Cerpen | DETaK
Gelap malam yang diterangi oleh cahaya bulan tidaklah cukup untuk menerangi jalan, memaksa Tanya yang sedang berjalan kaki di tengah kegelapan, untuk menodongkan senter handphone-nya. Bukan karena gabut, namun alasan Tanya berada di luar saat pagi ini, ialah karena Tanya baru saja menjalankan solat subuh berjamaah di masjid Jamik USK. Bukan karena gabut pula ia mengeluarkan handphone miliknya. Melainkan, akibat lampu jalan yang mati yang disebabkan musibah banjir yang terjadi di Sumatra. Tentu tidak ada rasa takut dihati Tanya, lagipula ia tidaklah sendirian. Ia mengarungi gelapnya pagi ini, bersama temannya, Sonia.
Well, alasannya tidak ada rasa takut dihati mereka, dikarenakan hal ini sudah menjadi rutinitas mereka sehari-hari. Bagaimanapun mereka tidak melakukan kegiatan yang buruk, ‘mengapa mereka harus takut?’ adalah hal yang sering dipikirkan oleh Tanya ketika ia ditanyai oleh temannya, ketika mengetahui Tanya melakukan kegiatan ini dengan berjalan kaki. Bagaimanapun, dimata Tanya tidak ada alasan untuk tidak berjalan kaki. Jarak kostnya dekat dengan masjid jamik, merupakan Sunnah untuk berjalan kaki menuju tempat ibadah dan Tanya sendiri menikmati melihat-lihat pemandangan pagi subuh dalam perjalanannya ke masjid. Dan bukannya mereka pernah melihat hal yang aneh-aneh ketika dalam perjalanan ke masjid. Yang tanpa di ketahui Tanya, hal tersebut akan berakhir hari ini.

Setelah beberapa saat berjalan, Tanya berbelok kearah kanan kemudian mematikan lampu senternya, melewati jalan yang terletak antara Fakultas Teknik dan Fakultas MIPA. Hm, jalan disini terang ya. Lebih baik aku matikan senter hp, toh ini lagi susah listrik lebih baik menghemat, pikir Tanya ketika menyadari lampu di sekitar jalan ternyata hidup. Tanya dan Sonia memang sering melewati jalan tersebut disebabkan oleh kost mereka berdua terletak diseberang jalan tersebut, sehingga masuk akal mereka melewati jalan berikut mengingat jalan tersebut merupakan jalur terpendek.
Tanya dan Sonia pun melanjutkan perjalanan sambil berbincang-bincang untuk memecah keheningan subuh pagi ini. Namun, tiba-tiba Tanya dan Sonia di kagetkan dengan seseorang yang melewati mereka dengan cepat, seseorang tersebut memakai baju dengan motif kotak-kotak merah menyala yang khas. Tanya merasa kaget. Bagaimana ia tidak merasakan keberadaan seorang tersebut? Seharusnya meski ia sedang mengobrol dengan Sonia, ia masih dapat melihat keberadaan sosok tersebut dengan ujung matanya. Namun, nihil seseorang tersebut tiba-tiba muncul didepan mata mereka, seolah-olah ia tak kasat mata. Pikiran itu dengan cepat diabaikan dengan pikiran mungkin aku terlalu sibuk untuk mengobrol dengan Sonia.
Meski sempat terdiam Tanya-pun memutuskan untuk kembali melangkah. Tanya hanya bisa menyakinkan dirinya sendiri bahwasanya sesosok manusia yang tadi terlewat ia mahasiswa yang sedang pergi kuliah. Namun, sangat disayangkan, semakin Tanya mencoba berpikir positif, semakin ia tak dapat melakukannya.
Bagaimana mungkin ada mahasiswa yang berkuliah pada jam segini apalagi hari merupakan hari sabtu? Meski merasa janggal, Tanya tidak memiliki keberanian untuk berbalik ke belakang dan sepertinya Sonia-pun merasakan hal yang sama. Mengingat, Sonia juga hanya diam tanpa menjenguk kearah belakang. Tanya dan Sonia-pun hanya berjalan maju dan dengan saling diam, tanpa menyadari di belakang mereka sosok berbaju kotak-kotak merah tersebut berdiri diam di tempat, sebelum mendongakkan kepalanya seperti hampir putus. Dan menjuntaikan lidah panjangnya seperti ular disertai mata bulatnya yang sepenuhnya menghitam.
Keheningan. Itulah yang dihadapi Tanya dan Sonia setelah menghadapi sosok yang melewati mereka tadi. Meskipun ia telah mencoba menyingkirkan perasaan aneh yang tersimpan dalam lubuk hatinya, ia tetap saja tidak dapat menghilangkan perasaan aneh tersebut. Malahan semakin Tanya mencoba menyingkirkannya, semakin ia peka dengan keadaan sekelilingnya. Entah mengapa, keadaan sekitar yang awalnya terang tiba-tiba menjadi redup, atau setidaknya itulah yang Tanya rasakan. Awalnya, Tanya berniat untuk kembali menghidupkan senter handphone-nya yang berakhir diurungkan olehnya. Toh bagaimana juga tujuan kami sudah dekat, dengan keadaan susah seperti ini lebih baik baterai hp di hemat. Menciptakan keadaan dimana baik Tanya maupun Sonia nekat untuk menerjang jalanan yang sunyi.
Namun, bagai keajaiban, dari kejauhan Tanya dan Sonia dapat melihat 2 sosok yang sedang berjalan kearah mereka dari perempatan. Meski tidak dapat melihat dengan jelas sosok tersebut, mereka berdua jelas senang dengan keberadaan 2 sosok tersebut, karena hal itu mengartikan bahwasanya mereka tidak sendiri. Namun, setelah berada diujung perempatan, harapan mereka pupus dengan sekejap. Sosok yang seharusnya semakin jelas malahan tiada wujud. Melainkan hanya berupa 2 sosok bayangan hitam yang semakin mendekat kearah mereka. Seolah dicegat, tubuh Tanya tidak dapat digerakkan, tubuh Tanya membeku, begitu juga dengan Sonia. Tanya dan Sonia hanya dapat melihat kedua sosok itu mendekat kearah mereka tanpa bisa memalingkan pandangan mereka.
Kemudian hal yang tidak diduga oleh Tanya dan Sonia terjadi, kedua sosok bayangan yang mengarah kearah mereka. Berbelok kearah kanan begitu sampai keperempatan jalan. Yang sangat disyukuri oleh Tanya, meskipun tubuhnya belum dapat bergerak tetapi setidaknya kedua makhluk misterius itu tidaklah berada didepan mereka. Baru sebentar, Tanya dapat bernafas lega, Tanya kembali dibeku dengan kenyataan bahwa sosok-sosok tersebut kembali berbalik arah kali ini menuju kearah mereka. Meski, Tanya tidak dapat melihat mata atau bagian apapun dari sosok tersebut namun Tanya yakin sekali bahwasanya sosok itu dengan jelas melihat kearah mereka.
Tanya ingin menjerit, berlari atau apapun yang dapat ia lakukan untuk menghindari makhluk tersebut yang nyata nihil ia lakukan. Tanya hanya dapat berdiam diri menghitung mundur berapa banyak langkah yang makhluk itu butuhkan untuk mencapai dirinya. 30 langkah. 15 langkah. 5 langkah. Tepat ketika hanya tersisa 3 langkah lagi kedua sosok itu berhenti dan berdiri tepat didepan mereka, sebelum akhir menghilang ketika sebuah mobil menembusnya. Akhirnya setelah sekian lama, baik Tanya maupun Sonia dapat menggerakkan tubuhnya. Sebelum kedua berlari kencang. Meninggalkan 2 sosok yang ternyata tidaklah menghilang melainkan berada tepat dibelakang mereka. Sambil menunjukan mata putih dan taring tajam miliki mereka.
Kisah ini dicipta untuk hiburan semata, latar yang digunakan hanya untuk menambah pengalaman membaca tanpa maksud apapun.
Penulis bernama Riva Alya Najeela, Mahasiswa Program Studi Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Penegetahuan Alam, Universitas Syiah Kuala.
Editor: Fathimah Az Zahra



![[DETOuR] Sejarah Rawon: Dari Zaman Kerajaan hingga Zaman Modern](https://detakusk.com/wp-content/uploads/2026/07/rawon-238x178.jpeg)



![[Lensa] Potret Fasilitas di Gedung Asrama USK yang Perlu Diperhatikan](https://detakusk.com/wp-content/uploads/2026/09/DSCF1037-100x75.jpg)


