Artikel | DETaK
Kehadiran smartphone merupakan salah satu capaian penting dalam kehidupan modern karena menghadirkan berbagai kemudahan, mulai dari komunikasi yang cepat hingga akses informasi yang luas dan instan. Namun, kemudahan ini juga membawa konsekuensi berupa perubahan dalam pola interaksi sosial. Smartphone tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu, tetapi juga menjadi pusat perhatian yang sulit dilepaskan. Hal ini diperkuat oleh kebiasaan menerima notifikasi secara terus-menerus, dorongan untuk selalu terhubung, serta ketertarikan pada konten digital yang dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna. Akibatnya, individu cenderung lebih fokus pada dunia digital dibandingkan lingkungan nyata di sekitarnya.
Fenomena tersebut dapat dilihat dalam berbagai situasi sehari-hari. Di ruang keluarga, interaksi yang sebelumnya diisi dengan percakapan dan berbagi pengalaman kini berkurang karena setiap anggota keluarga lebih sibuk dengan ponselnya masing-masing. Kondisi ini terjadi karena perhatian terbagi dan komunikasi dianggap tidak lagi secepat atau semenarik interaksi digital. Hal serupa juga terlihat saat berkumpul bersama teman, di mana aktivitas “nongkrong” kehilangan makna interaktif karena masing-masing individu terfokus pada layar ponsel.. Bahkan di lingkungan pendidikan, banyak mahasiswa terdistraksi saat proses pembelajaran berlangsung karena dorongan untuk mengecek notifikasi, mengakses media sosial, atau bermain gim, yang pada akhirnya menurunkan konsentrasi dan kualitas interaksi akademik.

Fenomena ini dikenal dengan istilah phubbing atau phone snubbing. Menurut James A. Roberts dan Meredith E. David (2016), phubbing merupakan perilaku mengalihkan perhatian dari interaksi langsung ke smartphone saat sedang bersama orang lain. Dalam kondisi ini, seseorang lebih memilih berinteraksi dengan ponselnya dibandingkan dengan lawan bicara, sehingga komunikasi tatap muka menjadi terganggu dan kualitas kehadiran dalam interaksi sosial menurun. Pendapat lain dari Anusorn Chotpitayasunondh dan Karen M. Douglas (2018) menjelaskan bahwa phubbing merupakan kebiasaan mengabaikan orang lain dalam situasi sosial akibat keterikatan yang berlebihan terhadap smartphone. Perilaku ini sering terjadi secara otomatis tanpa disadari, sehingga individu tetap merasa “hadir”, padahal perhatian utamanya telah teralihkan. Istilah phubbing sendiri pada awalnya dikampanyekan oleh Macquarie Dictionary untuk menggambarkan masalah penggunaan ponsel cerdas dalam situasi sosial. Dalam interaksi, phubber merujuk pada individu yang melakukan phubbing, sedangkan phubbee adalah pihak yang menerima perilaku tersebut (Varoth, 2017).
Fenomena phubbing ini telah membawa pergeseran yang cukup signifikan dalam pola interaksi manusia. Banyak individu cenderung merasa lebih nyaman mengekspresikan diri di ruang digital melalui smartphone dibandingkan berinteraksi secara langsung di lingkungan nyata. Kondisi ini terjadi karena interaksi digital dianggap lebih praktis, cepat, dan minim risiko sosial dibandingkan komunikasi tatap muka. Akibatnya, perilaku phubbing perlahan menjadi sesuatu yang dianggap lumrah, karena frekuensi pengabaian dalam interaksi sosial semakin tinggi. Padahal, kebiasaan ini secara langsung menurunkan intensitas dan kualitas hubungan antarindividu, sementara pada kenyataannya manusia tetap hidup dalam realitas sosial yang menuntut keterlibatan dan ketergantungan dengan orang lain di sekitarnya.
Jika ditelaah dari perspektif psikologis, phubbing tidak hanya berdampak pada kualitas interaksi sosial, tetapi juga memengaruhi cara individu membangun keterikatan emosional dan memaknai hubungan dengan orang lain. Ketika seseorang lebih sering berinteraksi melalui ruang digital dibandingkan secara langsung, ia cenderung terbiasa dengan pola komunikasi yang instan, terkontrol, dan minim risiko. Dalam interaksi digital, individu memiliki waktu untuk menyusun respons, memilih kata, bahkan menyaring emosi yang ingin ditampilkan. Hal ini berbeda dengan interaksi tatap muka yang menuntut spontanitas, kepekaan, dan keterlibatan emosional secara langsung. Akibatnya, individu dapat merasa lebih nyaman berada di ruang digital karena dianggap lebih “aman” dan mudah dikendalikan. Kenyamanan semu ini dalam jangka panjang berpotensi menurunkan kemampuan individu dalam menghadapi interaksi sosial nyata. Ketika terbiasa dengan komunikasi yang serba terstruktur di dunia digital, individu bisa mengalami kecanggungan, bahkan kecemasan, saat harus berinteraksi secara langsung. Situasi ini mendorong munculnya kecenderungan untuk menghindari interaksi tatap muka dan kembali mencari kenyamanan di dalam smartphone. Pola ini secara perlahan membentuk lingkaran yang berulang: semakin sering menghindari interaksi nyata, semakin rendah pula kepercayaan diri dalam menghadapi situasi sosial.
Lebih jauh, fenomena ini juga menantang cara individu memaknai kualitas hubungan. Jika interaksi terus berlangsung dalam kondisi distraksi, maka standar kedekatan pun ikut bergeser. Hubungan yang seharusnya membutuhkan perhatian, empati, dan waktu, perlahan disederhanakan menjadi sekadar kehadiran fisik tanpa keterlibatan yang berarti. Di titik ini, phubbing bukan lagi sekadar kebiasaan, melainkan bagian dari budaya interaksi yang baru.
Namun demikian, penting untuk dipahami bahwa kondisi ini bukan sesuatu yang tidak dapat diubah. Kesadaran menjadi kunci utama dalam mengembalikan kualitas interaksi sosial. Kemampuan untuk mengelola penggunaan smartphone, memberi ruang bagi percakapan tanpa gangguan, serta menghadirkan diri secara utuh dalam setiap interaksi merupakan langkah sederhana yang memiliki dampak besar. Dalam hal ini, teknologi tidak perlu ditolak, tetapi perlu ditempatkan secara proporsional agar tidak menggantikan esensi hubungan manusia itu sendiri.Pada akhirnya, manusia tetaplah makhluk sosial yang bergantung pada interaksi nyata. Seberapa pun berkembangnya teknologi, kebutuhan akan keterhubungan yang autentik tidak akan pernah tergantikan. Oleh karena itu, di tengah derasnya arus digital, menjaga kemampuan untuk benar-benar hadir bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan yang mendasar dalam mempertahankan kualitas hubungan antarindividu.
Penulis bernama Kamilina Junita Damanik, Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala.
Editor: Nasywa Nayyara Tsany










