dapat merusak benda di dalamnya. Barang itu sangat mudah pecah, sehingga ia tidak ingin mengambil risiko. Mengingat barang tersebut merupakan titipan seseorang terhadap ibunya, coach Margaret.
Verto, yang sebelumnya berdiri, melangkah berbalik sambil membawa box tersebut ke arah tempat duduk. Dan dengan sigap membukanya, begitu ia mendudukkan dirinya. Mata birunya dengan cepat menangkap tembikar berwarna biru tua abstrak indah dengan model waves yang melintang vertikal miring, disertai dengan pegangan di satu sisi, bagaikan pegangan cangkir. Satu kata yang dapat Verto pikirkan ketika melihat tembikar tersebut. Indah. Sangat indah. Meskipun, sang tembikar memiliki model dan warna seperti laut, namun entah mengapa, Verto dapat melihat indahnya pemandangan malam yang tercermin di dalam tembikar tersebut.
Jika sang pengrajin ingin menangkap pesona laut di langit malam. Maka, sang pengrajin berhasil mengabadikannya ke dalam tembikar ini. Melihat ini, Verto hanya bisa tertawa kecil. Ia tahu ibunya akan sangat menyukai tembikar ini. Kemungkinan besar, ibunya akan langsung memajangnya di ruang pribadinya dan menghiasi tembikar tersebut dengan bunga-bunga kesukaannya serta memandanginya setiap hari. Lagipula, pada dasarnya ibunya memang menyukai karya seni, terutama seni pertunjukkan dan seni rupa. Ibunya adalah orang yang mampu menyempatkan waktunya untuk menonton pertunjukkan ballet dan mengikuti lelang lukisan-lukisan mahal.
Verto kembali memasukkan tembikar tersebut ke dalam kotaknya sambil memikirkan betapa senangnya ibunya terhadap koleksi karya seni barunya. Memikirkan hal tersebut, Verto sendiri telah dibuat sakit kepala, membayangkan betapa ia harus membuang waktunya untuk pergi ke toko bunga yang berada di depan akademi. Jadwal Verto sendiri sebagai seorang atlet sangat padat, sehingga jika ia memiliki waktu luang, ia akan memilih menghabiskan waktunya beristirahat daripada berkeliaran. Tentu saja, sebuah florist kecil masuk ke kategori tempat yang tidak akan ia kunjungi, jika ibu yang mencintai karya seni dan bunga tidak memaksanya untuk keluar dan membelikan buket bunga untuknya.
Memikirkan ibunya, Verto entah mengapa menjadi teringat akan pemilik toko bunga yang telah ia kunjungi sebanyak 3 kali. Hal pertama yang ia sadari dari sang pemilik toko ialah fakta bahwa ia adalah seorang muslim. Bukan karena ia berpikir aneh-aneh. Namun, hanya saja ia tidak pernah melihat seorang muslim sepanjang hidupnya, yang menyebabkan mungkin ia memandanginya begitu lama dan membuat wanita itu kebingungan.
Verto yang sedari awal tidaklah merupakan orang yang mudah berbincang dengan orang lain, semakin bingung untuk menjelaskan kesalahpahaman yang telah tercipta. Akibatnya, ia hanya melengos pergi tanpa berbicara sepatah kata apapun, kepadanya. Awalnya, Verto tidak ingin kembali ke toko bunga tersebut. Namun, atas paksaan dan dorongan keras ibunya. Dengan terpaksa ia pun menyetujuinya. Harapan awal Verto pada kunjungannya yang kedua, ia akan dianggap aneh, yang ternyata berkebalikan. Ialah yang menganggap bahwasanya sang pemiliki toko aneh.
Seorang wanita, berusia akhir 20-an yang didatangi pelanggan tanda sepatah kata apapun dan masih menunjukkan rasa penasaran. Sungguh tidak biasa. Apalagi, tempat ia meletakkan toko bunganya di depan akademi olahraga, yang biasa didatangi oleh beragam atlet dunia yang berasal dari negara yang menganggap muslim sebagai teroris. Seharusnya, ia lebih waspada terhadap orang yang terlihat mencurigakan, terutama pria.
Tanpa memikirkannya lagi, Verto pun beranjak keluar dari tempat latihan dengan menenteng perlengkapannya di satu sisi dan box yang berisikan tembikar biru tua di sisi lainnya.
-Bersambung-
Penulis bernama Riva Alya Najeela, Mahasiswi Program Studi Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Syiah Kuala
Editor: Zalifa Naiwa Belleil










