Beranda Cerpen The Return of Satoru

[DETaR] The Return of Satoru

BERBAGI
Ilustrasi. (Neira Salsabila/DETaK)

Nana Dahliati | DETaK

Ramadhan kali ini sangat berbeda bagi Hendra. Setelah setengah tahun kepergian kedua orang tuanya karena sebuah kecelakaan, Hendra cukup terpuruk. Namun, ia selalu berusaha kuat demi Furqan, adiknya.

Tanpa pernah ia sangka-sangka kedatangan sahabat akrabnya saat sekolah di Jepang dulu membuat hidupnya kini lebih berwarna. Sahabatnya, Satoru Fujisawa seorang laki-laki berkewarganegaraan Jepang yang menguasai bahasa Jepang, Inggris, dan Indonesia secara fasih mendarat ke Indonesia tepat pada satu Ramadhan lalu untuk berkunjung ke rumah Hendra setelah kunjungan terakhirnya 2 tahun yang lalu.

Satoru pernah beberapa kali berkunjung ke rumah Hendra, namun ini kali pertama ia datang pada saat Ramadhan. Selain daripada kedatangan sahabat yang paling disayanginya, Hendra juga sangat senang ketika Satoru ikut berpuasa bersama mereka pada Ramadhan kali ini. Satoru mencoba belajar puasa setengah hari, perkembangan yang sangat baik mengingat ini adalah kali pertama pengalaman Satoru berpuasa.

Kali ini pun sama, di siang menjelang sore ini Satoru akhirnya berbuka puasa bersama Furqan, adik Hendra yang memang juga selalu berpuasa setengah hari mengingat umurnya yang masih 6 tahun.

“Kak, kenapa Kakak selalu berpuasa setengah hari? Padahal kan Kakak sudah besar,” celetuk Furqan di meja makan kepada Satoru.

“Karena Kakak…..” Saat Satoru hendak berbicara tiba-tiba Hendra datang dan memotong pembicaraan mereka.

“Furqan yang pintar, Kak Satoru ini dia sedang belajar puasa juga seperti Adek. Lama-lama kalian pasti bisa puasa penuh juga, atau mau ikutan lomba, siapa bisa puasa penuh mulai besok?” seru Hendra sambil mengusap-usap kepala adiknya.

“Wahhh, Kak Satoru lemah sekali, masa sudah besar tapi masih belajar puasa, besok Furqan mau puasa penuh, supaya menang puasa dari Kak Satoru!” seru Furqan dengan nada khasnya yang di respons oleh Hendra dan Satoru dengan tawaan yang meledak.

Mereka bertiga mulai bercanda dan bercerita sampai tak terasa adzan ashar tiba. Hendra bergegas untuk berwudhu disusul oleh Furqan, adiknya. Satoru hanya memperhatikan mereka dari belakang, kemudian membaca sebuah buku dengan fokus.

Setelah shalat, Hendra melantunkan ayat suci Al-Qur’an bersama dengan adiknya, Furqan. Meski masih belum bisa puasa penuh, Furqan adalah anak yang pintar, ia bisa membaca Al-Qur’an sekaligus membaca huruf latin sejak umur 4 tahun. Sejak kepulangan Hendra dari Jepang, kegiatan mengaji bersama tidak pernah mereka lewatkan satu hari pun.

Satoru masih terlihat serius membaca sebuah buku bahkan saat Hendra dan Furqan telah selesai shalat dan membaca Al-Qur’an. Saat menyadari temannya sedang memperhatikan dirinya, Satoru buru-buru menutup bukunya itu dan bertanya.

“Aku mau tanya, aku tau yang kalian baca tadi kitab suci Al-Qur’an, tapi apa makna dari ayat tadi?” tanya Satoru kepada Hendra.

Dengan perasaan yang sedikit terkejut, karena ia belum pernah mendengar pertanyaan seperti itu dari sahabatnya sebelumnya akhirnya Hendra menjelaskan.

“Ayat yang kami baca tadi mulai dari surah Ali-‘Imran ayat 19, artinya…..” Saat Hendra hendak menjelaskan tiba-tiba Furqan memotong.

“Artinya, ‘Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi kitab kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian di antara mereka. Barang siapa ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” Furqan buru-buru membuka mushaf Al-Qur’an dan membaca dengan sangat baik, dengan nada seperti seorang saritilawah di atas mimbar.

“Maha benar Allah atas segala Firman-Nya,” tutupnya.

“Masyaallah, Adek abang pintar sekali.” Hendra kemudian mengusap kepala Furqan.

“Hendra, besok aku ingin berpuasa penuh.” Tiba-tiba Satoru berkata dengan nada datar.

“Kalau begitu Furqan juga tidak akan puasa setengah hari lagi besok. Furqan tidak boleh kalah! Furqan juga bisa!” seru Furqan. Setelahnya ia berlari ke kamarnya untuk menyimpan mushaf Al-Qur’an yang ada di tangannya.

“Wahhh, tidak disangka seorang Satoru akan berpuasa penuh demi tantangan anak umur 6 tahun.” Hendra mengatakan sambil tertawa kecil.

“Bukan karena itu, tapi aku, aku kembali sebenarnya karena itu,” balas Satoru kepada sahabatnya.

“Hey Bro, bukannya bahasa Indonesiamu dari dulu memang lancar sekali, kenapa malah sekarang sangat sulit dimengerti.” Hendra tertawa geli.

Kemudian Satoru memberikan buku yang sejak tadi dipegangnya kepada Hendra. Hendra cukup terkejut setelah membaca judul buku itu.

“Bukankah ini buku yang diberikan oleh Ustad Yadi saat kau kemari 2 tahun yang lalu?” tanya Hendra kepada sahabatnya itu.

“Iya, benar,” jawab Satoru singkat.

“Aku kembali ke desamu karena buku itu. Dua tahun aku telah membacanya berulang kali dan aku juga sudah memikirkannya berulang kali dengan keputusanku. Aku sudah cukup berpuasa setengah hari, besok aku ingin berpuasa penuh sebagai seorang muslim seperti kalian.” Satoru melanjutkan perkataannya dengan nada yang datar dan hampir-hampir ingin menangis.

Kemudian Hendra tiba-tiba memeluk sahabatnya itu, ia menangis sejadi-jadinya. Tak pernah ia sangka, Satoru yang dulunya tidak peduli dengan agama manapun bisa mendapatkan hidayah di bulan Ramadhan tahun ini. Apalagi setelah perkataannya bahwa alasan ia kembali ke desa Hendra adalah karena sebuah buku berjudul “The Power Of Ramadhan” pemberian Ustad Yadi, Imam di mesjid desa Hendra.

Hendra tak henti-hentinya mengucapkan kalimat puji-pujian kepada Allah SWT. Ia kembali menangis bahagia, kemudian menuntun Satoru untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Di dalam hatinya ia terus berucap doa semoga sahabatnya Satoru benar-benar bisa istiqomah di jalan Allah sampai akhir. Dan betapa gemilang Ramadhan kali ini bagi Hendra sampai-sampai hal yang tidak pernah ia sangka dapat terjadi. Semua ini pembuktian bahwa hidayah bisa datang kepada siapa saja dan kapan saja. Berkah Ramadhan tahun ini pun begitu menggelora, siapa sangka Satoru yang sangat tertutup dengan agama manapun kini bisa merasakan hikmah Ramadhan.

#30 Hari Bercerita