Zalifa Naiwa Belleil & Wanda Amelia Hutasuhut | DETaK
Darussalam-Himpunan Mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota (HMPWK) Universitas Syiah Kuala (USK) menggelar Seminar Nasional Dimension of Urban and Regional Planning (DURP) ke-7 di Aula Perpustakaan Wilayah Aceh, Rabu 4 November 2026. Kegiatan tersebut mengangkat tema “Urban Resilience and Climate Crisis: Rethinking Cities for a Sustainable Future”.
Seminar ini menghadirkan tiga pemateri, yaitu Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Aceh, Marthunis, perwakilan Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), H. Mukhsin Syafi’i, serta Koordinator Program Studi Teknik Geologi USK sekaligus peneliti TDMRC, Ibnu Rusydy.

Dalam pemaparannya, Marthunis membahas ancaman bencana di kawasan perkotaan, seperti banjir dan gempa bumi. Ia juga menekankan pentingnya perencanaan tata ruang yang baik dengan mengadopsi praktik terbaik dari negara lain, salah satunya Singapura.
Sementara itu, Mukhsin Syafi’i menyoroti pentingnya pengurangan risiko bencana dalam membangun ketangguhan perkotaan. Ia turut membahas evaluasi jarak permukiman di kawasan pesisir, penggunaan bangunan evakuasi (escape building), serta penanganan banjir dari wilayah hulu hingga perkotaan.
Ketua Panitia DURP ke-7, Muhammad Fattan Althaf, menjelaskan bahwa seminar tersebut dilatarbelakangi oleh krisis iklim dan bencana hidrometeorologi yang terjadi belakangan ini. Kegiatan ini menjadi ruang diskusi antara pemerintah, akademisi, dan mahasiswa untuk membahas persoalan ketangguhan perkotaan.
“Kami mengundang pihak dari pemerintah daerah, BPBA, dan akademisi TDMRC untuk memberikan pandangan serta mendengarkan aspirasi kritis dari mahasiswa sebagai agent of change,” ujar Fattan.
Ia juga menyebutkan bahwa jumlah pendaftar mencapai 170 orang, melebihi kuota awal sebanyak 150 peserta. Meskipun pendaftaran hanya dibuka selama lima hari, panitia tetap menerima antusiasme peserta dengan menyediakan kursi tambahan.
Fattan berharap seminar tersebut dapat menambah wawasan mahasiswa sekaligus menjadi ruang bagi pemerintah untuk mendengarkan aspirasi yang disampaikan peserta.[]
Editor: Naisya Alina










