Beranda Artikel Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Arafah

Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Arafah

BERBAGI
Ilustrasi. (Neni Raina Mawaddah/DETaK)

Artikel | DETaK

Puasa Tarwiyah dan Arafah merupakan amalan sunnah yang sangat dianjurkan bagi uma Islam, khususnya pada bulan Dzulhijjah. Kedua puasa ini dilaksanakan menjelang Hari Raya
Iduladha dan memiliki banyak keutamaan, baik dari segi pahala maupun hikmah spiritual. Pada
tahun 2026, puasa Tarwiyah dilaksanakan pada tanggal 25 Mei 2026, sedangkan puasa Arafah
dilaksanakan pada tanggal 26 Mei 2026. Kedua hari tersebut termasuk hari-hari mulia dalam
Islam karena berkaitan dengan pelaksanaan ibadah haji di Tanah Suci.

Puasa Tarwiyah memiliki makna penting sebagai bentuk persiapan diri sebelum memasuki hari Arafah dan Iduladha. Kata “Tarwiyah” berasal dari bahasa Arab yang berarti berpikir atau
merenung. Pada hari ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah, doa, dan puasa sunnah
sebagai latihan pengendalian diri serta upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT. Walaupun
hadis mengenai puasa Tarwiyah masih diperselisihkan oleh sebagian ulama, banyak ulama
tetap menganjurkan pelaksanaannya karena termasuk dalam amalan baik pada sepuluh hari
pertama bulan Dzulhijjah yang sangat dicintai Allah SWT.

Iklan Souvenir DETaK

Sementara itu, puasa Arafah memiliki kedudukan yang lebih utama dan sangat dianjurkan bagi umat Islam yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji. Nama Arafah diambil dari Padang Arafah, tempat berkumpulnya jamaah haji untuk melaksanakan wukuf, yang merupakan rukun utama dalam ibadah haji. Pada hari tersebut, Allah SWT menunjukkan kasih sayang dan ampunan-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Oleh karena itu, umat Islam yang tidak berhaji dianjurkan untuk berpuasa sebagai bentuk partisipasi spiritual dalam kemuliaan hari Arafah.

Keutamaan puasa Arafah dijelaskan dalam hadis Rasulullah SAW. Beliau bersabda bahwa
puasa Arafah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Hadis
ini menunjukkan betapa besar pahala dan rahmat Allah bagi orang yang menjalankan puasa
tersebut dengan ikhlas. Kesempatan untuk mendapatkan pengampunan dosa selama dua
tahun tentu menjadi nikmat yang sangat besar bagi setiap Muslim. Puasa ini juga menjadi
sarana untuk memperbaiki diri dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

Selain memperoleh pahala yang besar, puasa Tarwiyah dan Arafah juga memberikan manfaat
bagi kehidupan sehari-hari. Dengan berpuasa, seseorang belajar menahan hawa nafsu,
mengendalikan emosi, serta meningkatkan rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT.
Puasa juga melatih kesabaran dan kepedulian terhadap sesama, terutama kepada orang-orang yang kurang mampu. Melalui ibadah ini, hati menjadi lebih tenang dan jiwa lebih dekat dengan nilai-nilai kebaikan.

Di samping itu, hari Arafah merupakan waktu yang sangat mustajab untuk berdoa. Rasulullah
SAW menyebutkan bahwa sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah. Oleh sebab itu, umat
Islam dianjurkan memperbanyak doa, dzikir, istighfar, dan membaca Al-Qur’an pada hari
tersebut. Kesempatan ini sebaiknya dimanfaatkan untuk memohon ampunan, kesehatan,
keberkahan hidup, serta keselamatan dunia dan akhirat.

Puasa Tarwiyah dan Arafah juga mengajarkan pentingnya meneladani pengorbanan dan
ketaatan Nabi Ibrahim AS serta Nabi Ismail AS. Kisah pengorbanan mereka menjadi simbol
keimanan, kesabaran, dan kepatuhan kepada perintah Allah SWT. Dengan menjalankan puasa
sunnah ini, umat Islam diingatkan untuk selalu meningkatkan kualitas iman dan rela berkorban demi kebaikan.

Puasa Tarwiyah dan Arafah merupakan ibadah sunnah yang memiliki banyak keutamaan.
Selain mendapatkan pahala dan pengampunan dosa, puasa ini juga memberikan pelajaran
berharga tentang kesabaran, ketakwaan, dan kepedulian sosial. Oleh karena itu, umat Islam
sebaiknya memanfaatkan kesempatan pada bulan Dzulhijjah untuk memperbanyak ibadah,
termasuk menjalankan puasa Tarwiyah pada 25 Mei 2026 dan puasa Arafah pada 26 Mei 2026,
agar memperoleh rahmat dan ridha Allah SWT.

Penulis bernama Nasywa Nayyara Tsany, Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala.

Editor: Sara Salsabila