Beranda Cerpen Seporsi Mi Instan Di Penghujung Bulan

Seporsi Mi Instan Di Penghujung Bulan

BERBAGI
Ilustrasi. (Naya Asyila [AM]/DETaK)

Cerpen | DETaK

Kipas angin gantung di kamar kos berputar dengan sangat lambat, di atas meja belajar kayu yang catnya mulai mengelupas sedikit demi sedikit, tumpukan tugas kuliah yang belum semuanya terselesaikan, serta laptop yang menyala bersaing ketat menghiasi malam.

Aku menghela napas panjang. Jari-jemariku tak pernah berhenti mengetuk-ngetuk meja, lalu beralih meraih ponsel. Layar aplikasi m-banking mengonfirmasi kenyataan pahit akhir bulan: saldo tersisa tak lebih dari belasan ribu rupiah. Kiriman dari kampung baru akan ditransfer minggu depan.

Iklan Souvenir DETaK

Perutku berbunyi nyaring. Tetapi apalah daya, aku tetap melanjutkan menyelesaikan tugasku yang menumpuk dan mendekati deadline. Aku beranjak menuju rak plastik di sudut kamar. Di sana, hanya tersisa harta karun terakhir, sebungkus mi instan rasa soto dan sebutir telur ayam.

Dengan gerakan cepat, aku mulai memasak. Uap hangat dari rebusan mi yang beraroma gurih membumbung saat air panci mulai mendidih. Di tengah momen meracik mi itu, bayangan wajah bapak dan ibu di kampung halaman mendadak melintas di pikiran.

Bapak yang setiap harinya bekerja keras di bawah terik matahari, dan Ibu yang tak pernah lelah mengurus warung kecil demi memastikan uang kuliah serta sewa kosku terbayar tepat waktu. Setiap rupiah yang tertransfer ke rekeningku adalah tetes keringat dan pengorbanan dari perjuangan mereka yang tak terhitung harganya demi diriku.

Mi instan yang sudah matang itu kutuang perlahan ke dalam mangkuk. Baru saja aku ingin menyantap mi instan, tiba-tiba ponsel di atas kasur berbunyi. Sebuah nama muncul di layar, ibu.

Aku menarik napas dalam-dalam, mengusap wajah yang lelah ini, lalu mengatur nada suara agar terdengar segar dan ceria.

“Halo, assalamu’alaikum, bu.”

“Wa’alaikumussalam, nak. Lagi apa? Ini ibu cuma mau tanya, Tegar sudah makan malam apa belum?” suara ibu begitu membuat hati ini terasa begitu hangat dari telepon.

Mataku langsung tertuju pada mangkuk mi instan di meja. Lidahku mendadak terasa kaku. Terbayang meja makan di rumah yang selalu hangat dipenuhi oleh masakan ibu. Ada rasa rindu yang begitu mendalam dan haru yang menekan dada, namun aku sadar untuk tidak boleh membuat mereka merasa khawatir di sana.

“Sudah kok, bu. Ini Tegar baru aja selesai makan dan sudah kenyang,” jawabku, diiringi dengan senyuman.

“Ibu sama bapak gimana kabarnya sehat, kan?”

“Alhamdulillah sehat, nak. Bapakmu baru aja pulang kerja, ini lagi istirahat. Tegar, ingat pesan ibu, belajar boleh terus-terusan untuk ngejar cita-cita, tapi kesehatanmu nomor satu, ya nak. Kalau nanti uang kuliah Tegar atau makan kurang, bilang sama bapak dengan ibu, ya.”

“Iya, bu. Uang  Tegar masih cukup kok. Ibu sama bapak enggak usah cemas,” bohongku yang secara halus ini demi menjaga ketenangan pikiran mereka.

“Ya sudah kalau begitu. Ibu sama bapak selalu salat malam dan nama Tegar selalu ada  di setiap doa, nak. Semoga kuliahmu lancar terus dan cita-citamu tercapai.”

Setelah panggilan telepon berakhir, kamar kos kembali hening seperti sediakala. Aku memandang semangkuk mi instan rasa soto di hadapanku. Uapnya yang tipis melambung perlahan ke udara, seolah-olah membawa doa-doa Ibu yang baru saja diucapkan.

Sendok demi sendok mi instan itu kusuap perlahan. Rasa gurih pada  kuahnya kini bercampur dengan rasa haru yang mendalam. Makanan sederhana di akhir bulan ini bukan lagi sekadar pemuas lapar, melainkan simbol perjuangan anak perantau. Setiap suapannya menjadi pengingat bahwa ijazah dan cita-cita yang sedang kukejar bukan hanya untuk diriku sendiri, melainkan sebuah janji untuk membalas ketulusan kedua orang tua yang tak pernah putus mendoakanku sampai kini.

Dengan perut yang tak lagi kosong ini dan dada yang dipenuhi tekad kuat baru, aku kembali duduk di depan laptop. Dan jari-jemariku kembali menyentuh di atas papan ketik, menembus dinginnya malam demi melapangkan jalan menuju masa depan yang dicita-citakan.

Penulis bernama Naya Asyila, Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu politik, Universitas Syiah Kuala.

Editor: Zalifa Naiwa Belleil