Beranda Terhangat Virus Influenza A Melonjak di Banda Aceh, Begini Tanggapan Dokter Ahli Paru

Virus Influenza A Melonjak di Banda Aceh, Begini Tanggapan Dokter Ahli Paru

BERBAGI
Hendra Kurniawan, dokter Spesialisasi Paru dan Dosen FK USk memberikan penjelasan terkait kasus lonjakan virus Influenza A di Banda Aceh, di ruang Klinik Cempala, 08/11/2025. (Neni Raina Mawaddah [AM]/DETaK).

Neni Raina Mawaddah [AM] & Musfirah [AM] | DETaK

Darussalam-Kasus Influenza A semakin mengalami peningkatan di Banda Aceh dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi serupa juga tengah terjadi di sejumlah negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Thailand, hingga Jepang. Menurut dr. Hendra Kurniawan, M.Sc, Sp.P, seorang dokter spesialisasi paru dan merupakan Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Syiah Kuala (USK), mengatakan bahwa penyakit ini tidak boleh dianggap sepele karena dapat menimbulkan komplikasi serius.

Ia menjelaskan bahwa virus influenza A menyerang saluran pernapasan, dan gejala klinisnya muncul lebih cepat dibanding flu biasa, bahkan hanya satu hari setelah terinfeksi. “Penderita biasanya mengalami demam tinggi, batuk, pilek, sakit kepala, nyeri tenggorokan, serta nyeri otot atau sendi. Itu yang membedakannya dari flu biasa,” jelasnya saat diwawancarai tim DETaK pada Sabtu, 8 November 2025 lalu.

Iklan Souvenir DETaK

Menurutnya, demam menjadi gejala utama influenza A. “Kalau flu biasa biasanya tidak disertai demam. Secara subjektif, demam itu suhu tubuh lebih tinggi dari normal, sementara secara objektif demam itu ketika suhu sudah di atas 37,8 derajat Celsius,” terangnya.

Ia juga menjelaskan bahwa virus influenza terbagi dalam beberapa tipe, yakni A, B, C, dan D. “Tipe A dan B paling sering menyerang manusia. Dulu sempat dikenal dengan istilah flu burung karena awalnya berasal dari unggas, tapi sekarang penularannya sudah tidak dari hewan lagi,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa influenza A harus disikapi serius karena di beberapa negara kasus ini menimbulkan kematian. “Di Singapura saja, tercatat ada sekitar 100 orang meninggal akibat influenza A, padahal itu negara maju. Jadi, masyarakat harus lebih waspada,” katanya.

Kelompok yang paling berisiko antara lain anak-anak, bayi, lansia, dan penderita penyakit penyerta (komorbid) seperti diabetes dan hipertensi. “Yang ditakutkan dari virus ini adalah ketika sudah menyerang paru-paru hingga menyebabkan pneumonia. Jika dibiarkan, bisa berkembang menjadi sepsis yang mengancam nyawa,” ungkapnya.

Meski begitu, dokter tersebut menambahkan bahwa influenza A umumnya dapat sembuh sendiri, asalkan daya tahan tubuh kuat. “Karena ini disebabkan oleh virus, jadi obat spesifiknya tidak ada. Tubuh akan melawan sendiri. Tapi, kalau daya tahan tubuh lemah, bisa muncul infeksi sekunder oleh mikroorganisme lain, dan inilah yang berbahaya,” tegasnya.

Ia juga menjelaskan bahwa penularan influenza A sangat cepat, terutama di tempat ramai. “Virus menular melalui percikan air liur saat batuk, bersin, atau berbicara. Bahkan penelitian menunjukkan jarak penyebarannya bisa mencapai 30–40 meter,” ujarnya. Ia juga menekankan pentingnya etika batuk yang benar, penggunaan masker, serta kebiasaan mencuci tangan untuk mencegah rantai penularan.

Influenza A disebut sebagai penyakit musiman, terutama saat pergantian musim. “Puncaknya diperkirakan terjadi pada Desember hingga Februari. Di masa pancaroba seperti sekarang, daya tahan tubuh menurun karena perubahan suhu dan kelembapan, sehingga risiko infeksi meningkat,” katanya.

Sebagai langkah pencegahan, masyarakat diimbau untuk menjaga daya tahan tubuh dengan pola hidup sehat. “Ketika demam, minum cukup air minimal delapan gelas sehari, makan bergizi seimbang dengan memperbanyak konsumsi buah-buahan berwarna, dan hindari makanan instan. Jika gejala semakin berat seperti sesak napas atau muntah, segera periksa ke fasilitas kesehatan,” imbaunya.

Ia juga menganjurkan olahraga rutin, istirahat cukup, serta menghindari stres dan rokok, karena hal tersebut berpengaruh pada sistem kekebalan tubuh. “Jangan lupa, vaksin influenza dapat diberikan setahun sekali untuk anak di atas enam bulan maupun orang dewasa, agar tubuh sudah mengenal virusnya sejak dini,” tutupnya.

Editor: Zarifah Amalia