Satria Liswanda | DETaK
Darussalam – Penggunaan tumbler sempat menjadi tren di kalangan mahasiswa Universitas Syiah Kuala (USK). Tren tumbler pertama kali muncul di USK setelah adanya sosialisasi besar-besaran dari bank sampah USK saat Pakarmaru tahun 2019.
Menurut kutipan dari berita “Bank Sampah Unsyiah Sediakan 200 Galon Air Minum Isi Ulang untuk Pakarmaru” yang diterbitkan DETaK USK pada tanggal 29 Agustus 2019. Saat Pakarmaru 2019, Bank Sampah Universitas Syiah Kuala bekerjasama dengan Panitia Pakarmaru, menyediakan lebih dari 200 galon air minum isi ulang dan sejumlah tempat sampah. Sebelum penyelenggaraan Pakarmaru, mahasiswa baru sudah diinformasikan agar membawa botol minum (tumbler) pribadi dengan tujuan untuk meminimalisir penggunaan plastik dan mengedukasi mahasiswa untuk USK bebas sampah.

Seiring berjalannya waktu, tren tumbler di USK mulai meredup di kalangan mahasiswa. Saat ini tumbler mulai jarang terlihat di kalangan mahasiswa, bahkan saat ini sebagian mahasiswa lebih memilih membawa air mineral botolan.
Ketua Bank Sampah USK, Rama Herawati mengatakan bahwasanya tren tumbler meredup di USK karena kondisi pandemi Covid-19. Ia menjelaskan khawatir jika banyaknya sentuhan tangan di galon penampung air untuk mengisi tumbler akan berdampak dalam penyebaran Covid-19.
“Karena di masa diserang Covid-19, kita percaya kuman dan segala macam ada di gelas, jadi tidak terlalu ketat untuk tren tumbler ini, karena orang juga ragu ketika menyentuh tempat pengisian air (galon) untuk tumbler. Jadi longgarnya sedikit karena itu, tapi di acara-acara internal tetap ada anjuran mengurangi sampah plastik dengan membawa tumbler,” jelasnya.
Selain itu Rama mengatakan kurangnya sosialisasi tumbler ke mahasiswa baru di masa pandemi ini juga menjadi salah satu alasan meredupnya tren tumbler di USK, tidak seperti yang terjadi saat Pakarmaru 2019 di mana belum muncul pandemi Covid-19.
“Saat pandemi ini juga tidak ada Pakarmaru secara langsung, kalau dulu kita kumpul semua di satu tempat dan bisa langsung bilang, mungkin dulu satu orang yang bawa botol kemasan, sebegitu ketatnya kami. Jangan! Jangan! Jangan! Berjalan kami semua. Inikan tidak ada lagi karena menghindari yang tadi (Covid-19), dan saling menghormati dulu pelan-pelan, tapi kalau ada puncak acara dan acara-acara Pak Rektor tidak ada botol kemasan karena tetap kita kawal dengan baik,” tegasnya.
Rafika Suwaila, salah satu mahasiswa FMIPA USK menyebutkan alasannya masih membawa tumbler ke manapun dia pergi dengan alasan menghemat biaya, praktis, dan wujud cinta lingkungan.
“Alasan saya masih membawa tumbler ialah agar menghemat biaya, lebih paktis, dan mencintai lingkungan karena kalau menggunakan air mineral botol menambah tingkat sampah di lingkungan,” ujar Rafika.
Melihat kondisi saat ini Rafika menyayangkan tren tumbler di USK yang sudah sangat berkurang di kalangan mahasiswa daripada tahun-tahun sebelumnya. Dia mengatakan bahwa tren ini sangat bagus untuk tetap dilestarikan.
“Sangat disayangkan tren tumbler saat ini sudah sangat berkurang dari tahun-tahun sebelumnya, di mana sebelumnya rata-rata mahasiswa datang ke kampus dengan membawa tumbler. Namun saat ini banyak mahasiswa lebih membawa air mineral botolan. Jadi sangat disayangkan tren yang dulunya sangat bagus untuk tetap dilestarikan namun saat ini sudah berkurang,” tambahnya.[]
Editor: Aisya Syahira










