Sajida Suha Ba’ayyesh [AM], Wahyu Nuryanti [AM] | DETaK
Darussalam – Tiara Haji Faradiba, mahasiswa Fakultas Hukum (FH) Universitas Syiah Kuala (USK) memenangkan penghargaan Winning Team of UNESCO Water Ressilience Challenge 2022: Groundwater by the Water Agencies”. Pelaksanaan UNESCO Water Ressilience Challenge 2022 ini dimulai sejak 26 Agustus hingga 24 September 2022 yang dilaksanakan secara online dan offline.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh UNESCO yang berkolaborasi dengan The Water Agencies, organisasi nonprofit yang berpusat di Belanda. Organisasi ini berfokus pada peningkatan ketersediaan air bersih di daerah Asia.

“Jadi, sebenarnya kegiatan ini tuh kita kayak mau meningkatkan kesadaran masyarakat terutama yang tinggal di daerah biosferisef di kawasan Menoreh, Merbabu dan Merapi di Yoyakarta, Jawa Tengah. Tapi kali ini itu kegiatannya di Yogyakarta, kita kayak membangun kesadaran masyarakat gimana cara menjaga air tanah sekaligus menjaga cagar biosfernya itu untuk apa ya mencapai ketahanan air, jadi maksudnya ketahanan air itu apa supaya ketersediaan air bersih itu terus ada gitu karena kan sebenernya kayak air bersih yang bisa digunakan di dunia itu cuma 1% sementara kita ada lebih dari 7 juta umat manusia, jadi perlu untuk meningkatkan kesadaran itu supaya nantinya kita ga kekurangan air bersih,” ujar Tiara.
Tiara mengungkapkan bahwa kegiatan ini melibatkan mahasiwa dari berbagai macam latar belakang seperti teknik, hukum, sosial, dan sains dari seluruh universitas yang ada di Indonesia. Kegiatan ini tak hanya diikuti oleh kalangan mahasiswa tetapi juga diikuti oleh para praktisi. Peserta kegiatan ini terdiri dari 50 orang, 25 orang berasal dari Vietnam dan 25 orang berasal dari Indonesia. Semua peserta kemudian dibagi ke beberapa tim yang setiap tim terdiri dari 5 orang.
Meski mengalami hambatan, namun sikap saling membantu antar anggota kelompok dengan latar belakang jurusan yang berbeda ini membuat mereka bisa menanganinya.
“Kalo kakak sendiri itu kan hambatannya karena kan ini untuk kayak struktur tanah, berbagai macam itu kan yang apa ya expert-nya itu kan seharusnya di teknik ya jauhlah dari FH itu gatau apapun soal pertanahan dan teknik-teknik untuk memasang pipa itu gatau, jadi hambatannya mungkin di situ. Tapi Alhamdulillah karena tadi di dalam kelompoknya itu ada anak-anak dari berbagai macam latar belakang dari teknik lingkungan terus ada yang dari biologi jadi mereka ini sama-sama kek mana ya saling membantu gitu,” jelasnya.
Kemenangan tim mereka di latarbelakangi oleh proyek yang dekat dengan realita lingkungan yang sebenarnya. Pihak UNESCO sebagai penyelenggara kegiatan tersebut mencari tim yang memang memiiliki ide dan solusi yang paling memungkinkan untuk diimplementasikan pada masyarakat.[]
Editor: Aisya Syahira





![[DETOuR] Juhu Singkah: Ketika Rotan Muda Berubah Menjadi Hidangan yang Sarat Makna dari Kalimantan Tengah](https://detakusk.com/wp-content/uploads/2026/07/Ilustrasi-1-1-100x75.png)
![[Infografis] Jantong Hatee Rakyat Aceh: Menilik Lini Masa Perjalanan Institusi USK](https://detakusk.com/wp-content/uploads/2026/07/IMG_1740-100x75.png)
![[DETOuR] Sejarah Rawon: Dari Zaman Kerajaan hingga Zaman Modern](https://detakusk.com/wp-content/uploads/2026/07/rawon-100x75.jpeg)
![[DETOuR] Bunyi yang Tak Pernah Hilang](https://detakusk.com/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-09-at-01.15.27-100x75.jpeg)

![[DETouR] NUSANTARA](https://detakusk.com/wp-content/uploads/2026/07/Ilustrasi--100x75.png)