Beranda Cerpen Cinta dalam Diam

Cinta dalam Diam

BERBAGI
Ilustrasi. (Musfirah/DETaK)

Cerpen | DETaK

Tapi hanya diketahui oleh orang yang merasakannya

Iklan Souvenir DETaK

Aku pernah percaya bahwa semua pertemuan memiliki alasan. Ada yang datang untuk menetap, ada pula yang hanya singgah sebentar lalu pergi tanpa meninggalkan jejak. Namun, ada satu pertemuan yang membuatku bertanya-tanya hingga hari ini.

Aku tidak mengenalnya.

Aku bahkan tidak tahu apakah dia mengingat pertemuan pertama kami. Mungkin baginya, aku hanyalah salah satu dari sekian banyak orang yang pernah berpapasan dengannya di sekolah. Seseorang yang wajahnya mungkin hanya lewat begitu saja dalam ingatan. Tapi entah mengapa, tidak denganku.

Pertemuan itu sebenarnya sangat sederhana.

Aku melihatnya di sekolah pada suatu hari. Kami hanya berpapasan, lalu pandangan kami bertemu selama beberapa detik. Tidak ada percakapan. Tidak ada sapaan. Setelah itu kami kembali berjalan ke arah masing-masing, seolah tidak terjadi apa-apa.

Seharusnya memang tidak terjadi apa-apa. Tapi sejak hari itu, aku mulai penasaran.

Aku tidak tahu apa yang membuatku tertarik. Mungkin karena wajahnya. Mungkin karena caranya tersenyum. Atau mungkin karena memang ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dari pertemuan singkat itu.

Aku hanya tahu satu hal.

Aku ingin melihatnya lagi. Bukan berarti ingin memilikinya. Bukan juga ingin menjadi seseorang yang penting baginya.

Aku hanya ingin bertemu sekali lagi.

Aneh, bukan?

Menyukai seseorang yang bahkan tidak pernah mengajakmu berbicara sekalipun.

Aku pun tidak pernah mencoba mendekatinya. Aku hanya sesekali memperhatikan dari kejauhan jika kebetulan melihatnya. Kadang aku bahkan tidak sengaja mencari sosoknya di antara banyak siswa.

Sampai suatu hari, aku menemukan akun media sosialnya.

Aku tahu namanya. Aku tahu beberapa hal kecil tentang dirinya. Dan aku juga tahu satu hal yang membuatku mengurungkan niat untuk berharap lebih jauh.

Dia sudah memiliki seseorang.

Aku menatap layar ponsel cukup lama saat mengetahui hal itu. Ada sedikit rasa kecewa, meskipun  sebenarnya aku tidak punya hak untuk kecewa. Dia tidak pernah menjanjikan apa-apa kepadaku.

Kami bahkan tidak berteman.

Maka sejak saat itu aku mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa perasaan ini tidak perlu dibawa ke mana-mana.

Aku tetap menyukainya, mungkin. Tapi cukup dari jauh.

Aku tidak ingin menjadi alasan seseorang terluka hanya karena perasaan yang bahkan belum tentu berarti apa-apa.

Waktu terus berjalan.

Tanpa terasa, kelas tiga SMA hampir selesai.

Semua orang mulai sibuk membicarakan kelulusan, rencana setelah sekolah, dan kehidupan yang akan segera berubah. Kami akan meninggalkan sekolah yang selama bertahun-tahun menjadi tempat bertemu setiap hari.

Dan di tengah semua itu, aku tiba-tiba sadar bahwa mungkin setelah lulus nanti, aku tidak akan pernah melihatnya lagi. Pikiran itu terasa sangat aneh. Selama ini aku selalu berpikir bahwa masih ada waktu.

Masih ada hari esok.

Masih ada kesempatan untuk sekadar berpapasan.

Ternyata waktu tidak sebanyak yang kukira.

Malam sebelum acara wisuda, sekolah terasa lebih ramai dari biasanya. Banyak siswa datang untuk mempersiapkan berbagai hal. Suara tawa dan percakapan terdengar di mana-mana.

Aku berjalan bersama beberapa teman ketika tanpa sengaja melihat seseorang yang sangat kukenal. Dia.

Aku sempat terdiam. Setelah sekian lama, akhirnya kami bertemu lagi.

Kami berada cukup jauh satu sama lain. Aku tidak berniat menghampirinya. Begitu pula dia. Namun entah bagaimana, pandangan kami bertemu. Aku tidak tahu siapa yang tersenyum lebih dulu. Yang kutahu, beberapa detik kemudian kami sama-sama tersenyum.

Sederhana sekali. Tidak ada kata-kata. Tidak ada percakapan.

Hanya senyum dari kejauhan. Tapi malam itu, senyum tersebut terus teringat di kepalaku.

Aku bahkan sempat berpikir, mungkin besok kami akan bertemu lagi.

Mungkin aku bisa mengucapkan selamat.

Mungkin setelah itu, kami bisa saling mengenal.

Namun ternyata, harapan kecil pun tidak selalu mendapatkan kesempatan untuk menjadi kenyataan.

Hari wisuda datang.

Sekolah dipenuhi siswa dan keluarga mereka. Aku beberapa kali mencari sosoknya di antara keramaian dan menemukannya. Kami pun berpapasan lagi.

Aku pulang hari itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ada bahagia karena satu tahap kehidupan telah selesai. Ada sedih karena harus meninggalkan banyak hal. Dan ada sedikit rasa kehilangan untuk seseorang yang sebenarnya tidak pernah menjadi milikku. Setelah hari itu, aku tidak pernah bertemu dengannya lagi.

Beberapa bulan sebelumnya, aku memang sudah menemukan akun media sosialnya dan mengikutinya. Aku tidak terlalu berharap akan mendapatkan balasan. Ternyata aku benar.

Berbulan-bulan tidak ada apa-apa. Sampai beberapa hari setelah wisuda. Sebuah notifikasi muncul di ponselku. Dia mengikutiku. Aku menatap layar cukup lama. Lalu tersenyum. Sesederhana itu. Setelah berbulan-bulan, akhirnya dia mengikuti balik.

Aku tidak tahu apa alasannya. Mungkin dia baru menyadari siapa aku. Mungkin dia melihat namaku di daftar pengikutnya. Atau mungkin memang tidak ada alasan khusus. Aku tidak ingin terlalu banyak menafsirkannya. Lagi pula, setelah itu tetap tidak ada apa-apa.

Tidak ada pesan.

Tidak ada percakapan.

Tidak ada awal dari sebuah kisah.

Kami hanya saling mengikuti. Dua orang yang pernah berpapasan, pernah saling tersenyum, lalu melanjutkan kehidupan masing-masing.

Beberapa waktu kemudian, aku menyadari bahwa hubungan dia dengan seseorang yang dulu bersamanya sudah tidak terlihat lagi. Ada bagian kecil dalam diriku yang merasa senang. Dan justru karena itulah aku merasa bersalah. Aku bahkan tidak tahu apakah mereka benar-benar sudah berpisah, tetapi aku sudah membiarkan sebuah kemungkinan kecil tumbuh di kepala. Aku buru-buru mengingatkan diriku sendiri bahwa seseorang yang sedang sendiri bukan berarti sedang menungguku.

Aku masih percaya bahwa sesuatu yang memang ditakdirkan untukku tidak perlu kurebut dari siapa pun. Maka aku memilih diam. Aku membawa perasaan itu dalam doa. Hampir setiap kali mengingatnya, aku mengatakan hal yang sama kepada Tuhan.

“Kalau memang dia jodohku, pertemukan kami.”

Lalu aku menambahkan, “Kalau memang bukan, cabut saja perasaan ini.”

Aku tidak ingin terus menyukai seseorang yang mungkin tidak akan pernah menjadi bagian dari hidupku.

Aku tidak ingin berharap pada sesuatu yang bahkan tidak pernah dimulai. Namun ternyata, menghilangkan perasaan tidak semudah mengucapkannya.

Hari berganti. Bulan berganti. Bahkan tahun pun ikut berganti. Untuk waktu yang cukup lama, perasaanku padanya tetap sama. Namun, tanpa kusadari, kehidupanku mulai dipenuhi hal-hal lain. Ada banyak hal yang harus kupikirkan dan ada banyak impian yang ingin kukejar.

Perlahan, dia tidak lagi menjadi bagian besar dari pikiranku.

Aku masih tahu namanya. Aku masih tahu wajahnya. Aku masih ingat senyum kami malam sebelum wisuda. Tapi semuanya terasa semakin jauh. Sampai suatu hari, seseorang menyebut namanya dalam sebuah percakapan. Aku hanya menjawab, “Oh, dia?”

Tidak ada debar. Tidak ada rasa penasaran. Tidak ada keinginan untuk membuka media sosialnya dan mencari tahu bagaimana kabarnya. Aku hanya merasa biasa saja.

Saat itulah aku sadar.

Mungkin Tuhan benar-benar mendengar doaku. Di mana aku pernah meminta jika dia bukan jodohku, hilangkan perasaan ini. Dan Tuhan tidak mengambilnya sekaligus. Dia membiarkannya pergi perlahan. Sedikit demi sedikit.

Sampai suatu hari, perasaan yang dulu begitu sering kupikirkan berubah menjadi sebuah kenangan yang bisa kuingat tanpa rasa sakit. Mungkin memang begitu cara Tuhan menjawab doa. Tidak selalu dengan mempertemukan. Tidak selalu dengan memberikan apa yang kita inginkan. Kadang, jawaban-Nya adalah membuat hati kita berhenti menginginkan sesuatu yang ternyata bukan milik kita. Mungkin memang bukan. Atau mungkin juga jalan kami hanya belum sampai pada titik pertemuan berikutnya. Entahlah.

Jika suatu hari nanti kami dipertemukan lagi, aku akan menerimanya sebagai bagian dari takdir. Jika tidak, aku juga akan baik-baik saja. Karena aku pernah menyukai seseorang tanpa pernah memilikinya. Aku pernah mendoakan seseorang tanpa pernah dia tahu. Aku pernah menyimpan perasaan yang tidak pernah sempat menjadi sebuah hubungan. Dan ternyata, tidak semua perasaan harus berakhir dengan kebersamaan. Ada perasaan yang hanya datang untuk mengajarkan kita tentang sabar. Tentang batas. Tentang doa. Dan tentang melepaskan.

Aku pernah berharap pada sebuah nama. Kini aku hanya menitipkannya kepada Tuhan.

Aku tidak tahu apakah dia jodohku atau bukan. Mungkin memang bukan. Atau mungkin juga jalan kami hanya belum sampai pada titik pertemuan berikutnya.

Tidak ada pengakuan.

Tidak ada penolakan.

Tidak ada perpisahan.

Hanya dua orang yang pernah bertemu.

Tiga kali.

Saling tersenyum dari kejauhan. Lalu berjalan menuju kehidupan masing-masing. Dan aku? Aku pernah mencintainya dalam diam.

Sampai akhirnya aku belajar bahwa terkadang, bentuk cinta yang paling tulus adalah membiarkan seseorang tetap menjadi bagian dari takdir Tuhan, bukan memaksanya menjadi bagian dari takdir kita. Mungkin dia bukan milikku. Mungkin memang tidak pernah akan menjadi milikku. Namun aku tidak lagi mempermasalahkannya. Karena pernah merasakan perasaan itu saja sudah cukup. Cukup untuk membuatku tahu bahwa pernah ada seseorang yang kusukai tanpa alasan yang jelas. Seseorang yang tidak pernah tahu bahwa dirinya pernah menjadi bagian dari doaku. Seseorang yang mungkin hanya menganggapku sebagai orang asing. Dan mungkin, memang hanya itu yang seharusnya terjadi. Dua orang asing yang pernah saling tersenyum. Dua orang asing yang pernah menyimpan cerita yang tidak pernah mereka ketahui satu sama lain.

Sebuah cinta yang tidak pernah diucapkan. Tidak pernah dimiliki.

Hanya hidup diam-diam di dalam hati. Lalu perlahan pergi.

Diam-diam pula.

Penulis bernama Musfirah, Mahasiswi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Program Studi Statistika, Universitas Syiah Kuala.

Editor: Nasywa Nayyara Tsany