Opini | DETaK
Sejarah Indonesia tidak pernah lepas dari suara rakyat. Dari ruang-ruang kampus hingga jalanan kota, dari mimbar diskusi hingga gelombang demonstrasi, kritik telah menjadi bagian penting dari perjalanan bangsa. Berbagai perubahan besar dalam sejarah Indonesia lahir bukan dari kesunyian, melainkan dari keberanian warga negara yang bersuara ketika melihat ketidakadilan. Namun hari ini, di tengah berbagai persoalan yang terus bermunculan, mulai dari korupsi yang tak kunjung usai, tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat, kerusakan lingkungan, hingga menurunnya kepercayaan terhadap sejumlah institusi publik, muncul sebuah pertanyaan yang mengusik; mengapa suasana justru terasa lebih tenang, sementara alasan untuk marah semakin banyak?
Barangkali tanda bahaya terbesar bagi sebuah bangsa bukanlah ketika rakyatnya berteriak. Bukan ketika jalanan dipenuhi demonstran atau media sosial dibanjiri kritik. Sebab selama masyarakat masih bersuara, masih ada harapan bahwa perubahan dapat diperjuangkan. Tanda bahaya yang sesungguhnya justru muncul ketika orang-orang mulai merasa bahwa berbicara tidak lagi mengubah apa pun, ketika kekecewaan berubah menjadi kelelahan, dan ketika harapan perlahan digantikan oleh sikap ketidakpedulian. Ada yang berbeda dari Indonesia saat ini. Negara yang dulu dikenal dengan mahasiswanya yang turun ke jalan, dengan massa yang memadati bundaran dan meneriakkan tuntutan kepada para pemegang kekuasaan, kini terasa lebih sunyi. Bukan berarti persoalan telah selesai. Bukan pula karena rakyat telah sepenuhnya puas. Kesunyian itu menyimpan banyak kekecewaan yang terlalu lama dipendam, hingga sebagian orang memilih diam bukan karena setuju, melainkan karena lelah.

Ada yang berbeda dari Indonesia saat ini, negara yang dulu dikenal dengan mahasiswanya yang turun ke jalan, dengan massa yang memadati bundaran dan meneriakkan nama-nama pejabat, kini terasa. sunyi. Bukan sunyi karena damai. Tapi sunyi karena lelah. Permasalahan datang bertubi-tubi dan rakyat seperti dipaksa menelannya satu per satu tanpa jeda. Nilai mata uang, kesehatan yang tidak merata, akses pendidikan yang tak pernah diperbaiki, para pengajar yang tak pernah diberikan kesejahteraannya, biaya hidup yang terus meningkat menyebabkan ketimpangan pada sektor sosial dan ekonomi.
Kepala negara yang diharapkan membawa banyak kemajuan justru mendatangkan kemunduran, Program Makan Bergizi Gratis yang digadang-gadang sebagai wajah keberpihakan pemerintah terhadap rakyat kecil, justru mencoreng dirinya sendiri sebelum sempat membuktikan manfaatnya. Korupsi menyusup ke dalamnya bahkan sebelum makanan itu sempat dingin di meja anak-anak sekolah. Publik bertanya-tanya apakah niat baik itu benar-benar ada, atau sejak awal memang hanya kendaraan lain menuju kantong yang sama? Tepat setelah penangkapan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) publik benar-benar dibuat kehilangan harapan. Sejak awal program ini dibuat dengan menghabiskan banyak sekali anggaran negara yang alangkah baiknya dapat dialokasikan kepada bantuan pendidikan dan kesehatan daripada menjadi jalur penyelewengan untuk keuntungan seseorang.
Sementara itu di Kalimantan, Papua, Sumatera dan hampir keseluruhan hutan yang harusnya dijaga terus merintih. Penebangan liar berjalan dengan kesantaian yang mencolok seolah ada kekuatan tak kasat mata yang menjamin keamanannya. Destinasi wisata yang diagung-agungkan kini hanya menjadi ladang tandus pertambangan, buah dari keegoisan para petinggi yang katanya dari sanalah dapat menambah pendapatan negara. Nama-nama besar disebut, penyelidikan dibuka, lalu menguap. Masyarakat adat kehilangan tanah warisan para leluhur yang sangat dijaga dan dihormati, orang kota kehilangan udara bersih, dan yang bertanggung jawab kehilangan rasa malu. Tak jarang proyek pembangunan besar yang menghabiskan triliunan anggaran negara terpaksa mangkrak, Tak lama berita dan kasus terkuak kemudian pemberitaan di atur untuk membahas pemberitaan yang tidak krusial selain isu negara, katanya ini adalah ’pengalihan isu’ taktik agar publik tidak terus menerus mempermasalahkan hal demikian kita dibuat lupa dan proyek-proyek demikian tetap akan dilanjutkan.
Rupiah pun ikut limbung, kehilangan kestabilannya dipasar keuangan. Melemah bukan karena satu sebab, tapi karena akumulasi ketidakpercayaan terhadap kebijakan, terhadap kepastian hukum, terhadap masa depan investasi di negeri yang belum selesai membereskan dirinya sendiri, dan yang menangani sebagai otoritas tertinggi pengatur kestabilan moneter dipertanyakan kredibilitasnya, apakah benar-benar layak dan mampu menghadapi ketidakstabilan mata uang sebagi hal yang krusial dalam menunjang kegiatan masyarakat bertransaksi. Harga-harga naik, daya beli turun, dan meja makan keluarga biasa semakin terasa sempit. Banyak tulang punggung keluarga kehilangan pekerjaan karena perusahaan juga tak mampu menggaji karyawan, upah yang lemah begitu juga dengan rupiah. Akhirnya banyak yang kelaparan dan hidup penuh dengan kekurangan membuat permasalahan lain kemudian bermunculan.
Pertanyaannya bukan lagi apa yang salah, Pertanyaannya adalah mengapa rakyat hanya diam saja? Tak ada sorak perlawanan hanya pesan dan harapan yang disampaikan di media sosial sebagai sebuah reminder agar rakyat tak pernah berhenti kritis terhadap keputusan apa yang saat ini sedang dijalani oleh sang kepala negara. Dulu, satu isu besar cukup untuk menggerakkan ribuan kaki ke aspal. Sekarang, tiga isu besar sekaligus justru membuat orang menutup mata dan meneruskan harinya. Bukan karena mereka tidak marah, melainkan mereka sudah terlalu sering bersuara dan tidak melihat hasilnya. Media dibungkam dan disetir untuk memframing terhadap pemberitaan yang mereka rasa layak dikonsumsi masyarakat, kebenaran terus ditutup-tutupi, demo dibubarkan, mereka ditangkap dan tak jarang berakhir di tahanan atau langsung bertemu sang tuhan, barangkali dipaksa mengaku kenapa kegiatan semacam demo harus terus dilanjutkan. Dipukuli dan terus dipaksa mengaku, jika rakyat kecil mulai membuat pengaduan tuntutan diabaikan, pelaku dilindungi, dan besok paginya semua berjalan seperti biasa.
Ini bukan apatis, ini adalah bentuk protes paling menyedihkan, ketika rakyat berhenti percaya bahwa suaranya bisa mengubah apapun. Ketika rakyat memutuskan unuk diam-diam melanjutkan hidup ditengah lelahnya mengejar rupiah dengan rupiah yang saat ini menjadi mata uang yang kian melemah. Ada yang menyebutnya keputusasaan kolektif. Ketika energi untuk melawan sudah dipakai habis oleh sekadar bertahan hidup. Ketika berita buruk datang begitu sering hingga otak memilih mematikan kepekaannya sebagai mekanisme bertahan. Ketika anak muda yang harusnya menjadi motor perubahan justru sibuk memikirkan cara membayar kos bulan depan di tengah rupiah yang terus merosot.
Tapi diam bukan berarti setuju.
Di balik kesunyian itu, ada amarah yang mengendap seperti bara yang ditimbun abu. Tidak terlihat dari permukaan, tidak selalu terdengar dalam percakapan sehari-hari, tetapi tetap hidup, tetap menyala, menunggu arah angin yang tepat untuk kembali membesar. Ada penilaian yang sedang ditimbang dalam benak jutaan orang, ada kekecewaan yang dihitung perlahan, dan ada ingatan kolektif yang tidak semudah itu dihapus oleh waktu, janji, ataupun pergantian kekuasaan.
Rakyat Indonesia bukan tidak tahu. Mereka tahu terlalu banyak. Mereka melihat berita yang silih berganti, menyaksikan janji yang berulang, mendengar pidato yang terdengar indah, lalu membandingkannya dengan kenyataan yang mereka hadapi setiap hari. Mereka tahu ketika keadilan berjalan lebih lambat bagi sebagian orang dan lebih cepat bagi yang lain. Mereka tahu ketika suara mereka hanya dicari menjelang pemilihan, lalu perlahan menghilang dari prioritas setelah kemenangan diraih. Mereka tahu, mengingat, dan mencatat.
Justru karena mereka tahu terlalu banyak, banyak di antara mereka memilih diam. Bukan karena setuju. Bukan karena menyerah. Tetapi karena mereka mulai memahami satu kenyataan yang pahit: bahwa sistem yang seharusnya mendengar keluhan mereka telah terlalu lama berlatih untuk menulikan diri. Teriakan demi teriakan datang silih berganti, namun sering kali berakhir sebagai gema yang memantul kembali kepada mereka yang bersuara.
Yang perlu dikhawatirkan bukan ketika rakyat memenuhi jalanan dengan spanduk dan tuntutan. Demonstrasi, betapapun riuhnya, masih merupakan tanda bahwa harapan itu ada. Orang yang turun ke jalan masih percaya bahwa suaranya mungkin didengar. Mereka masih percaya bahwa perubahan masih mungkin diperjuangkan. Mereka masih menganggap negara sebagai sesuatu yang layak diajak berbicara.
Yang jauh lebih mengkhawatirkan adalah ketika jalanan mulai sepi. Ketika tidak ada lagi energi untuk memprotes. Ketika orang-orang memilih melanjutkan hidup mereka dengan keyakinan bahwa tidak ada yang akan berubah, apa pun yang mereka lakukan. Ketika kemarahan tidak lagi berubah menjadi tuntutan, melainkan menjadi apatisme. Karena pada saat itulah hubungan antara rakyat dan negara mulai retak pada tingkat yang paling mendasar: hilangnya kepercayaan.
Sebuah bangsa tidak runtuh hanya karena kritik yang keras. Bangsa justru sering kali melemah ketika warganya berhenti peduli. Ketika mereka berhenti berharap. Ketika mereka tidak lagi merasa memiliki masa depan bersama yang layak diperjuangkan. Sebab harapan adalah fondasi tak terlihat yang menjaga masyarakat tetap bertahan di tengah berbagai ketidakadilan dan kesulitan. Selama harapan itu masih ada, selalu ada ruang untuk perbaikan. Namun ketika harapan itu habis, yang tersisa hanyalah jarak yang semakin lebar antara negara dan rakyatnya.
Dan sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa ketenangan semacam itu sering kali menipu. Ia tampak damai dari luar, tetapi di dalamnya tersimpan akumulasi kekecewaan yang terus bertambah. Tidak meledak hari ini, mungkin juga tidak besok. Namun setiap ketidakadilan yang diabaikan, setiap suara yang disepelekan, dan setiap janji yang dikhianati menjadi lapisan demi lapisan yang menumpuk dalam ingatan masyarakat. Ditengah negara yang isinya hanya manusia serakah yang terus mengeruk hasil alam Indonesia demi kepentingan keluarga dan dirinya semata, masih ada rakyat yang benar-benar bertahan dan saling menguatkan, mendukung. Menunjukkan atensi sebagai bangsa yang cinta tanah air sebagai bukti untuk memperttahankan kemerdekaan dan cintanya terhadap bangsa dan tanah air. Karena sebuah bangsa yang kehilangan harapannya kepada negaranya sendiri bukanlah bangsa yang tenang. Ia adalah bangsa yang sedang berdiri di ambang persimpangan berbahaya, tempat kepercayaan berubah menjadi sinisme, kepedulian berubah menjadi ketidakacuhan, dan kesabaran berubah menjadi sesuatu yang tak lagi dapat diprediksi.
Dan ketika sebuah negara telah kehilangan kepercayaan rakyatnya, persoalannya bukan lagi bagaimana meredam demonstrasi, melainkan bagaimana mengembalikan keyakinan bahwa suara rakyat masih memiliki arti. Sebab tanpa keyakinan itu, yang hilang bukan hanya dukungan terhadap pemerintah, tetapi juga perekat yang selama ini menjaga sebuah bangsa tetap utuh.
Penulis bernama Amanda Tasya, Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Syiah Kuala.
Editor: Zalifa Naiwa Belleil










