Puisi | DETaK
Tuhan, kuatkan aku di saat pundakku merasa lemah
Dekap aku saat aku kehilangan arah
Bimbing aku saat aku merasa hampa
Sadarkan aku di saat aku bahagia
…
Semalam menangis diam tanpa suara
Semua sesak di dada begitu menggebu untuk diluapkan
Entah aku yang begitu rentan atau memang mulut manusia begitu tajamnya menggores hati
Berdamai sesaat,
Menerima,
Melupakan, tapi bayang itu pelan menampakkan dirinya
Sesaat tersenyum,
Merenung,
Tertawa seakan tanpa beban, lalu terkadang merasa kosong

Derap langkah anggun menyapa
Lantas arah langkah terhenti tidak tahu harus ke mana?
Begitu banyak beban yang harus diuraikan
Begitu banyak mimpi yang ingin diraih, tetapi masih tetap sama
Terhalang akan satu tembok yang bernama kebingungan
Berhenti
Terseret arus
Entah mana yang harus kulalui terlebih dulu
Tapi satu yang pasti, aku belajar untuk tidak menyalahkan siapapun
Tidak jua Tuhan yang Maha Agung, Maha Sempurna
Tuhan,
Jangan tinggalkan hamba-Mu dalam kegelapan ini
Tuntun dia pada cahaya-Mu
Jangan biarkan dia terpana dengan lingkaran setan yang seakaan terus saja terlihat indah dan menarik
Tuhan,
Beri ikhlas di hati kami
Lapangkanlah dada ini agar kami bisa memahami semua garisan takdir
Tuhan,
Tuntun hamba-Mu ini untuk terus berbuat kebaikan meskipun kadang ia tidak diperlakukan sebaliknya
Tuhan, tiada penolong selain Engkau
Allah, tiada kekuatan selain Engkau
Allah, pada-Mu kami kembali .[]
Penulis adalah Siti Manzila Amallia, mahasiswi Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala angkatan 2019.
Editor: Indah Latifa










