Beranda Opini Juhu Singkah: Ketika Rotan Muda Berubah Menjadi Hidangan yang Sarat Makna...

[DETOuR] Juhu Singkah: Ketika Rotan Muda Berubah Menjadi Hidangan yang Sarat Makna dari Kalimantan Tengah

BERBAGI
Ilustrasi. (Afdila Maisarah/DETaK)

Opini | DETaK

Indonesia dikenal sebagai negara dengan kekayaan kuliner yang luar biasa. Setiap daerah memiliki makanan khas yang lahir dari alam, budaya, serta cara hidup masyarakatnya. Jika sebagian besar orang mengenal rendang dari Sumatera Barat, gudeg dari Yogyakarta, atau papeda dari Papua, Kalimantan Tengah menyimpan sebuah hidangan yang mungkin masih asing di telinga banyak orang. Namanya Juhu Singkah, makanan tradisional yang menggunakan rotan muda sebagai bahan utamanya.

Bagi sebagian orang, rotan identik dengan bahan baku kerajinan seperti kursi, meja, atau anyaman. Sulit membayangkan bahwa tanaman yang selama ini dikenal sebagai material furnitur ternyata juga dapat diolah menjadi makanan. Namun, bagi masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah, rotan muda telah lama menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, termasuk sebagai sumber pangan yang bernilai tinggi.

Iklan Souvenir DETaK

Juhu Singkah merupakan masakan tradisional yang dibuat dari pucuk rotan muda atau singkah. Bagian rotan yang masih muda dipilih karena teksturnya lebih lembut dibandingkan batang yang sudah tua. Sebelum dimasak, rotan terlebih dahulu dikupas, dipotong, lalu direbus beberapa kali agar rasa pahitnya berkurang. Setelah itu, rotan dimasak bersama santan atau kuah bening dengan tambahan berbagai bumbu khas Nusantara seperti bawang merah, bawang putih, cabai, kunyit, serai, lengkuas, dan daun salam. Tidak jarang, masyarakat juga menambahkan ikan sungai, udang, atau daging sebagai pelengkap sehingga rasa masakan menjadi semakin gurih.

Meski telah melalui proses perebusan, Juhu Singkah tetap menyisakan sedikit rasa pahit yang justru menjadi daya tarik utamanya. Perpaduan rasa gurih, segar, dan pahit yang ringan menciptakan pengalaman kuliner yang berbeda dari makanan khas daerah lainnya. Bagi masyarakat yang telah terbiasa menikmatinya, rasa tersebut bukanlah kekurangan, melainkan identitas yang membuat Juhu Singkah begitu istimewa.

Keunikan Juhu Singkah tidak hanya terletak pada cita rasanya, tetapi juga pada nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Masyarakat Dayak telah lama hidup berdampingan dengan hutan. Alam bukan sekadar tempat mencari nafkah, melainkan bagian dari kehidupan yang harus dijaga dan dihormati. Karena itu, mereka memanfaatkan sumber daya alam dengan bijaksana tanpa merusak kelestariannya. Rotan yang dipanen hanyalah bagian mudanya sehingga tanaman tersebut tetap dapat tumbuh kembali. Cara ini menunjukkan bahwa konsep keberlanjutan sebenarnya telah diterapkan oleh masyarakat adat jauh sebelum istilah tersebut dikenal secara luas.

Juhu Singkah juga sering hadir dalam berbagai acara adat maupun momen kebersamaan keluarga. Hidangan ini menjadi simbol rasa syukur atas hasil alam yang melimpah sekaligus mempererat hubungan antaranggota masyarakat. Dalam budaya Dayak, makan bersama bukan sekadar memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga menjadi sarana memperkuat nilai gotong royong, kekeluargaan, dan kebersamaan.

Di era modern seperti sekarang, keberadaan makanan tradisional menghadapi tantangan yang tidak sedikit. Beragam makanan cepat saji dan kuliner viral terus bermunculan dengan tampilan yang menarik serta mudah ditemukan. Di sisi lain, makanan tradisional seperti Juhu Singkah mulai jarang dikenal, terutama oleh generasi muda yang tinggal di perkotaan. Padahal, setiap hidangan tradisional menyimpan cerita panjang tentang sejarah, lingkungan, dan identitas suatu daerah.

Melestarikan kuliner tradisional bukan berarti menolak perkembangan zaman. Sebaliknya, makanan khas daerah dapat dikemas dengan cara yang lebih modern tanpa menghilangkan nilai aslinya. Saat ini beberapa rumah makan khas Kalimantan mulai memperkenalkan Juhu Singkah kepada wisatawan sebagai salah satu menu andalan. Kehadiran media sosial juga menjadi peluang besar untuk mengenalkan kuliner ini kepada masyarakat yang lebih luas melalui foto, video, maupun artikel.

Bagi wisatawan yang berkunjung ke Kalimantan Tengah, mencicipi Juhu Singkah dapat menjadi pengalaman yang berbeda. Hidangan ini mengajarkan bahwa makanan tidak hanya soal rasa, tetapi juga tentang bagaimana manusia beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Rotan yang selama ini dianggap hanya memiliki nilai ekonomi sebagai bahan kerajinan ternyata juga memiliki nilai budaya dan kuliner yang tinggi.

Indonesia memiliki ribuan makanan tradisional yang lahir dari kreativitas masyarakat dalam memanfaatkan kekayaan alam. Juhu Singkah menjadi salah satu bukti bahwa warisan kuliner Nusantara tidak pernah berhenti menghadirkan kejutan. Dari sebatang rotan muda, lahirlah sebuah hidangan yang tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga menyimpan filosofi tentang kehidupan yang harmonis dengan alam.

Pada akhirnya, mengenal Juhu Singkah berarti mengenal sebagian kecil wajah Kalimantan Tengah. Di balik semangkuk makanan sederhana tersimpan cerita tentang hutan, masyarakat adat, tradisi, dan rasa syukur yang diwariskan dari generasi ke generasi. Oleh karena itu, menjaga keberadaan kuliner tradisional seperti Juhu Singkah bukan hanya tanggung jawab masyarakat Kalimantan Tengah, melainkan tanggung jawab kita bersama sebagai bangsa yang kaya akan budaya. Sebab, ketika sebuah makanan tradisional hilang, yang lenyap bukan hanya sebuah resep, melainkan juga sepotong sejarah dan identitas Nusantara.

Penulis bernama Ainurrahmah Elhalimi, Mahasiswa Program Studi Statistika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Syiah Kuala

Editor: Husniyyati