Beranda Puisi Bangunlah Negeriku

Bangunlah Negeriku

BERBAGI
Grafis. (Husniyyati [AM]/DETaK)

Puisi | DETaK

Di tanah ini, aku belajar mengeja arti rumah,

dari sawah yang retak, dari jalan penuh lubang,

Iklan Souvenir DETaK

dan dari wajah rakyat yang sabar menahan lapar

Negeri ini pernah dijanjikan terang, tapi mengapa bayang-bayang gelap masih setia tinggal?


Aku berjalan di antara suara janji yang rapuh,

melihat bendera berkibar tinggi, namun di bawahnya ada keyakinan yang kian melepuh

ada harapan yang tumbang,

ada mimpi yang ditukar dengan kepentingan


Aku mengkritik bukan karena benci,

tapi karena aku sayang dan sedih dengan keadaan negeri ini.

Seperti ibu menegur anaknya, seperti doa yang lirih di tengah malam,

rinduku adalah luka yang tak ingin sembuh.


Andai kata bisa kusematkan suara,

ingin kukatakan bangunlah negeriku,

jangan biarkan darah juangmu

tersapu oleh derasnya kepalsuan.


Aku tetap di sini, meski hatiku hancur berkeping-keping,

namun cinta ini tak pernah pergi,

ia hanya berubah bentuk menjadi perlawanan,

menjadi harapan dan doa

untuk negeri yang kucinta sepenuh jiwa.

Penulis Bernama Husniyyati, Mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala

Editor: Amirah Nurlija Zabrina