
Rossdita Amallya | DETaK
Aceh Besar – Asian Law Student’ Association (ALSA) Fakultas Hukum (FH) Universitas Syiah Kuala (USK) ajak masyarakat Gampong Layeun, Aceh Besar manfaatkan pekarangan rumah untuk kurangi angka stunting. Hal tersebut dilakukan melalui seminar dan workshop yang merupakan bagian dari kegiatan Care and Legal Coaching Clinic (CLCC) pada Sabtu, 26 November 2022.
Seminar dan workshop bertajuk “Pengetasan Malnutrisi dan Produktivitas Pertanian Menuju Era Society 5.0” ini menghadirkan 2 pemateri yaitu, Kepala Bidang (Kabid) Sarana dan Prasarana Dina Pertanian dan Perkebunan Aceh Nurlaila dan Kepala Bidang Konsumsi Dinas Pangan Aceh M.Fadhil .

Nurlaila dalam pemaparan materinya menjelaskan bahwa pupuk subsidi adalah pupuk yang harganya ditetapkan oleh pemerintah agar lebih murah daripada pupuk yang dijual bebas di pasaran. Selain itu, ada dua dasar dari pupuk ini yaitu Permentan No 15 tahun 2013 dan Permentan No 10 tahun 2022.
“Pupuk subsidi itu adalah pupuk yang diberi kemudahan seperti BBM subsidi. Jadi pupuk yang dibeli bukan dengan harga jual di pasaran, jadi dia ada harga eceran tertinggi yang ditetapkan oleh pemerintah jadi itu harganya lebih murah dari pupuk yang dijual bebas di pasaran,” ujar Nur.
Nurlaila juga menjelaskan pupuk subsidi diperlukan karena jumlah penduduk dan kebutuhan pangan yang besar, serta harga pangan yang harus terjangkau agar tidak mendorong inflasi.
“Kenapa harus ada pupuk subsidi? Nah, yang pertama jumlah penduduk kita begitu besar sehingga kebutuhan pangan juga besar kemudian kebutuhan pangan besar makanya produksi pangan perlu ditingkatkan sehingga pangan tersedia. Pangan cukup tersedia tetapi harga pangan harus terjangkau sehingga tidak mendorong inflasi,” terangnya.
Sementara itu, Fadhil menjelaskan bahwa jenis pangan terutama sayur dan buah kurang disukai oleh masyarakat Aceh. Maka dari itu, mereka melahirkan sebuah program dengan nama Pemanfaatan Lahan Perkarangan yaitu program yang mengajarkan masyarakat memproduksi sayur-sayuran untuk konsumsi rumah tangga.
“Sayur dan buah kami analisa orang Aceh kurang menyukai sayur dan buah sehingga dari analisa kami ini lahirlah suatu program yang namanya program pemanfaatan lahan perkarangan. Pemanfaatan lahan perkarangan di lingkungan rumah bahwa bagaimana kita memproduksi sayur-sayuran yang berada di depan rumah terutama untuk konsumsi rumah tangga,” jelas Fadhil.
Selajutnya, Fadhil juga menuturkan bahwa konsumsi rumah tangga yang protein serta gizinya tak seimbang dapat menyebabkan stunting. Hal ini membuat mereka membuat suatu gerakan bernama B2SA yaitu Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman.
“Konsumsi rumah tangga protein dan juga gizi yang tidak seimbang itu menyebabkan juga stunting akibat dari pada pemenuhan gizi yang masih kurang terutama pada ibu-ibu yang hamil. Ini yang kami gerakkan suatu namanya gerakan B2SA. Sehingga pekarangan di sekeliling wilayah rumah tangga menghasilkan sayur,“ tuturnya.
Di akhir, acara dilanjutkan dengan kegiatan workshop di mana para peserta melakukan penanaman sayur-sayuran di lahan yang telah disediakan.[]
Editor: Indah Latifa









