Beranda Cerpen MENUNGGUMU

MENUNGGUMU

BERBAGI
Ilustrasi. (Alya Anjadelisya Hasibuan/DETaK)

Cerpen | DETaK

Aku bertemu bidadari,
Di dalam Bus

Pandangan matanya

Iklan Souvenir DETaK

Menyejukkan jiwa

Aku merayu tuhan
Esok, tolong pertemukan kami kembali

Aku melihatnya lagi

Menginginkan sebuah kisah untuk kita berdua
Namun aku tak punya keberanian

Aku merayu tuhan lagi.
Esok pertemukan kami kembali

Aku tidak melihatnya lagi,

ia tak kunjung terlihat.

Dimana engkau sekarang?

Aku menunggu, menunggu, dan terus menunggu

Harus berapa lama Aku menunggumu?

..……

Sudah tiga hari ini aku tidak pernah bertemu lagi dengan bidadari di dalam Bus kemarin, sungguh hampa rasanya, kadang aku bertanya-tanya harus berapa lama aku akan terus menunggunya. Seandainya aku tahu jika hari itu adalah hari terakhir kami bertemu, mungkin aku akan langsung menyapanya, mengajaknya kenalan dan mengajaknya berteman, atau mungkin saja aku akan mengungkapkan perasaanku saat itu juga.

Tidaklah, tampaknya itu ide yang buruk, orang gila mana yang baru kenalan langsung ngungkapin perasaan.

Aku sama sekali tidak menyangka, kehadirannya yang hanya sementara itu menitipkan rindu yang teramat dalam bagiku. Hatiku selalu saja berkata keras akan mencarinya, namun bumi seolah tidak menyetujui ambisiku. Bila hari ini, esok, atau nanti aku menemukannya, aku berjanji aku akan-

Menyapanya?

Mengungkapkan perasaan?

Tidak, rasanya seperti tidak mungkin.

Dia duduk di sampingku sekarang. Aku sedikit gugup. Tuhan mengabulkan doaku begitu cepat. Apa yang dia lakukan disini? Aku bertanya-tanya, tapi bibirku enggan menanyakannya. Tapi jujur, wajahnya pucat. Tidak, tidak, bukan ending seperti ini yang aku mau.

“Tunggu aja disini” Ucap seorang perempuan yang lebih tinggi darinya.

“Iya Kak,” jawabnya.

Gadis itu membuka sebuah notebook, ia menulis sesuatu disana, meski tak ketahuan tapi aku berhasil melihat matanya yang berkaca-kaca, dia seperti menahan tangis.

“Rio,” ibu memanggilku “tolong dorong nenek,” kata ibu.

Aku bergegas berdiri, lalu mendorong kursi roda nenek. Hari ini adalah hari terakhir nenek dirawat di rumah sakit, dan sekarang aku sedang mendorong kursi roda nenek masuk ke mobil. Sebentar aku melirik ke belakang, aku melihatnya menangis, entah apa yang sedang ia tulis di buku itu.

Serius, aku membuang kesempatan ini lagi? Pikirku.

“Rio,” panggil ibu kembali “Masuk, mau tinggal disini kamu?”

“Sebentar Bu,” ucapku.

Lantas aku segera berlari menyusul gadis Bus itu, untungnya dia masih duduk disana. Aku melihatnya menangis lagi, dan sekarang tangisannya lebih pecah dari yang sebelumnya. Aku mencoba mendekatinya dan memberikannya sapu tangan.

Dia menatapku.

Ya tuhan, meskipun sedang menangis, matanya tetap terlihat indah.

“Terima kasih,” ucapnya.

Baiklah, selangkah lebih maju.

“Kenapa nangis?” Aku bertanya pelan.

“Aku,” sejenak ia menarik nafas, terlihat berusaha tenang menjawab. “Aku tidak sanggup melihat detik-detik terakhir ayahku, aku kesini karena tidak mau melihatnya.” Setelah itu pecah lagi tangisnya. “Ayahku akan pergi ke surga,” lanjutnya.

“Divaa!” Perempuan berambut cokelat tadi menyusul kemari “Ayo, Ayah uda masuk ambulance.”

Si Kakak melihatku sekilas, lalu pergi.

Diva, nama itu akan kusimpan, di hatiku, pikiranku, dan jiwaku. Diva pamit kemudian. Dan aku membiarkannya pergi.

Sudah, Selesai.

Tidak. Belum selesai.

Ini bukanlah akhir dari pencarianku.

Jangan tanyakan aku tentang kesetiaan, hari dimana aku bertemu dengannya di rumah sakit adalah hari dimana aku tidak pernah bertemu lagi dengannya selama tiga tahun. Selama tiga tahun itu juga aku selalu menunggunya dikesempatan manapun.

Aku mencoba mencari tahu tentangnya, mencari tahu akun instagramnya, akun Facebook, Twitter dan Tiktoknya, namun aku tidak pernah menemukannya. Gadis itu benar-benar misterius.

“Masih mikirin cewek itu?”

Geri memukul bahuku, menyadarkanku dari lamunan. “Bro, uda semester enam masih saja, jangan liat ke belakang terus, di depanmu ada cewek yang selalu tulus menunggumu,” Geri menunjuk ke arah Laras yang sedang bercanda gurau dengan teman-temannya.

Laras, mahasiswi aktif di Kampus, kini menjabat sebagai ketua umum Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Anjarmasta. Laras merupakan teman masa kecilku, tapi entah bagaimana ia bisa menaruh perasaan padaku.

Aku melirik jam tanganku, Sekarang sudah saatnya membuka acara penyambutan Mahasiswa Baru pada ospek hari ini. Tampak Laras berjalan meningalkan beberapa temannya, kemudian berhenti di depan para MABA. Aku mengikutinya kemudian, lalu berdiri di sampinya.

“Selamat datang adik-adik mahasiswa baru,” ucap Laras “Selamat datang di Fakultas kritis merah”

Sorakan dan tepuk tangan terdengar bersahutan, semangat baru terlihat jelas di mata-mata mahasiswa baru ini.

“Perkenalkan, saya Dania Larasati,” ucap Laras “Saya adalah ketua BEM Fisip Universitas Anjarmasta, dan di samping saya ini Rio Febrian, wakil ketua BEM Fisip Universitas Anjarmasta.”

Sebuah perkenalan singkat namun berhasil mengerakkan mataku kepada sosok perempuan yang kucari selama ini, dia berada di tengah kerumunan mahasiswa baru, Aku memperhatikannya lebih jelas lagi, Diva, gadis bus itu benar-benar ada di sana. Cepat, aku segera menyusulnya.

Aku melihatnya dengan dekat, namun ada yang berbeda darinya, aku merasa dia bukanlah Diva, matanya sedikit lebih besar, hidungnya lebih kecil dan tahi lalat di dekat bibirnya tidak ada.

“Ada apa kak?” Tanyanya.

“Kamu Diva?” Aku bertanya namun tidak yakin jika dia benar Diva.

“Kakak kenal Diva?” ia balik bertanya “Aku bukan Diva tapi Deva,” lanjutnya “Kami kembar, dan Diva sudah meninggal tiga tahun yang lalu.”

Sakit tak berdarah. Rasa sesak di dadaku tidak bisa ku tahan, aku tidak tahu harus bagaimana untuk tetap terlihat kuat, aku tidak bisa menahan air mataku. Aku menangisi perempuan untuk yang pertama kalinya.

Penulis bernama Alya Anjadelisya Hasibuan, Mahasiswi Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Syiah Kuala.

Editor: Cut Irene Nabilah