Beranda Feature Kisah Syarifah, Penjual Kerupuk Keliling di Pantai Lampuuk

Kisah Syarifah, Penjual Kerupuk Keliling di Pantai Lampuuk

BERBAGI
Potret Ibu Syarifah dan dagangannya. 05/12/2021.(Rossdita Amallya [AM] DETaK)

Rossdita Amallya [AM] | DETaK

“Tsunami menghancurkan sumber rezeki itu. Kesulitan ekonomi membuatnya memutuskan untuk berjualan kerupuk keliling sampai saat ini.”

Hari sudah siang, matahari sudah membumbung tinggi di atas langit memancarkan cahayanya di hamparan pasir putih pesisir Pantai Lampuuk. Di sanalah wanita itu berada, berjalan lambat di atas permukaan pasir pantai yang sedikit dalam bila diinjak, tak peduli dengan bulir-bulir pasir yang memenuhi sandalnya. Jilbab merah mudanya sesekali tersingkap naik akibat angin, tangannya menjadi sibuk, membetulkan jilbabnya sekaligus menjaga tumpukan kerupuk yang digendongnya agar tak jatuh.

Iklan Souvenir DETaK

“Kerupuk dek,” tawarnya sembari menyungging senyum ramah.

Namanya Syarifah, wanita kelahiran 1975 itu mengaku telah berjualan kerupuk 10 tahun lamanya. Alasannya sederhana, ia ingin membantu suaminya yang berprofesi sebagai tukang bengkel untuk menghidupi keluarganya. Selain itu, Syarifah juga menemukan kesenangan tersendiri saat melakukan kegiatan berjualan kecil-kecilannya itu.

“Buat bantu-bantu, usaha sendiri sikit-sikit. Memang ada uang dari suami tapi kita senang cari sendiri. Ibu suka cari rezeki sendiri senang sendiri,” ujarnya.

Sembari duduk di kursi panjang di bawah sebuah pohon cemara, Syarifah menceritakan banyak hal kepada saya. Ia bercerita bahwa ia sudah berjualan di Pantai Lampuuk jauh sebelum tsunami menimpa Aceh. Saat itu, ia memiliki sebuah kios kecil di depan pintu gerbang masuk Pantai Lampuuk. Namun nahas, tsunami menghancurkan sumber rezeki itu. Kesulitan ekonomi membuatnya memutuskan untuk berjualan kerupuk keliling sampai saat ini.

“Sebelum tsunami emang jualan Ibu disini, di pantai ni. Ibu punya kios, jualan mi, ikan bakar, kayak gitu. Cuman kan udah tsunami Ibu maklum rezeki nggak ada, jadi cari-cari kek gini sikit-sikit,” jelasnya.

Wajahnya tampak murung, mungkin sedih mengingat kejadian pilu itu. Pandangannya beralih ke tumpukan kerupuk yang kini berada di pangkuannya, menepuk-nepuknya pelan. 

Di tengah masa pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, jumlah pengunjung Pantai Lampuuk turun drastis, begitu pula penjualan Syarifah. Syarifah mengungkapkan bahwa jika dagangan tak laku, maka ia akan mencari sumber rezeki lainnya yaitu membantu pekerjaan rumah tangga orang lain.

“Kalau misalnya hari ini nggak laku, ibu biasanya tolong orang nanti misalnya disuruh cuci piring Ibu bantu sebentar, nyapu di rumah orang begitu. Yang penting Ibu ada usaha,” katanya.

Tanpa pamrih Syarifah melakukan usaha apapun demi mendapat pundi-pundi rupiah untuk membantu suami serta dua anaknya. Saya mengakhiri percakapan dengan membeli beberapa dagangan Syarifah, senang rasanya melihat senyum kembali hadir di wajahnya. []

Editor: Della Novia Sandra