Beranda Resensi Perempuan di Titik Nol; Ketika Perempuan Tidak Memiliki Hak Memilih

Perempuan di Titik Nol; Ketika Perempuan Tidak Memiliki Hak Memilih

BERBAGI
Buku Perempuan di Titik Nol. (Dok. Ist)

Resensi | DETaK

Identitas Buku

Judul: Perempuan di Titik Nol

Iklan Souvenir DETaK

Penulis: Nawal El Saadawi

Tahun Terbit: 1975

Tebal Buku: 155

ISBN: 978-602-433-438-3

Tentang Penulis

Nawal As Saadawi lahir pada 27 Oktober 1931 di Mesir. Dia adalah seorang feminis yang berkerja sebagai dokter kesehatan masyarakat, psikiater, penulis, dan pembela hak-hak perempun di Mesir. Ia digambarkan sebagai “Smone de Beauvoir dari dunia Arab” dan sebagai Perempuan paling radikal di Mesir. Nawal As Saadawi meninggal pada usia 89 tahun di sebuah rumah sakit di Kairo, Mesir, pada 21 Maret 2021 dikarenakan sakit.

Perempuan di titik nol menjadi karya paling ikoniknya yang kemudian diterjemahkan dalam berbagai bahasa, termasuk Bahasa Indonesia. Karya Nawal As Saadawi ini menggambarkan pertentangan antara laki-laki dan perempuan dalam budaya yang menetapkan perempuan dalam posisi yang rendah.

Sinopsis

Menceritakan tentang Firdaus, perempuan kelahiran Mesir yang sejak kecil tidak memiliki pilihan hanya karena dia seorang perempuan. Setelah ayah dan ibunya meninggal dunia sang paman membawa Firdaus untuk tinggal bersamanya. Firdaus akhirnya bersekolah di sebuah asrama. Setelah lulus dari sekolah menengah atas, Firdaus dinikahkan karena faktor ekonomi, dan menyekolahkan anak terlalu tinggi akan menjadi aib. Maka menikahlah Firdaus dengan Syekh Mahmoud yang umurnya jauh lebih tua dibandingkan dirinya. Kekerasan fisik oleh suaminya menyebabkannya memilih untuk meninggalkan suaminya dan mencoba menjalani hidup lebih baik lagi. Namun dunia tidak pernah terasa baik-baik saja untuk dirinya, hingga pada akhirnya dia harus berakhir di dalam penjara menunggu kematiannya karena dia memilih mempertahankan prinsipnya.

Tentang Buku

Buku yang menggambarkan bagaimana wanita dianggap tidak boleh memiliki pilihan ini sempat ditolak oleh beberapa penerbit di Mesir, sehingga akhirnya Saadawi memilih menerbitkan buku ini di sebuah penerbit di Lebanon pada tahun 1975. Amir Sutaarga menjadi penerjemah buku Perempuan di Titik Nol dalam Bahasa Indonesia yang kemudian diterbitkan oleh Yayasan Pendidikan Obor Indonesia pertama kali pada tahun 1989.

Firdaus adalah perefleksian diri dari seorang Saadawi. Dimana baginya tidak banyak orang yang siap dengan kematian demi mempertahankan sebuah prinsip. Namun dapat terlihat dari novel tersebut bagaimana Firdaus tetap memilih mempertahankan prinsipnya hingga akhir. Walaupun dikisahkan bahwa sejak kecil Firdaus tidak pernah memiliki hak untuk memilih, namun pada akhirnya dia berani untuk memilih jalan hidupnya sendiri dan memilih terus menggenggamnya.

Kelebihan dan kekurangan buku

Buku ini menjadi suara bagi perempuan-perempuan yang memiliki kisah yang sama seperti Firdaus. Bahasa yang lugas menjadi salah satu kelebihan dari buku ini karena disampaikan secara jujur dan apa adanya. Perjuangan Firdaus menjadi pembelajaran bagi perempuan lainnya bahwa kita berhak untuk memilih dan memiliki kesempatan yang sama seperti laki-laki. Namun, beberapa unsur kekerasan, dan pelecehan dapat membuat sebagian pembaca merasa kurang nyaman, jadi disarankan buku ini dibaca saat pikiran sedang tenang. Ditambah lagi, sebagai buku terjemahan, pembaca dituntut untuk berpikir lebih dalam agar tidak salah mengartikan dan menangkap maksud cerita.

Penulis bernama Qatrunnada, Mahasiswi Program Studi Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, Universitas Syiah Kuala.

Editor: Zalifa Naiwa Belleil