Beranda Cerpen Kata Ibu, Bumi Suka Menangis

Kata Ibu, Bumi Suka Menangis

BERBAGI
Ilustrasi. (Neni Raina Mawaddah/DETaK)

Cerpen | DETaK

Kata Ibu, Bumi suka sekali menangis. Saat itu terjadi katanya, tanah bergejolak, hutan-hutan ribut sementara laut riuh oleh gelombang pasang yang tinggi. Aku sangsi, kukatakan bahwa seumur hidupku yang baru delapan tahun, aku tidak pernah melihat bumi menangis, tetapi langit yang suka menangis, kadang-kadang ia meruntuhkan banyak air dari awan-awan yang orang-orang sebut dengan hujan. Aku suka hujan. Sesekali aku suka berlari-lari bersama Rui ketika hujan, kami saling melempar air, mengadah ke langit dan membuka mulut untuk minum air hujan, bahkan berseluncur di tanah tinggi di samping rumah Rui, aku suka hujan.

Tapi ibu memiliki pendapat berbeda, katanya Bumi selain cengeng dan rewel, ia juga tidak terlalu suka mendengar tangisan anak-anak, memilukan. Bumi takut kalo ia menangis, semuanya akan tenggelam, rumah, makanan lezat, mainan barbie atau mobil-mobilan anak-anak, baju kesayangan mereka, dan kue coklat mereka. Oleh karena itu,alih-alih menangis sendiri, bumi mengirimkan semua air matanya ke langit dengan bantuan Tuan Awan. Tuan Awan memang seperti awan makasudnya ia terlihat baik, murni, polos, dan tembus pandang. Tuan Awan menampung semua air mata bumi. Dan jika langit menangis, Tuan Awan akan melepas seluruh air mata bumi ke bumi. Aku bergumam ‘ohh’ panjang, ibu tersenyum, katanya aku harus senantiasa berterimakasih kepada Bumi.

Iklan Souvenir DETaK

“Tapi kan sama aja ibu, Bumi tetap akan mengenang airnya saat hujan turun, buktinya aku dan Rui selalu melompat-lompat di genangan airnya,” tanyaku heran.

“Itulah gunanya Nona pohon. Nona pohon memiliki akar yang sangat panjang dan dalam, saat Tuan Awan melepas seluruh air mata bumi, maka Nona Pohon yang Tangguh akan menyuruh akar-akarnya menyerap semua air, sehingga air mata bumi tidak menggenang di permukaan, oleh karena itu May kamu tidak boleh mencabut pohon-pohon yang ditanam oleh pak Samad,” kata ibu sambil menjawil hidungku.

Aku terkekeh geli, teringat ekpsresi pak Samad yang marah sekali saat aku mencabut pohon yang berusaha ditanamnya. Sungguh, aku hanya iseng. Aku berjanji tidak akan mencabut lagi pohon-pohon malang itu, karena dia membantu bumi agar air matanya tidak menenggelamkan manusia.

Bumi baik, dia memberikan manusia kehidupan melalui hutan-hutan, sungai-sungai panjang, dan udara bersih, tetapi manusia memang makhluk yang tidak tau diuntung, mereka membalas Bumi dengan menebang pohong, membuang limbah sembarangan ke sungai hingga ikan-ikan mati, dan menciptakan polusi melalui kendaraan-kendaraan mereka. Sebagai anak baik, dan tau cara berterima kasih seperti diajarkan oleh Bapak dan Ibu, aku memutuskan tidak membuang sampah sembarangan, mematikan air dan lampu jika tidak digunakan, dan meminimalisir kendaraan bermotor. Ehhh, tapi aku kan memang belum bisa mengendarai appaun kecuali sepeda merah hati berkeranjangku, berarti tugas ketiga tidak usah dilaksanakan. Soalnya kata Ibu, sepeda tidak menghasilkan polusi udara, malah bagus untuk kesehatan jantung.

Tetapi menurutku, Bumi tidak selalu baik. Buktinya ia membawa serta Ibu ke dalam mulutnya dan melahapnya tanpa sisa kecuali hanya gundukan tanah, dan sepotong batu petak serta nama ibu diukir di atasnya.

Hari itu Minggu, langit kelabu dan menumpahkan hujan yang amat kencang, udaranya sangat menusuk, begitu juga di rumah kami, gelap. Aku turun ke bawah, tidak tercium nasi goreng dan telut dadar khas ibu. Apa ibu ketiduran? Aku ke kamarnya dan kudapati Abang Kai dan Ayah yang sedang menangis tersedu-sedu di samping kasur. Di hadapannya ada ibu yang tidur dan terlihat sedikit pucat, tapi beberapa bulan terakhir ini ibu memang terlihat pucat. Aku heran. Apa ini masih mimpi ya?

Abang Kai menyadari keberadaanku, dia bangkit bergegas memelukku. Ini ada apa ya? Biasanya alih alih memeluk dia akan menjitak kepalaku sebagai sapaan di pagi hari.

Haloo, aku masih di rumah kah, atau ini adalah alien yang menyamar seperti di serial televisi kemarin sore? Air mata bang Kai membasahi tubuhku, aku menjauh, khawatir ingusnya keluar dan ikut mengotori piyama kesayanganku yang dijahit oleh ibu.

“Ibu gak ada lagi May, ibu sudah meninggal,” beberapa kali ia menggumam kata itu. Sedangkan aku bingung apa maksud dari meninggal dan gak ada lagi. Aku masih delapan tahun, kosakataku masih terbatas, selama itu bukan nama makanan atau salah satu permainan, aku tak tahu.

“Memangnya meninggal kemana sih bang, Ibu juga kenapa gak bangun bangun deh, aku kan pengen nasi goreng ibu,” tukasku.

“Ayok abang aja yang masakin kamu nasi goreng,” ia membersit hidung, aku mengerinyit jijik, tapi tetap ku ikuti langkahnya sampai ke dapur, sebenarnya aku ingin menolak, tapi wajahnya bang Kai tidak bisa diajak bercanda, mata dan hidungnya merah. Aku melihat bahu bang Kai dari belakang dan punggung itu terlihat layu, seperti kenangan indahnya diserap oleh Dementor di serial Harry Potter, dan nampaknya juga dia tidak fokus, ia hanya menatap sampai telurnya gosong tanpa membalik, saat ku tepuk pinggangnya dia sadar lalu baru membalik telurnya. Dengan kekacauan yang terjadi, akhirnya nasi goreng kelebihan garam dengan telur dadar kegosongan menjadi sarapanku di kala itu. Bang Kai hanya menggeleng saat kutawari suapan. Aneh sekali perangainya.

Selesai sarapan, Bang Kai menjelaskan. Me-Ning-Gal itu artinya kita ditinggal, kita tak akan pernah berjumpa lagi dengan orang meninggal. Katanya orang yang meninggal akan meninggalkan bumi dan terbang ke surga. Artinya aku tidak akan perenah bertemu ibu lagi . Aku sedih sekali, hatiku pedih. Aku masih belum terlalu mengerti, tapi aku menangis, hatiku sakit saat kata itu terdengar. Tapi kata Bang Kai, nanti di surga kami akan bertemu dengan ibu lagi.

Aku menangis tersedu-sedu, Bang Kai meraupku ke dalam pelukannya. Ia menggendongku ke kamar Ibu. Kulihat ayah terduduk diam di pojok ruangan, tatapannya kosong. Kuhampiri, dan kupegang tangannya, ia menyunggingkan senyum, lalu bergegas memelukku, ia mengusap kepalaku sayang. Air mataku mengalir, ingusku juga yang kubersit di kaos ayah. Ayah tidak marah, dia hanya mengusap kepalaku dan tidak mengatakan kepadaku untuk menghentikan tangisku. Abang Kai ikut memeluk, dan kami berpelukan bertiga.

“Kita Ikhlaskan ibu ya Nak,” kata ayah. Aku tak tau apa arti Ikhlas, tapi Bang Kai menganggukkan kepalanya, maka aku juga mngikutinya.

Siang itu, ibu dikubur, air mataku masih mengalir, orang-orang berdatangan, mereka mengusap bahuku dan bang kai dan berkata ‘yang sabar ya’. Bang kai menganggukan kepalanya dan sedikit tersenyum saat orang-orang berkata begitu, maka aku mengikutinya.

Bumi menelan ibu, ternyata bumi tak baik seperti cerita-cerita yang selalu ibu ceritakan kepadaku menjelang tidur. Bumi tak suka melihat anak-anak menangis karena memilukan, tapi kenyataannya dia tetap mengambil ibu untuk tidur di dalamnya.

Aku sempat sangat membenci Bumi setelah kejadian ini, aku melanggar semua larangan ibu. Aku membuang sampah sembarangan, aku mulai menghidupkan apapun walau tidak digunakan, baik itu air atau lampu atau kipas angin, atau televisi, bahkan paling parah aku mencabut pohon-pohon kecil dan bukan hanya yang ditanam oleh pak Samad, tapi oleh seluruh tetangga, bahkan bunga yang ditanami ibu.

Ayah menasehatiku, katanya Bumi tak patut untuk dibenci, karena dia memeluk dan menjaga raga orang yang telah meninggal sedangkan jiwanya terbang bebas disurga. ‘Seperti tempat transit?” tanyaku. Ayah menggangguk.

“Jadi nak, jika kamu melakukan itu, Ibumu pasti sangat marah, ibu sangat menyukai bumi, dia ikut andil dalam merawatnya. Jadi kamu juga harus seperti itu, memangnya May tidak takut kalo Bumi menangis karena dibenci, ingat kan kata Ibu, Bumi itu cengeng.” Aku menggangguk setuju.

Sejak saat itu, aku mulai berpikir ulang tentang Bumi. Mungkin ia memang tidak selalu terlihat baik di mataku, tapi seperti kata Ayah, ia hanya menjalankan tugasnya, memeluk mereka yang telah pergi, termasuk Ibu. Aku jadi ingat cerita Ibu tentang Bumi yang cengeng, yang tidak suka melihat anak-anak menangis. Mungkin selama ini, bukan hanya aku yang menangis kehilangan Ibu, tapi Bumi juga ikut menangis dengan caranya sendiri. Dan hujan yang turun itu, mungkin bukan sekadar air, tapi juga cara Bumi menenangkan dirinya.

Hari demi hari, aku mulai berhenti marah. Aku kembali membuang sampah pada tempatnya, mematikan lampu saat tidak dipakai, dan tidak lagi mencabut pohon-pohon kecil. Bahkan, aku diam-diam membantu Pak Samad menyiram tanaman. Aku ingin Bumi tidak menangis lagi, atau setidaknya, tidak karena ulahku. Karena sekarang aku tahu, menyayangi Bumi juga berarti menyayangi Ibu tempat di mana ia kini beristirahat dengan tenang.

Dan suatu hari, saat guruku bercerita tentang Hari Bumi, aku tersenyum kecil. Kupikir, mungkin Hari Bumi bukan hanya tentang menjaga alam, tapi juga tentang mengingat bahwa Bumi telah memberi kita begitu banyak rumah, kehidupan, dan bahkan tempat terakhir bagi orang-orang yang kita cintai. Jadi, kalau aku bisa membuat Bumi sedikit lebih bahagia, mungkin suatu saat nanti, saat aku bertemu Ibu lagi, aku bisa bercerita bahwa aku sudah belajar untuk menyayangi Bumi, seperti yang selalu ia ajarkan.

Tulisan ini didekasikan untuk menyambut Hari Bumi. Terima kasih Bumi.

Penulis Bernama Sara Salsabila, Mahasiswi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala.

Editor: Naisya Alina