Beranda Opini Menilik Krisis Iklim Melalui Pandangan Psikologi

Menilik Krisis Iklim Melalui Pandangan Psikologi

BERBAGI
Ilustrasi. (Sumber: Pinterest)

Opini | DETaK

Saat ini, Covid-19 masih menjadi sebuah isu global yang dihadapi di seluruh penjuru dunia. Namun tanpa kita sadari terdapat sebuah krisis besar yang juga tidak bisa kita abaikan, yaitu krisis iklim. Berbagai fenomena alam yang terjadi belakangan ini mengindikasikan bahwa krisis iklim sudah dan sedang terjadi di bumi yang kita tempati.

Krisis iklim yang ditandai dengan terjadinya perubahan iklim, memberikan konsekuensi pada setiap sektor kehidupan. Gejala alam seperti kenaikan suhu akan memicu terjadinya degradasi lingkungan, cuaca yang ekstrem, naiknya permukaan air laut, berbagai bencana alam, dan secara tidak langsung juga mengakibatkan gangguan ekonomi, konflik, bahkan terorisme (Gerretsen, 2021).

Psikologi sebagai ilmu yang mengkaji perilaku manusia, turut mengambil peran dalam kajian mengenai perubahan iklim. Eksistensi psikologi dalam kajian tersebut setidaknya dapat dilihat dari 2 sudut pandang, yaitu ketika membahas mengenai perilaku manusia dan interaksinya dengan alam yang berkaitan dengan perubahan iklim, serta dampak psikologis yang dialami manusia akibat terjadinya perubahan iklim.

Ketika berbicara mengenai perubahan iklim, terdapat kesepakatan di antara para ahli bahwa perubahan iklim merupakan sesuatu yang benar-benar terjadi dan disebabkan oleh perilaku manusia (Van Lange et al., 2018). Berdasarkan bukti dalam asessmen yang dilakukan The Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) pada tahun 2015 menyatakan bahwa melalui aktivitas penggunaan lahan dan energi, pertumbuhan penduduk, serta pola konsumsi, manusia merupakan kontributor yang paling signifikan pada perubahan iklim (Beattie & McGuire, 2018).

Pada sebuah penelitian yang dilakukan Pandve et al. (2011) di India, ditemukan hasil bahwa penduduk umum perkotaan sadar akan perubahan iklim global. Responden juga berpendapat bahwa aktivitas manusia berkontribusi terhadap perubahan iklim dan menyadari perubahan gaya hidup adalah upaya yang efektif dalam mengatasi serta mencegah perubahan iklim yang lebih parah. Hal tersebut sejalan dengan hasil penelitian Luís et al. (2018), yang menunjukkan adanya kesadaran yang lebih tinggi tentang penyebab perubahan iklim pada negara-negara dengan emisi karbon dioksida yang lebih tinggi.

Hal menarik yang kemudian patut dipertanyakan ialah dengan segelintir pengetahuan yang kita miliki, apa sih yang membuat kita terhalang untuk melakukan perilaku pro-lingkungan atau sustainable behavior?

Untuk membahas hal tersebut kita mengacu pada pandangan keilmuan psikologi terkait permasalahan perubahan iklim. Perubahan iklim merupakan sebuah dilema sosial yang melibatkan dua hal yaitu konflik sosial antara kepentingan pribadi dan kepentingan kolektif, serta konflik temporal antara kepentingan jangka pendek dan kepentingan masa depan (Van Lange et al., 2018).

Individu yang dihadapkan pada pilihan untuk menampilkan perilaku pro-lingkungan atau sustainable behavior mungkin terhalang dengan adanya hasil berupa kontrol dan efektivitas yang rendah dari perilaku pro-lingkungan yang sudah ditampilkan. Hal tersebut kemudian menghasilkan pemikiran bahwa ketidakpastian lingkungan yang ada menjadikan aksi individual tidak akan mampu menyelesaikan permasalahan, sehingga pada akhirnya tidak semua orang setuju dan menganggap penting perubahan perilaku secara individual.

Selain itu, adanya konflik temporal antara kepentingan tentu mengubah perilaku untuk penanganan perubahan iklim menjadi sebuah kepentingan jangka panjang yang menyangkut kehidupan manusia di masa depan. Namun, memenuhi kepentingan saat ini (jangka pendek) dengan seperangkat perilaku yang tidak ramah lingkungan bukanlah suatu pilihan yang mudah untuk diabaikan. Ketidakpastian tersebut akan memicu pemikiran heuristik, individu secara alami berorientasi pada kepentingan pribadi atau kepentingan lokal daripada kepentingan global yang abstrak.

Kedua konflik tersebut menjadi sebuah hambatan pada proses perubahan perilaku individu untuk menunjang penanganan perubahan iklim. Kondisi yang kita hadapi sekarang menjadi penting untuk diatasi karena membawa konsekuensi negatif yang cukup merata di seluruh wilayah dan sektor kehidupan. Di samping pengaruhnya pada kondisi lingkungan, perubahan iklim ternyata juga membawa konsekuensi pada kondisi psikologis manusia.

Doherty & Clayton (2011) mengemukakan bahwa perubahan iklim memberikan dampak psikologis secara langsung (seperti efek traumatis akibat peristiwa alam yang ekstrem), tidak langsung (seperti terancamnya kesejahteraan emosional, kekhawatiran terhadap risiko masa depan), dan dampak psikososial (seperti efek kekeringan dan panas serta cuaca ekstrem lainnya pada komunitas).

Selain itu kondisi psikologis seperti stress, kecemasan, dan PTSD (trauma yang timbul pasca peristiwa traumatik) juga menjadi sebuah dampak yang secara tidak langsung dapat terjadi (Uzzel, 2008). Hal tersebut menunjukkan bahwa perubahan iklim yang menghantar manusia menghadapi sebuah krisis lingkungan yang cukup hebat, semestinya menjadi perhatian bagi semua pihak dan kalangan.

Pengetahuan dan kesadaran mengenai perubahan iklim dan konsekuensinya bagi kehidupan manusia menuntut adanya perubahan pola perilaku secara komprehensif. Penanganan yang dilakukan harus bergerak, tidak hanya berfokus pada perbaikan teknologi saja, namun juga fokus pada manusia dan perilaku masyarakat (Uzzel, 2008).

Jelas, bahwa ilmu psikologi harus menjalankan peran kuncinya terkait kajian perilaku manusia terhadap krisis yang kita alami saat ini. Pada akhirnya, kita memiliki tugas berat untuk kembali menyelaraskan interaksi antara manusia, perilakunya, dan alam. Upaya penanganan krisis iklim merupakan sebuah kerjasama kolaboratif yang harus dilakukan semua pihak, tanpa terkecuali.[]

Referensi:
-Beattie, G., & McGuire, L. (2018). The psychology of climate change. Routledge.
-Doherty, T. J., & Clayton, S. (2011). The psychological impacts of global climate change. American Psychologist, 66(4), 265.
-Uzzell, D. (2008). Challenging assumptions in the psychology of climate change. InPsych: The Bulletin of the Australian Psychological Society, 30(4), 10-13.
-Van Lange, P. A., Joireman, J., & Milinski, M. (2018). Climate change: What psychology can offer in terms of insights and solutions. Current directions in psychological science, 27(4), 269-274.

Penulis bernama Mutia Arrisha, mahasiswi Jurusan Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala.

Editor: Indah Latifa