Artikel | DETaK
Bulan Ramadan selalu identik dengan perubahan pola makan. Dari yang biasanya tiga kali sehari menjadi hanya dua kali, yakni saat sahur dan berbuka. Perubahan ini tentu berdampak pada kondisi tubuh, terutama lambung. Tidak sedikit orang yang mengeluhkan perut perih, kembung, hingga asam lambung naik ketika berpuasa. Dalam situasi seperti ini, memilih makanan yang tepat saat berbuka menjadi hal yang penting. Salah satu menu tradisional yang sering hadir di meja berbuka adalah bubur sumsum.
Bubur sumsum bukan sekadar hidangan nostalgia khas Nusantara. Di balik teksturnya yang lembut dan rasanya yang gurih manis, makanan ini ternyata cukup ramah bagi lambung, terutama setelah seharian kosong tanpa asupan.
Secara umum, bubur sumsum terbuat dari tepung beras, santan, dan sedikit garam, lalu disajikan dengan kuah gula merah cair. Teksturnya yang halus membuatnya mudah dicerna oleh sistem pencernaan. Setelah kurang lebih 12–14 jam lambung tidak bekerja mencerna makanan, organ ini tentu membutuhkan asupan yang ringan terlebih dahulu.

Bubur sumsum bisa menjadi “pemanasan” yang lembut sebelum mengonsumsi makanan yang lebih berat.
Dari sisi kesehatan lambung, ada beberapa alasan mengapa bubur sumsum cukup baik dikonsumsi saat berbuka.
Pertama, teksturnya yang lembut membantu mengurangi risiko iritasi pada dinding lambung. Saat perut kosong terlalu lama, produksi asam lambung tetap berlangsung meskipun tidak ada makanan yang dicerna. Kondisi ini dapat menyebabkan rasa perih pada lambung. Makanan bertekstur lembut seperti bubur sumsum dapat membantu melapisi lambung secara perlahan sehingga mengurangi rasa tidak nyaman.
Kedua, kandungan karbohidrat dari tepung beras memberikan energi secara bertahap. Setelah seharian berpuasa, tubuh membutuhkan sumber energi yang tidak terlalu berat namun cukup untuk mengembalikan stamina. Karbohidrat sederhana dalam bubur sumsum relatif cepat diolah tubuh sehingga membantu mengurangi rasa lemas tanpa membuat perut “kaget”.
Ketiga, bubur sumsum tidak mengandung banyak serat kasar maupun bumbu yang tajam. Berbeda dengan gorengan, makanan pedas, atau minuman bersoda yang justru dapat memicu naiknya asam lambung, bubur sumsum cenderung lebih aman bagi mereka yang memiliki riwayat maag ringan atau gangguan lambung lainnya.
Meski demikian, bukan berarti bubur sumsum dapat dikonsumsi secara berlebihan. Santan yang menjadi bahan utama tetap mengandung lemak. Jika dikonsumsi terlalu banyak, apalagi dalam kondisi lambung sensitif, makanan ini tetap dapat menimbulkan rasa tidak nyaman. Kuncinya terletak pada porsi yang wajar serta keseimbangan menu berbuka.
Dalam konteks Ramadan, fenomena “balas dendam” saat berbuka sering kali membuat orang langsung mengonsumsi makanan berat dan berlemak. Padahal, pola seperti ini justru dapat memicu gangguan pencernaan. Mengawali berbuka dengan makanan ringan, manis secukupnya, dan bertekstur lembut seperti bubur sumsum merupakan pilihan yang lebih bijak.
Selain manfaat kesehatan, bubur sumsum juga memiliki nilai kultural yang kuat. Di berbagai daerah di Indonesia, makanan ini sering disajikan dalam berbagai kegiatan keagamaan, termasuk saat Ramadan. Kehadirannya bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang kebersamaan dan tradisi yang terus dijaga dari generasi ke generasi.
Pada akhirnya, menjaga kesehatan lambung selama Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga tentang bagaimana kita memperlakukan tubuh dengan lebih bijak. Memilih makanan yang lembut, tidak berlebihan, dan sesuai dengan kebutuhan tubuh menjadi bagian dari bentuk kepedulian terhadap diri sendiri.
Bubur sumsum mungkin terlihat sederhana. Namun, di bulan yang penuh refleksi ini, kesederhanaan justru sering kali membawa manfaat yang tidak sederhana, termasuk bagi lambung yang bekerja diam-diam menjaga keseimbangan tubuh kita selama berpuasa.
Penulis bernama Nailul Muna Nasution, Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala.
Editor: Naisya Alina

![[DETaR] Perdebatan 20 VS 8 Rakaat](https://detakusk.com/wp-content/uploads/2026/04/Afdila-Maisarah--238x178.png)




![[DETaR] Perdebatan 20 VS 8 Rakaat](https://detakusk.com/wp-content/uploads/2026/04/Afdila-Maisarah--100x75.png)



