Beranda Cerpen Bunyi yang Tak Pernah Hilang

[DETOuR] Bunyi yang Tak Pernah Hilang

BERBAGI
Ilustrasi. (Azkal Azkiya/ DETaK)

Cerpen | DETaK

Pagi itu, suara “tak… tak… tak…” kembali terdengar dari halaman rumah Nenek Maria. Suara batu yang menghantam butiran jagung panas memecah keheningan desa kecil di Lembata. Bagi sebagian orang, bunyi itu mungkin terdengar biasa. Namun bagi Dira, cucu Nenek Maria yang baru pulang dari kota, suara itu membawa kenangan yang hampir terlupakan

Dira duduk di bangku kayu sambil memperhatikan neneknya yang begitu cekatan. Jagung-jagung yang baru selesai disangrai diambil satu per satu, lalu dipukul perlahan menggunakan batu pipih hingga melebar menjadi lembaran tipis. Asap tipis masih mengepul, sementara aroma jagung yang harum memenuhi udara pagi.

Iklan Souvenir DETaK

“Kenapa harus dipukul satu-satu, Nek? Bukankah sekarang sudah ada mesin?” tanya Dira.

Nenek Maria tersenyum tanpa menghentikan tangannya. “Kalau semua diganti mesin, nanti siapa yang akan mengingat cara nenek moyang kita?”

Jawaban itu membuat Dira terdiam.

Selama kuliah di kota, Dira lebih sering makan roti, mie instan, atau makanan cepat saji. Jagung Titi hanya menjadi cerita masa kecil yang sesekali muncul ketika ibunya bercerita tentang kampung halaman. Bahkan beberapa temannya tidak pernah mendengar nama makanan itu.

Siang harinya, beberapa ibu datang membantu membuat Jagung Titi. Mereka saling bercanda, tertawa, dan bercerita tentang hasil panen tahun ini. Anak-anak kecil berlarian sambil sesekali mencuri lembaran Jagung Titi yang baru matang. Tak ada yang marah. Semua justru tertawa melihat tingkah mereka.

Dira memperhatikan suasana itu dengan kagum. Ia baru menyadari bahwa Jagung Titi bukan sekadar makanan. Ada kebersamaan yang ikut dipanggang bersama jagung, ada cerita yang lahir di setiap pukulan batu, dan ada kasih sayang yang diwariskan tanpa harus diucapkan.

Keesokan harinya, Dira mencoba membuat Jagung Titi sendiri. Awalnya ia terlalu keras memukul hingga jagung hancur berantakan. Nenek Maria tertawa kecil.

“Bukan pakai tenaga, tetapi pakai rasa,” katanya sambil membimbing tangan Dira.

Beberapa kali mencoba, akhirnya Dira berhasil membuat selembar Jagung Titi yang utuh. Wajahnya langsung berseri-seri.

“Ternyata susah juga ya.”

“Itulah sebabnya kita harus menghargai makanan ini. Setiap lembar membutuhkan kesabaran.”

Ucapan nenek kembali membuat Dira berpikir.

Malam itu, Dira membuka telepon genggamnya. Ia mulai merekam proses pembuatan Jagung Titi, mulai dari menyangrai jagung, memukulnya hingga pipih, sampai hasil akhirnya yang renyah. Ia juga mewawancarai neneknya tentang sejarah makanan tersebut.

Video itu kemudian diunggah ke media sosial. Tak disangka, hanya dalam beberapa hari video tersebut ditonton ribuan orang. Banyak yang baru mengetahui keberadaan Jagung Titi. Ada yang bertanya cara membuatnya, ada yang ingin mencicipinya, bahkan ada yang ingin membelinya sebagai oleh-oleh khas Nusa Tenggara Timur.

Melihat banyaknya tanggapan, Dira memiliki sebuah ide. Ia membantu para ibu di desa membuat kemasan yang lebih menarik tanpa mengubah cara pembuatannya. Nama “Jagung Titi Lembata” dicetak sederhana di atas kemasan, lengkap dengan cerita singkat tentang tradisi yang menyertainya.

Pesanan mulai berdatangan dari berbagai daerah. Penghasilan warga perlahan meningkat. Namun yang paling membahagiakan bagi Nenek Maria bukanlah banyaknya pembeli.

Suatu sore, ketika suara batu kembali berdentang di halaman rumah, Dira ikut duduk di samping neneknya. Tangannya kini lebih terampil memukul jagung satu per satu.

Nenek Maria tersenyum hangat.

“Suara ini akan tetap hidup selama masih ada yang mau belajar.”

Dira mengangguk pelan.

Ia akhirnya memahami bahwa warisan budaya bukan hanya disimpan di museum atau ditulis di buku sejarah. Warisan itu hidup dalam kebiasaan sehari-hari, dalam tangan-tangan yang bekerja dengan sabar, dan dalam hati orang-orang yang memilih untuk menjaga apa yang pernah diwariskan.

Di tengah dunia yang terus berubah, suara “tak… tak… tak…” itu mungkin terdengar sederhana. Namun bagi Dira, suara itu telah menjadi pengingat bahwa identitas tidak pernah lahir dari sesuatu yang mewah, melainkan dari hal-hal kecil yang terus dijaga dengan cinta.

Sejak hari itu, setiap kali orang bertanya oleh-oleh apa yang paling berharga dari Nusa Tenggara Timur, Dira selalu tersenyum. Bukan karena Jagung Titi hanya enak untuk dimakan, tetapi karena di balik setiap lembarannya tersimpan kisah tentang keluarga, kebersamaan, kerja keras, dan sebuah tradisi yang menolak untuk dilupakan.

Penulis bernama Mila Karmila, Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala.

Editor: Zikni Anggela