Opini | DETaK
Kasus dugaan korupsi kembali menjadi sorotan publik. Kali ini perhatian tertuju pada Kebun Binatang Surabaya (KBS). Nama Choirul Anwar, sebagai mantan Direktur Utama (Dirut) KBS periode 2016-2024 terseret pada kasus ini. Ia telah ditangkap dan ditahan oleh Kejaksaan Tinggi Jawa Timur pada 21 Juli 2026 pukul 23.00 WIB di kediamannya. Pada proses penyelidikan, korupsi tersebut diperkirakan merugikan uang negara sebesar Rp10,2 miliar dan diduga Rp7,4 miliar dipakai oleh tersangka untuk kepentingan pribadi. Modus yang diduga dilakukan ialah membuat laporan pertanggungjawaban fiktif serta memangkas anggaran yang semestinya dialokasikan untuk pakan dan perawatan satwa.
Dengan terbukanya kasus ini, perhatian masyarakat tidak hanya tertuju pada kerugian negara, tetapi juga pada hewan-hewan yang berada di kebun binatang tersebut. Berbagai berita dan dokumentasi lama kembali beredar di media sosial hingga menjadi perhatian banyak orang. Dari dokumentasi yang tersebar, sejumlah satwa disana terlihat kurus, sakit-sakitan, dan mati. Bahkan, sebagian satwa tampak memakan sampah plastik karena kelaparan.

Berbagai dokumentasi lama kembali beredar di media sosial. Pada 2011, pengunjung merekam harimau yang tampak kelaparan. Tahn 2012, jerapah bernama Kliwon mati dengan sekitar 20 kilogram sampah plastik di lambungnya. Dalam beberapa tahun berikutnya, sejumlah orang utan, singa Afrika, harimau Sumatra, pelikan, hingga kijang juga dilaporkan mati akibat berbagai kondisi yang memprihatinkan. Bahkan, sepanjang 2013-2014 tercatat sekitar 235 satwa mati sehingga media internasional menjuluki KBS sebagai Zoo of Death. Pembahasan lain yang menjadi sorotan adalah kasus anak gajah bernama Dumbo. Pada tahun 2021 silam, Dumbo mati saat berumur 2,5 tahun. Saat itu, pihak manajemen KBS dituding sengaja menutupi persoalan tersebut.
Dari sini dapat kita lihat bahwa sebenarnya KBS telah lama menjadi perbincangan oleh media terkait kondisi satwa yang terlihat buruk di dalamnya. Kilas balik peristiwa tersebut seakan menunjukkan bahwa banyak satwa yang tidak memperoleh pakan yang cukup, kurang mendapatkan perawatan dan tidak dijaga dengan baik. Artinya, kematian satwa bukan selalu disebabkan oleh usia atau faktor umum lainnya, melainkan karena adanya masalah pada tata kelola dan lemahnya pengawasan di lingkungan kebun binatang.
Menanggapi tersebarnya dokumentasi tersebut, manajemen KBS menyatakan bahwa foto-foto yang kembali viral tersebut merupakan dokumentasi lama dan kondisi nyata sekarang satwa terpantau sudah stabil, sehat dan terawat dengan baik. Manajemen menegaskan operasional, pemberian pakan, dan pelayanan medis satwa tetap berjalan sesuai standar kesejahteraan satwa. Tempat wisata ini juga tetap terbuka untuk umum sehingga masyarakat bisa berkunjung kesana. Beberapa media juga sudah mendatangi KBS dan memperlihat kondisinya secara langsung kepada publik.
Terlepas bagaimana keadaan KBS sekarang, dengan beredarnya kasus korupsi ini bisa membuat kepercayaan masyarakat menurun. KBS merupakan Lembaga Konservasi (LK) yang bukan sekedar tempat wisata, melainkan tempat yang bertanggung jawab dan dipercaya untuk merawat, memelihara dan menyelamatkan satwa. Ketika sebuah lembaga memiliki rekam jejak yang buruk, masyarakat akan ragu dengan klarifikasi yang muncul.
Dengan adanya berita ini, kita dapat lihat bahwa satwa juga bisa menjadi korban dari pihak-pihak yang rakus akan keuntungan. Dari banyaknya kasus korupsi, dampaknya paling sering dirasakan oleh manusia. Namun, kita masih dapat menyuarakan hak yang telah dirampas tersebut. Bagaimana dengan hewan? Mereka adalah makhluk hidup yang tidak memiliki kemampuan untuk mengadu, menuntut, atau menyuarakan penderitaannya. Bagi satwa yang hidup di dalam kandang dan tidak bisa keluar dari sana, manusia adalah satu-satunya pihak yang diharapkan mereka untuk memperoleh makanan dan kebutuhan lainnya. Tetapi, manusia yang diberi amanah untuk merawat justru menyalahgunakan anggaran demi ketamakan mereka.
Ketika hak manusia dirampas, masih ada ruang untuk menggugat, memprotes, atau mencari keadilan. Satwa tidak memiliki pilihan tersebut. Mereka sepenuhnya bergantung pada manusia yang diberi amanah untuk merawatnya. Karena itu, korupsi yang menyasar anggaran kesejahteraan satwa bukan sekadar kejahatan terhadap keuangan negara, tetapi juga bentuk pengkhianatan terhadap makhluk hidup yang tidak mampu membela dirinya sendiri.
Kasus ini seharusnya menjadi pengingat bahwa korupsi tidak selalu meninggalakan korban yang mampu bersuara. Di balik setiap rupiah yang diselewengkan, ada satwa yang kehilangan hak untuk hidup layak. Sebab, ketika amanah untuk merawat berubah menjadi kesempatan untuk memperkaya diri, yang mati bukan hanya kepercayaan publik, tetapi juga kehidupan makhluk yang sepenuhnya bergantung pada manusia.
Penulis bernama Davina Dara Meisya, Mahasiswi Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala
Editor: Naisya Alina




![[DETOuR] Papeda, Warisan Kuliner Khas Papua Selatan yang Kaya Rasa dan Makna](https://detakusk.com/wp-content/uploads/2026/08/Davina-Dara-Meisya-Papua-Selatan-100x75.png)





