Beranda Cerpen Antara Dua Langkah

Antara Dua Langkah

BERBAGI
Ilustrasi. (Annisa Salsabilla Musran/DETaK)

Cerpen | DETaK

Saat itu, roda motorku terus berputar di tengah jalanan sepi, ditemani alunan musik yang  mengalun lembut pada earphone yang menempel di telingaku. Angin sore menerpa wajahku, membawa aroma tanah setelah hujan. Lagu itu entah sudah berapa kali kuputar, namun selalu berhasil membangkitkan kenangan masa lalu serta penyesalan yang tak pernah benar-benar pergi.

“Sudahlah hal itu sudah berlalu, tidak bisa kamu ubah lagi Dis,” gumamku pada diri sendiri di sela-sela nada yang mengalun.

Iklan Souvenir DETaK

Kenalin namaku Gendis, remaja berusia 17 tahun yang hidupnya dipenuhi kebimbangan. Aku bisa menghabiskan sepuluh menit hanya untuk memilih jenis jilbab sebelum berangkat sekolah. Ataupun, aku bisa berdiri di depan toko minuman selama lima belas menit hanya untuk menentukan “beli teh atau kopi?” dan itu belum termasuk dilema terbesar seperti menentukan  masa depan setelah lulus SMA nanti.

Banyak orang bilang aku terlalu perfeksionis. Sebenarnya, aku hanya takut salah. Takut kalau nantinya keputusan yang kuambil salah dan membuatku menyesal lagi seperti dulu. Dulu waktu SMP, aku mempunyai kesempatan untuk mengikuti perlombaan menyanyi tingkat provinsi. Guruku, Bu Mella, sudah menyiapkan semua surat-surat dan perlengkapan yang diperlukan untuk perlombaan. Namun, aku ragu dan tidak yakin dengan suaraku ini, hingga pada menit-menit terakhir aku mengundurkan diri. Dua minggu kemudian, teman sekelasku yang menggantikanku pada perlombaan tersebut menang. Aku menyesal, tapi sudah terlambat.

Sejak kejadian itu, setiap aku dihadapkan pada pilihan, aku selalu teringat momen itu dan tiba-tiba hatiku membeku. Motor kuperlambat saat di tikungan kecil dekat taman. Langit mulai berubah warna, jingga bertemu ungu yang nyaris menggelap. Aku berhenti sejenak, menatap anak-anak kecil yang bermain bola di lapangan, tertawa lepas tanpa beban pikiran.

“Enaknya jadi mereka ya, ga perlu mikirin pilihan hidup,” gumamku. Ponselku bergetar di saku jaket, itu pesan dari Qia, sahabatku sejak SMA. “Gendis, sudah daftar kuliah belum? Aku fix ambil farmasi di Yogyakarta ini. Kamu gimana?” aku menatap layar ponsel cukup lama, lalu menghela nafas berat. Pertanyaan sederhana, namun sulit untukku jawab karena aku belum memutuskannya sekarang.

Beberapa minggu terakhir aku dihadapkan pada dua pilihan besar yang menjadi penentu masa depanku. Ayah dan ibu pindah kerja ke Bandung dan mengajakku untuk kuliah di sana, atau tetap kuliah bersama Qia di Yogyakarta. Kedua pilihan ini terlihat menarik bagiku, tapi juga menakutkan.

Kalau aku ikut ayah dan ibu ke Bandung, maka aku harus memulai semuanya dari awal. Tetapi, kalau aku tetap di sini aku takut kehilangan kesempatan besar di kota. Aku menatap langit lagi, lagu di earphone berganti ke lagu galau yang memperparah keadaanku sekarang. “Kenapa sih Dis, kamu selalu takut salah?” tanyaku pada diriku di spion motor.

Beberapa hari berlalu tanpa jawaban yang pasti. Aku hanya menunda dan terus menunda, tak peduli waktu yang tak pernah bisa berhenti. Sampai akhirnya malam itu, aku dan ibu duduk di depan teras rumah .

“Gendis,” katanya lembut memecah lamunanku. “ibu dan ayah tidak memaksa kamu untuk ikut ke Bandung nak. Tapi satu pesan ibu, jangan terlalu lama berdiri di persimpangan. Hidup ini tidak berhenti hanya karena kamu salah melangkah.” Aku terdiam, kata-katanya seperti  mengetuk bagian diriku yang telah lama tertutup. Ayah yang sedang duduk di ruang tamu  mendengar percakapan itu, ayah menambahkan, “salah itu bukan akhir Gendis. Kadang dari kesalahan, kita justru belajar menentukan arah yang benar.” Malam itu, aku tidak langsung memberikan jawaban, tapi kalimat ibu dan ayah terus terngiang di kepalaku.

Keesokan paginya, aku kembali mengendarai motor di  jalan yang sama. Hanya saja kali ini sedikit berbeda, lagu yang terputar di earphone bukan lagi alunan galau seperti dulu. Aku memilih lagu baru yang penuh dengan semangat, entah mengapa rasanya lebih ringan. Di pertigaan jalan, aku berhenti sejenak. Dua arah di depanku, kanan menuju rumah, kiri menuju kampus tempat Qia mendaftar kuliah. Dua langkah berbeda, dua masa depan yang tak bersinggungan.

Tanganku menggenggam setang motor dengan kuat. Untuk pertama kalinya, aku tidak ingin kabur dari keputusan. Aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan-lahan, “oke Gendis, kali ini kamu harus pilih,” ucapku. Ku putar gas perlahan ke arah kanan, rumah.

Angin sore kembali menerpa wajahku, tapi terasa berbeda dari sebelumnya, rasanya lebih hangat dan lebih bebas. Mungkin aku belum tahu apakah pilihan ini adalah pilihan terbaik bagiku atau tidak, namun setidaknya aku telah mencobanya. Sekarang, aku tahu satu hal, aku  akhirnya berani melangkah. Dan terkadang, keberanian untuk memilih adalah langkah pertama menuju ketenangan yang selama ini aku cari.

Motorku terus melaju di jalan sore yang semakin ramai. Di balik helm, aku tersenyum. Lagu baru dengan semangat baru untuk membuka buku baru kehidupanku dan menutup buku lama yang sudah usang. Hanya ada aku, jalan panjang di depan, dan langkah baru yang aku pilih sendiri.

Penulis bernama Neni Raina Mawaddah, Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala.

Editor: Khalisha Munabirah