Beranda Terhangat Tim Mahasiswa USK Raih Gold Medal, Perkenalkan Hydrogel Berbahan Lokal bagi Penderita...

Tim Mahasiswa USK Raih Gold Medal, Perkenalkan Hydrogel Berbahan Lokal bagi Penderita Eksim

BERBAGI
Mahasiswa USK melakukan foto bersama usai meraih perhargaan Gold Medal pada ajang Shanghai International Invention and Innovation Exhibition 2026. (Dok. peserta )

Defi Ulantari & Zahra Zakya Attamy | DETaK

Darussalam — Tim mahasiswa dari Universitas Syiah Kuala (USK) kembali menorehkan prestasi membanggakan pada ajang Shanghai International Invention and Innovation Exhibition 2026 melalui Inovasi ULVERA (Hydrogel Ulva Lactuca & Aloe Vera ). Inovasi ini dikembangkan sebagai produk hydrogel berbasis bahan alam yang berpotensi mendukung perawatan kulit pada penderita Dermatitis Atopik.

Tim yang terdiri atas Zahratul Dwi Safrina, Debby Tri Handayani, dan Nadira Yasvina  mendapat bimbingan dari Dr. apt. Suryawati, M. Sc., Kompetisi tersebut mempertemukan inventor dari berbagai negara untuk mempresentasikan inovasi dalam berbagai kategori, termasuk bidang kesehatan.

Iklan Souvenir DETaK

Debby Tri Handayani, sebagai salah satu anggota mengatakan inovasi ini lahir dari permasalahan yang cukup sering ditemukan di masyarakat yaitu Atopic Dermatitis atau eksim kering, dengan mengkombinasikan ekstrak selada laut (Ulva Lactuca) dan lidah buaya sebagai solusi berbahan alam. Penggunaan Selada laut juga menjadi peluang sumber daya lokal dengan nilai manfaat dan nilai tambah yang tinggi.

“Selada laut merupakan salah satu komoditas yang cukup melimpah di wilayah pesisir Aceh, namun pemanfaatannya dalam bidang kesehatan dan perawatan kulit masih belum optimal. Karena itu, kami melihat adanya peluang untuk mengembangkan bahan lokal tersebut menjadi produk yang memiliki nilai manfaat dan nilai tambah yang lebih tinggi,” ujarnya.

Selama proses persiapan lomba, Debby menyampaikan bahwa tim menghadapi tantangan terbesar dalam membagi waktu antara kegiatan akademik dan penelitian agar proses pengembangan inovasi terus berjalan tanpa mengganggu tanggung jawab akademik. 

“Tantangan terbesar bagi kami adalah membagi waktu antara penelitian dan kegiatan akademik. Sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran, jadwal kuliah dan berbagai kegiatan akademik cukup padat sehingga kami harus mengatur waktu dengan baik,” jelasnya.

Lebih lanjut, Debby berharap kompetisi ini terus menjadi tempat untuk menuangkan berbagai inovasi mahasiswa di setiap negara, khususnya partisipasi mahasiswa Indonesia agar semakin di kenal dan diapresiasi pada tingkat Internasional.

“Kami berharap kompetisi ini dapat terus menjadi wadah bagi para inovator muda dari berbagai negara untuk bertukar gagasan, memperluas wawasan, dan membangun kolaborasi. Selain itu, kami juga berharap semakin banyak mahasiswa Indonesia yang berpartisipasi sehingga inovasi-inovasi yang lahir dari perguruan tinggi Indonesia dapat semakin dikenal dan diapresiasi di tingkat internasional,” ungkapnya.[]

Editor: Kamilina Junita Damanik