Redaksi | DETaK
Bersatunya dua raja membuat ekspektasi mahasiswa kian tinggi. Harapan yang dituai justru tumbuh jadi angan-angan rancu yang memunculkan pertanyaan “Kemana arah perginya kabinet ‘kita’?”
Keresahanpun mulai muncul dari para penanti di luar sosok eksekutif ini. Mereka menunggu langkah pasti dari perubahan yang diinisiasi dari janji visi dan misi sebelum terpilih.

Sejak awal kepengurusan, gairah aktivisme BEM tampak meredup, bukan hanya dalam pergerakan namun juga nalar persatuan. Lemahnya kemampuan BEM dalam membaca dinamika dan advokasi kebijakan publik memunculkan miskonsepsi masyarakat akan eksistensi peran mahasiswa dalam mengawal polemik negeri. Perbedaan pemikiran dalam lembaga eksekutif ini sudah jadi rahasia umum dan sudah saatnya dibenahi.
Perbedaan pemikiran dalam lembaga eksekutif ini sudah jadi rahasia umum yang seharusnya sudah diselesaikan dari jauh hari. Kajian, diskusi, dan aksi tidak berarti apabila rumah ‘kita’ tak kunjung dibenahi. Ingat kembali, rasa kebersatuan tak hanya sebatas mencari suara untuk meraih kursi eksekutif. Begitu pula tugasnya tidak berhenti saat sudah menduduki kursi.
Problematika internal bukanlah menjadi hambatan bagi lembaga ekstra parlementer ini. BEM bersama aliansi mahasiswa lainnya perlu bekerja sama untuk mengawal persoalan level nasional dengan saling memahami dan berkolaborasi.
Diam bukan lagi sebuah pilihan bijak ketika dihadapkan pada situasi darurat yang butuh kejelasan dengan iming-iming menghindari konflik berkelanjutan. Suara, aspirasi, dan inisiasi harusnya menjadi kunci mengawasi pergerakan oleh mahasiswa.
Sebagai garda terdepan, Badan Eksekutif Mahasiswa lah tombak dalam setiap pergerakannya. Sebagai kelompok penekan, mereka punya independensi untuk memutuskan pilihan sendiri tanpa perlu diintrupsi. Sebagai aktor eksekutif, sudah seharusnya untuk cepat tanggap, kritis, dan responsif menghadapi situasi mewakili suara kawula muda.
Berbeda warna bukan tak bisa duduk bersama.
BEM harusnya menjadi contoh bagaimana berintegrasi bagi mahasiswa di kampus. Pelangi takkan lahir dari dua warna, untuk menjadi biasan sempurna ia perlu merangkul warna lainnya.
Terlebih dalam situasi darurat, kepentingan pribadi dan kelompok harus dikesampingkan demi kepentingan bersama. Ketika sudah bersatu, bukan lagi tentang berlomba-lomba siapa yang benar dan berkuasa. BEM adalah rumah kita, tempat mengadu aspirasi dan bergerak lewat aksi. Bukan rumah singgah pribadi, untuk orang-orang dengan kepentingan tinggi.
BEM perlu berbenah dalam menjaga eksistensinya dan menyatukan pikiran untuk satu tujuan yang sama. Ia harus menjadi tolak ukur bagaimana berintegrasi dan menginiasi aspirasi bagi mahasiswa.
Bukankah sudah saatnya kita menurunkan ego dan menentukan satu arah yang pasti(?)

![[Editorial] Demokrasi Kampus di Era Algoritma](https://detakusk.com/wp-content/uploads/2026/03/IMG_4944-238x178.png)
![[Editorial] Sektor Pendidikan Topang Ambisi MBG](https://detakusk.com/wp-content/uploads/2025/02/Picsart_25-02-15_07-51-54-451-238x178.jpg)
![[Editorial] Polemik Paskibraka Lepas Jilbab. Hijab Itu Hak, Harus Dihormati](https://detakusk.com/wp-content/uploads/2024/08/20240816_215444_0000-238x178.png)


![[DETaR] Tips Olahraga di Bulan Puasa Agar Tubuh Tetap Sehat dan Bugar](https://detakusk.com/wp-content/uploads/2026/03/WhatsApp-Image-2026-03-15-at-15.23.21-100x75.jpeg)
![[DETaR] Ramadan dan Tantangan Menjaga Hidrasi Tubuh](https://detakusk.com/wp-content/uploads/2026/03/Ilustrasi_Ramadhan-dan-Tantangan-Menjaga-Hidrasi-Tubuh-100x75.png)


