Beranda Cerpen Dentang yang Tak Pernah Usai

Dentang yang Tak Pernah Usai

BERBAGI
Ilustrasi. (Cut Dira Alya Gadiza [AM]/DETaK)

Cerpen | DETaK

Di sebuah toko tua di pinggiran kota, tergantung sebuah jam kayu dengan tubuh yang telah dimakan waktu. Dari balik kaca buramnya, jarum-jarum kecil terus menari perlahan, menebar dentang lembut yang mengisi ruang sepi. Suaranya tak keras, tapi cukup untuk menggema di antara debu, cahaya senja, dan aroma kayu lapuk yang menua bersama dinding toko. Jam itu berdiri seperti penjaga masa, menyimpan diam dari berlapis-lapis kehidupan yang pernah melintas di hadapannya. Tak banyak yang tahu, setiap dentang yang terdengar bukan sekadar tanda waktu berjalan, melainkan bisikan kenangan dari jiwa-jiwa yang pernah menitipkan hidup mereka di antara detik dan jarum.

Jam itu pertama kali berdetak di rumah seorang pria bernama Surya, pada tahun 1957. Ia seorang guru muda di kota kecil, baru menikah dengan perempuan yang dicintainya sejak masa kuliah. Ia membeli jam itu dari hasil gajinya selama enam bulan, hadiah untuk rumah barunya. Di masa itu, jam bukan sekadar alat penunjuk waktu, melainkan tanda kemapanan, bukti bahwa seseorang telah menambatkan hidupnya pada sesuatu yang tetap.

Iklan Souvenir DETaK

Surya menggantung jam itu di ruang tamu rumah kayunya. Setiap pagi, dentangnya menjadi tanda dimulainya hari mengajar. Ia biasa berdiri di depan cermin sambil merapikan kemeja, menunggu dentang pertama berbunyi sebelum berangkat. Dan setiap malam, ia menatap jarum jam berputar lambat, seperti menonton waktu yang menua bersamanya.

Istrinya, Lestari, sering duduk di bawah jam itu sambil menenun kain. Kadang ia tersenyum setiap kali dentang jam menggema, karena baginya, itu tanda bahwa Surya akan segera pulang. Waktu berjalan, cinta mereka tumbuh diam-diam bersama detik jam itu. Namun waktu, yang dulu terasa bersahabat, perlahan berubah menjadi sesuatu yang dingin. Lestari jatuh sakit. Suara jam tetap berdetak, seolah tak peduli bahwa kehidupan di bawahnya mulai retak.

Ketika Lestari meninggal, Surya tidak pernah menurunkan jam itu. Ia membiarkannya terus berdetak, karena di setiap dentang, seolah ada gema suara istrinya yang memanggil pelan. Tahun-tahun berikutnya, jam itu menjadi satu-satunya teman di rumah yang mulai lapuk. Ia meninggal dua puluh tahun kemudian, di kursi rotan yang menghadap jam itu. Saat jenazahnya diangkat, jam itu berdentang dua belas kali, meski jarumnya menunjukkan pukul delapan malam.

Anaknya menjual rumah beserta sebagian besar isinya. Jam itu dibawa ke pasar loak, berpindah tangan ke seorang perempuan bernama Ratna.

Ratna seorang penjahit yang tinggal di rumah kecil di pinggir pasar. Ia tak tahu kisah jam itu, hanya tertarik pada bingkai kayunya yang masih indah meski berdebu. Ia menggantungnya di dinding ruang tamu yang juga menjadi tempat kerjanya. Setiap malam, jarum jam menemaninya menjahit baju sekolah anak-anak tetangga. Dentangnya menjadi irama yang menenangkan, seperti lagu pengantar bagi hidup sederhana yang dijalaninya.

Ratna sering memandangi jam itu setiap kali lelah. Entah mengapa, ia merasa seolah jam itu memahami kesunyiannya. Kadang, saat ia menatap pantulan dirinya di kaca jam yang buram, ia merasa melihat bayangan seseorang berdiri di belakangnya, seorang pria tua dengan senyum lembut. Tapi setiap kali ia menoleh, tak ada siapa-siapa.

Suatu malam, hujan turun sangat deras. Air merembes dari atap rumahnya yang bocor. Kilat menyambar, dan suara guntur mengguncang langit. Ratna yang tengah menjahit terkejut ketika jam itu jatuh dari dinding. Kacanya retak, jarumnya berhenti. Ia menatapnya lama, seolah melihat sebagian hidupnya ikut berhenti di sana. Keesokan paginya, ia meninggal dunia dalam tidurnya, diduga kelelahan.

Anak Ratna menjual barang-barang ibunya, termasuk jam itu, kepada pedagang loak. Tak ada yang tahu bahwa jam itu pernah menyimpan suara tawa dan air mata dua kehidupan sebelumnya.

Bertahun-tahun kemudian, jam itu berpindah ke tangan seorang kolektor barang antik bernama Bram. Ia seorang pria berusia lima puluh, hidup sendiri, dan memiliki ketertarikan pada benda-benda bersejarah. Di ruang kerjanya yang penuh radio kayu, kamera tua, dan lampu minyak peninggalan Belanda, jam itu menjadi benda yang paling sering diperhatikannya.

Bram merasa jam itu berbeda. Dentangnya bukan sekadar suara mekanik; ada kehangatan aneh di dalamnya. Kadang, di malam hari, ia merasa mendengar sesuatu di sela dentang, seperti suara lembut seseorang berbicara pelan, atau tawa kecil yang samar. Pernah sekali, saat ia tengah menulis catatan koleksi, dentang jam berbunyi meski jarumnya belum mencapai angka dua belas. Ia menghentikan pekerjaannya, menatap jam itu, dan entah mengapa merasakan sejenis kerinduan yang tidak ia mengerti.

Suatu sore, saat sinar matahari menembus kaca jendela dan jatuh di permukaan jam, Bram memperhatikan bayangan jarum yang bergerak di dinding. Ia melihat siluet dua orang duduk berdampingan, seorang pria tua dan seorang wanita dengan rambut disanggul sederhana. Mereka tampak saling menatap dengan tenang. Lalu dentang jam berbunyi pelan, dan bayangan itu menghilang bersama cahaya yang memudar.

Sejak saat itu, Bram mulai memperlambat langkah hidupnya. Ia tidak lagi terburu mengejar koleksi baru. Ia menulis dalam buku hariannya: “Benda tua bukan sekadar peninggalan, tapi wadah bagi waktu yang pernah berhenti.” Ia mulai memperlakukan jam itu bukan sebagai benda mati, melainkan teman yang memahami diamnya.

Ketika Bram meninggal beberapa tahun kemudian, keponakannya mewarisi koleksi itu. Ia menjual sebagian besar barang antik, tapi menyimpan jam tersebut tanpa alasan yang jelas. Ia hanya merasa, jam itu terlalu “hidup” untuk dijual. Namun karena rumahnya sempit, jam itu akhirnya dipindahkan ke sebuah toko barang bekas di pinggir kota, kembali ke tempat di mana waktu seolah menunggu untuk dimulai lagi.

Kini jam itu berdiri di sana, diam, namun terasa seperti bernafas. Kadang, seseorang yang lewat berhenti di depan etalase, terpikat oleh sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Beberapa pembeli berkata, mereka merasa seperti pernah melihat jam itu sebelumnya. Ada yang bilang, dentangnya mengingatkan mereka pada masa kecil. Ada pula yang menatap kaca jam itu lama-lama, lalu pergi dengan mata berkaca-kaca tanpa tahu mengapa.

Setiap kali jarum panjang bertemu jarum pendek, udara di toko itu seakan menebal. Lalu terdengar dentang lembut,

“Ting…”
Satu untuk Surya, yang percaya bahwa waktu adalah guru terbaik.
“Tong…”
Satu untuk Ratna, yang menjahit mimpinya di bawah cahaya redup.
“Ting…”
Satu untuk Bram, yang belajar bahwa benda tua pun bisa memiliki jiwa.

Dan setelah dentang terakhir berhenti, hening menggantung lama di udara.

Jam itu tidak menunggu siapapun, tapi juga tidak pernah benar-benar sendiri. Di setiap retak kayunya, di setiap gerak jarumnya yang pelan, tersimpan kisah tentang mereka yang pernah menatapnya—tentang cinta, kehilangan, kerja keras, dan kerinduan.

Waktu terus berjalan, tapi di dalam jam itu, segala kenangan tetap berdetak. Karena waktu, sebagaimana cinta dan kenangan, tidak pernah benar-benar berhenti.

Penulis bernama Nurul Asya Salda, Mahasiswi Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala.

Editor: Khalisha Munabirah