Beranda Opini Eksistensi Duta Dipertanyakan, Apakah Hanya sebagai Pajangan Seremonial?

Eksistensi Duta Dipertanyakan, Apakah Hanya sebagai Pajangan Seremonial?

BERBAGI
Ilustrasi. (Neni Raina Mawaddah/DETaK)

Opini | DETaK

Belakangan ini, keberadaan duta di berbagai lembaga kembali menjadi bahan perbincangan hangat di tengah masyarakat. Dari banyaknya ajang pemilihan duta yang diselenggarakan dan tentunya menghabiskan sejumlah anggaran. Sering kali masyarakat mulai mempertanyakan apa peran penting yang dipegang seorang duta dengan gelar yang disandangnya.

Bagi sebagian orang, duta dianggap sebagai perwakilan pemuda yang membawa nilai positif, menjadi wajah sebuah lembaga, sekaligus menjadi penghubung antara institusi dan masyarakat. Namun, tidak sedikit pula yang mempertanyakan eksistensinya. Apakah seorang duta benar-benar memberikan kontribusi atau hanya hadir sebagai simbol dalam acara-acara tertentu saja?

Iklan Souvenir DETaK

Kritik terhadap fenomena duta cukup banyak ditemukan, terutama di media sosial. Beberapa masyarakat berkomentar bahwa keberadaan duta hanya menjadi formalitas saja. Ada yang menganggap gelar duta hanya digunakan untuk menambah pengalaman di CV (Curriculum Vitae), mempercantik profil media sosial, atau sekadar mendapatkan pengakuan. Bahkan muncul anggapan bahwa tanpa adanya duta pun kegiatan akan tetap dapat dilaksanakan.
Kritik tersebut akan menjadi bumerang bagi para duta jika mereka tidak dapat memberikan jawaban yang baik kepada masyarakat. Sebab, ketika seseorang mendapatkan gelar, ada tanggung jawab yang ikut melekat di dalamnya. Masyarakat tidak hanya melihat kecakapan para duta di atas panggung saat seleksi saja, tetapi juga menilai kontribusi yang akan mereka lakukan setelah mendapatkan amanah tersebut.

Namun, melihat duta hanya sebagai “pajangan” juga tidak sepenuhnya benar. Karena bagi para duta, peran mereka tidak berhenti pada selempang yang dikenakan ketika dinobatkan. Seorang duta merupakan representasi dari lembaga yang dibawanya. Ada tanggung jawab untuk menjaga citra, menjalankan program, menyampaikan pesan positif, serta memberikan manfaat nyata bagi lingkungan sekitar.

Masalahnya, kontribusi yang dilakukan sering kali tidak terlihat oleh publik. Masyarakat lebih tertarik melihat potret para duta dengan selempangnya, daripada proses panjang di baliknya. Padahal, banyak hal yang dilakukan oleh seorang duta dalam menjalankan programnya. Bagi sebagian duta, selempang hanyalah sebuah simbol semata. Ia bukan ukuran utama dari keberhasilan seseorang. Selempang yang diberikan dalam satu malam sebagai bentuk penghargaan tersebut sebenarnya berisi nilai yang justru perlu dibuktikan melalui tindakan setelahnya.

Di sisi lain, kritik dari masyarakat tetap menjadi hal yang penting untuk diterima. Sebab, kritik tersebut dapat menjadi pengingat bagi para duta bahwa gelar tersebut akan kehilangan makna apabila tidak diikuti dengan tindakan nyata. Ketika seorang duta hanya terlihat saat acara resmi, aktif dalam membangun citra pribadi, tetapi tidak memiliki program atau kontribusi yang jelas, maka anggapan bahwa duta hanya sekadar simbol perlu dipertanyakan.

Namun di sisi lainnya, tanggung jawab untuk menjaga makna sebuah gelar tidak hanya berada di pundak para duta. Lembaga penyelenggara juga memiliki peran penting dalam memastikan bahwa keberadaan duta tidak berhenti pada proses seleksi dan seremoni pelantikan. Setelah malam penganugerahan berakhir, seharusnya terdapat ruang bagi para duta untuk terus berkarya melalui program yang terarah, pendampingan yang berkelanjutan, serta evaluasi terhadap dampak yang dihasilkan. Dengan demikian, masyarakat dapat melihat bahwa pemilihan duta bukan hanya agenda tahunan, melainkan bagian dari upaya menghadirkan perubahan yang nyata dari para generasi muda.

Selain itu, para duta juga perlu membangun kedekatan dengan masyarakat melalui aksi yang konsisten, bukan hanya melalui publikasi di media sosial. Dokumentasi kegiatan memang penting sebagai bentuk transparansi, tetapi dampak yang dirasakan masyarakat jauh lebih bermakna daripada sekadar banyaknya unggahan yang dibagikan. Pada akhirnya, ukuran keberhasilan seorang duta bukanlah seberapa sering wajahnya muncul di berbagai acara, melainkan sejauh mana gagasan, program, dan kontribusinya mampu menjawab kebutuhan lingkungan di sekitarnya. Ketika hal tersebut dapat diwujudkan, kepercayaan masyarakat terhadap eksistensi para duta akan tumbuh dengan sendirinya.

Menjadi duta bukan tentang apa yang diperoleh dari sebuah gelar, melainkan tentang apa yang dapat diberikan melalui amanah tersebut. Gelar duta dapat menjadi ruang bagi seseorang untuk belajar berkembang, melatih kemampuan komunikasi, membangun kepemimpinan, serta memahami bagaimana memberikan pengaruh positif kepada orang lain. Jika seorang duta mampu membawa perubahan nyata, menginspirasi banyak orang, dan memberikan kontribusi langsung, maka keberadaannya akan memiliki arti yang berharga. Tetapi jika hanya berhenti pada panggung, foto, dan kegiatan seremonial semata, maka kritik masyarakat menjadi pengingat bagi mereka bahwa sebuah gelar bukanlah tujuan akhir, melainkan tanggung jawab yang perlu dibuktikan dan dapat dirasakan langsung dampaknya.

Dengan begitu, keberadaan duta tidak seharusnya hanya dilihat dari ada atau tidaknya selempang yang dikenakan. Dari sini bisa kita lihat bahwa persoalannya adalah bagaimana seseorang mampu mengubah gelar tersebut menjadi tindakan nyata. Sebab, masyarakat tidak membutuhkan figur yang hanya terlihat, tetapi yang benar-benar hadir dan mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitarnya.

Penulis bernama Neni Raina Mawaddah, Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala

Editor: Naisya Alina