Opini | DETaK
Hijab merupakan salah satu bentuk ketaatan dalam agama islam yang memiliki makna mendalam. Bagi perempuan muslim, mengenakan hijab bukan hanya untuk menutup aurat, tapi juga menjadi wujud menjalankan syariat dan simbol kehormatan diri. Namun, seiring perkembangan zaman, penggunaan hijab pada kalangan perempuan menunjukkan adanya pergeseran makna yang cukup signifikan. Banyak perempuan yang mengenakan hijab, namun belum sepenuhnya menutup aurat sebagaimana yang diajarkan dalam Islam.
Perkembangan tren di media sosial sangat memengaruhi cara berpakaian tersebut. Berbagai tutorial hijab yang praktis dan stylish memang menarik untuk diikuti. Namun, kemudahan dan estetika tersebut justru lebih diutamakan dibandingkan dengan esensi utama dari hijab itu sendiri. Muncul model pemakaian hijab yang memperlihatkan leher, rambut, dan aksesori anting dengan sengaja agar dapat memenuhi penampilan tertentu. Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana sebenarnya hijab dipahami dan diterapkan saat ini. Mungkinkah hal itu dilakukan bukan karena sengaja, melainkan karena banyak orang yang belum memahami maknanya?

Tidak bisa dipungkiri, masih banyak yang memakai hijab dengan cara dililit tanpa menutup dada serta mengabaikan penggunaan ciput saat berhijab. Akan tetapi, dengan adanya tren hijab yang seakan “membuka celah dalam berhijab” ini bisa terus berkembang tanpa adanya kesadaran, sehingga lambat laun akan dianggap wajar dan menjadi standar baru dalam berpakaian. Padahal, fungsi utama hijab bukan sekadar menutup kepala, melainkan bentuk penjagaan diri dan kepatuhannya terhadap ajaran Islam.
Di sisi lain, muncul pula fenomena hijab sebagai bagian dari citra atau branding di kalangan influencer. Banyak kreator yang selalu tampil berhijab dalam kontennya, namun seiring meningkatnya popularitas, perlahan mereka mulai melepas hijab tersebut. Bahkan, ada yang mengenakan hijab hanya untuk mendapatkan pujian serta peluang endorsement karena citra positifnya tersebut. Hal ini bisa menjadi contoh buruk untuk generasi muda, karena seakan mengaburkan makna hijab yang sebenarnya dan bisa membuat orang lain salah paham akan ajaran terkait hijab. Jadi, apakah hijab masih dimaknai sebagai kewajiban, atau justru mulai bergeser menjadi alat untuk membangun citra diri?
Semua fenomena tersebut tentu menimbulkan beragam reaksi dari masyarakat. Di satu sisi, banyak netizen yang berusaha mengingatkan dengan memberikan saran untuk memperbaiki cara memakai hijab agar lebih menutup aurat, bahkan membuat konten untuk nasihat tersebut. Namun di sisi lain, tidak sedikit pula yang menganggap hal tersebut sebagai urusan pribadi, sehingga mereka beranggapan tidak seharusnya mencampuri cara berpakaian seseorang. Perbedaan pandangan ini sering kali memicu perdebatan di kolom komentar media sosial.
Untuk beberapa waktu terakhir, terlihat adanya pergeseran respons dari netizen. Pada beberapa kasus, terutama ketika yang bersangkutan adalah influencer terkenal atau dianggap memiliki daya tarik visual, komentar yang muncul justru didominasi oleh pujian. Sementara itu, komentar yang berisi pengingat atau kritik perlahan tenggelam. Hal ini menimbulkan pertanyaan lanjutan: apakah standar penilaian mulai berubah? Apakah penampilan lebih diutamakan dibandingkan dengan nilai yang seharusnya dijaga?
Dari fenomena ini, diharapkan para influencer lebih bertanggung jawab dalam membuat konten terkait penggunaan hijab ini. Sebagai penonton pun, kita harus bijak dalam mengikuti tren, terutama yang berkaitan dengan nilai dan ajaran agama. Tidak salah jika kita ingin mengikuti perkembangan zaman, namun jangan sampai menghilangkan makna tentang apa yang kita kenakan.
Pada akhirnya, fenomena ini menjadi refleksi bersama. Hijab bukan sekadar tren atau simbol visual, tetapi memiliki makna yang lebih dalam sebagai identitas spiritual yang menyatu dengan karakter si pemakai. Dapat kita mengerti, tidak semua orang bisa langsung sempurna dalam berhijab. Oleh karena itu, semoga setiap dari kita dapat terus berproses menjadi lebih baik, memperbaiki diri dalam memahami dan menjalankan makna hijab yang sebenarnya, bukan hanya dari segi penampilan, tetapi juga dari nilai yang terkandung di dalamnya.
Penulis bernama Davina Dara Meisya, Mahasiswi Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala
Editor: Husniyyati










