Beranda Cerbung Même Les Étoiles Meurent en Silence (Bahkan Bintang-Bintang Mati dalam Kesunyian) |...

Même Les Étoiles Meurent en Silence (Bahkan Bintang-Bintang Mati dalam Kesunyian) | Chapter 1

BERBAGI
Ilustrasi. (Neni Raina Mawaddah/DETaK)

Cerbung | DETaK

Chapter 1: La Fille qui Peignait la Tristesse

Di sebuah kota kecil yang nyaris selalu diguyur hujan, tinggal seorang perempuan bernama Éloïse Laurent.
Namanya terdengar indah, seperti nama perempuan dalam novel-novel klasik Prancis yang biasa ia baca diam-diam di perpustakaan umum.

Iklan Souvenir DETaK

Namun hidup Éloïse tidak pernah seindah itu.

Ia tinggal di kamar loteng sempit di lantai paling atas sebuah bangunan tua yang cat dindingnya mulai mengelupas dimakan usia. Tangga menuju kamarnya berbunyi setiap kali diinjak, seolah bangunan itu sendiri lelah mempertahankan hidup.

Pada musim dingin, udara sejuk menyusup melalui celah-celah jendela kayu yang tidak pernah benar-benar tertutup rapat. kadang-kadang, Éloïse tidur sambil mengenakan mantel tebal karena tidak mampu membeli pemanas ruangan.

Namun di tempat sekecil itu, ada dunia lain yang hidup.

Kanvas-kanvas bersandar di dinding. Botol cat minyak memenuhi lantai. Aroma terpentin bercampur kopi yang telah lama dingin, memenuhi udara kamar.

Dan di tengah semua kekacauan itu, Éloïse selalu terlihat hidup ketika melukis. Tangannya bergerak pelan di atas kanvas seperti seekor ular yang sedang meliuk dengan elegan. Ia melukis kesedihan dengan cara yang aneh, terlalu indah untuk disebut menyakitkan, namun terlalu menyakitkan untuk disebut indah.

Perempuan-perempuan dalam lukisannya selalu tampak sepi. Langitnya selalu mendung. Matanya selalu seperti baru selesai menangis. Seolah semua tokoh di dalam lukisan itu sedang menunggu sesuatu yang tidak akan pernah datang.

Kadang orang-orang bertanya padanya, “Kenapa lukisanmu sangat suram?”

Dan Éloïse biasanya hanya tersenyum kecil.

Sebab bagaimana ia bisa menjelaskan bahwa sebagian orang tidak melukis apa yang mereka lihat, melainkan apa yang mereka rasakan setiap hari.

Siang hari, ia bekerja di toko roti kecil dekat stasiun kereta. Tangannya yang biasa memegang kuas kini harus membungkus roti dan menghitung uang receh. Ia berdiri berjam-jam sambil menahan batuk yang semakin sering datang.

Namun, setiap malam, setelah kota mulai sepi dan lampu-lampu toko dipadamkan, ia kembali ke kamar lotengnya.

Kembali pada cat-catnya.

Kembali pada mimpinya.

Ia melukis hingga dini hari, ditemani radio tua yang memutar lagu-lagu Edith Piaf dengan suara pelan di sudut ruangan.

Kadang, ia tertidur di lantai dengan kuas masih berada di tangannya.

Kadang, ia menangis tanpa yang alasan jelas ketika menatap lukisannya sendiri.

Dan kadang, di malam-malam tertentu, ia berdiri di dekat jendela, menatap kota dari ketinggian sambil berbisik,

“Suatu hari nanti… namaku akan ada di galeri besar.”

Kalimat itu terdengar mustahil, bahkan bagi dirinya sendiri.

Namun, mimpi sering kali menjadi satu-satunya alasan seseorang untuk terus melangkah.

Bersambung.

Penulis bernama Husniyyati, mahasiswi Program Studi Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala.

Editor: Naisya Alina