Artikel | DETaK
Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Indonesia terbiasa mengonsumsi nasi yang telah menjadi makanan pokok sejak kecil. Budaya masyarakat juga membuat kita sulit lepas dari nasi dalam berbagai jenis makanan. Misalnya, sarapan yang seharusnya dapat dipenuhi dengan karbohidrat kompleks atau protein seperti oatmeal sering kali tetap digantikan dengan nasi. Begitu pula kebiasaan menggabungkan dua jenis karbohidrat, seperti mie dan nasi, karena kita merasa makanan belum lengkap jika tidak ada nasi. Pada berbagai perayaan atau acara tertentu pun, nasi hampir selalu menjadi makanan utama yang dihidangkan.
Namun, dari kebiasaan tersebut muncul ketergantungan terhadap beras atau nasi sebagai makanan pokok sehingga masyarakat menjadi kurang mengeksplorasi variasi sumber karbohidrat lainnya. Dominasi konsumsi beras juga menyebabkan pola makan menjadi kurang beragam sehingga kebutuhan mikronutrien–zat gizi yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah kecil tetapi memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan, metabolisme, dan menghasilkan energi–tidak terpenuhi secara optimal.

Beras masih menjadi bahan pangan pokok utama masyarakat Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2024 menunjukkan bahwa beras mendominasi konsumsi sumber karbohidrat masyarakat Indonesia dengan persentase konsumsi per kapita mencapai 82,13%. Selain itu, data Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat konsumsi beras masyarakat Indonesia pada tahun 2024 mencapai 79,08 kilogram per kapita per tahun. Meskipun angka tersebut mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, beras tetap menjadi sumber pangan utama yang paling banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia. Tingginya konsumsi beras ini menunjukkan bahwa ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap beras masih sangat besar dalam memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.
Sejak adanya budidaya padi dan pengembangan sistem irigasi, padi kemudian menjadi bagian dari budaya dan kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Padi bukan hanya sekadar bahan pangan, tetapi juga menjadi simbol status dan identitas. Infrastruktur pasar yang dirancang untuk memastikan ketersediaan pasokan beras juga membuat alternatif pangan pokok seperti ubi, sagu, dan jagung menjadi kurang dilirik. Ketergantungan pada satu jenis makanan pokok dapat mengurangi variasi vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuh. Selain itu, sistem pangan juga menjadi rentan apabila terjadi gagal panen atau ketidakstabilan ekonomi yang menyebabkan harga beras melonjak.
Dengan kondisi harga bahan pangan yang semakin meningkat, mulai mencoba ragam pangan pokok selain beras dapat menjadi langkah yang membantu. Dengan pola konsumsi makanan pokok yang lebih bervariasi, kita dapat meningkatkan pendapatan sektor pertanian selain beras sekaligus menciptakan sistem pangan yang lebih kuat karena tidak hanya bergantung pada satu komoditas. Mengonsumsi sumber karbohidrat lain seperti ubi, kentang, atau gandum juga memungkinkan masyarakat lebih siap menghadapi krisis atau kelangkaan beras di masa mendatang.
Dari segi kesehatan, kebiasaan mengandalkan beras menjadikan isi piring kita monoton, ditambah dengan kebiasaan menggabungkan lebih dari satu jenis karbohidrat dalam satu waktu. Menurut penelitian Emily A. Hu dkk. dalam jurnal The BMJ berjudul White Rice Consumption and Risk of Type 2 Diabetes: Meta-analysis and Systematic Review, konsumsi beras putih dalam jumlah tinggi berkaitan dengan meningkatnya risiko diabetes tipe 2, terutama pada masyarakat Asia yang menjadikan beras sebagai makanan pokok utama. Penelitian tersebut menemukan bahwa pola makan yang terlalu bergantung pada beras putih dapat menyebabkan tingginya asupan karbohidrat sederhana dan rendahnya variasi zat gizi lain, seperti serat, vitamin, dan mineral, sehingga berpengaruh terhadap kesehatan metabolik tubuh.
Adanya anggapan seperti “belum makan kalau belum makan nasi” juga menanamkan pemikiran pada masyarakat bahwa nasi merupakan satu-satunya makanan pokok utama. Hal ini kemudian membuat masyarakat enggan memodifikasi isi piring mereka dengan makanan pokok selain beras sebagai pendamping lauk atau sayur. Oleh karena itu, diversifikasi pangan menjadi hal yang penting untuk dilakukan.
Diversifikasi pangan adalah proses penganekaragaman konsumsi makanan pokok masyarakat agar tidak hanya bergantung pada satu jenis bahan pangan. Diversifikasi pangan menunjukkan bagaimana berbagai sumber pangan lokal seperti jagung, singkong, ubi, kentang, dan pisang kepok dapat dimanfaatkan sebagai makanan pokok pengganti nasi atau beras sehingga pola makan menjadi lebih beragam. Dengan demikian, diversifikasi pangan tidak hanya memenuhi kebutuhan energi, tetapi juga meningkatkan kualitas gizi masyarakat, menjaga ketahanan pangan, serta mengurangi risiko apabila terjadi krisis dan gagal panen beras.
Namun, tentu terdapat beberapa hambatan dalam pelaksanaan diversifikasi pangan, mulai dari budaya konsumsi beras yang sudah sangat kuat sehingga masyarakat enggan mengganti makanan pokok, dominasi industri beras, hingga harga bahan pangan pengganti beras yang terkadang kurang stabil. Oleh sebab itu, perubahan pola konsumsi ini tidak mudah dilakukan. Diperlukan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, pelaku industri, serta kesadaran dari masyarakat itu sendiri.
Ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap beras tidak hanya dipengaruhi oleh kebutuhan pangan, tetapi juga oleh budaya dan kebiasaan yang telah berlangsung lama. Namun, dominasi konsumsi beras menimbulkan berbagai tantangan, mulai dari kurangnya variasi gizi hingga risiko ketahanan pangan ketika terjadi krisis atau kenaikan harga beras. Karena itu, diversifikasi pangan menjadi langkah penting untuk membangun pola makan yang lebih sehat, beragam, dan berkelanjutan dengan memanfaatkan sumber karbohidrat lokal seperti ubi, jagung, dan kentang sebagai alternatif pangan pokok.
Penulis bernama Wanda Amelia Hutasuhut dari Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala.
Editor: Kamilina Junita Damanik










