Beranda Cerbung Aku dan Rindu

Aku dan Rindu

BERBAGI

Cerbung | DETaK

POV Alif

Sering kali satu kenangan kecil bisa membangkitkan ingatan yang terkubur. Delapan tahun yang lalu, Aku mengenalnya sebagai gadis polos kekanak-kanakan. Lucu tapi juga galak, dia gadis SMP pemberani yang pernah ku kenal. Ashila tidak banyak berubah, wajahnya masih sama, hanya saja dia terlihat lebih dewasa sekarang.

Iklan Souvenir DETaK

Aku tak bisa menahan senyumku saat mataku dan matanya bertemu. Ada rasa bahagia yang tiba-tiba menyemangatiku, sama seperti yang ku rasakan saat SMP dulu, Aku merasa lebih bahagia dan bersemangat saat mengenalnya. Ia datang ke dalam hidupku dengan segala celotehan dan perhatiannya. Suatu hal yang tidak pernah ku temukan di orang lain. Terkadang memang, hidup akan mempertemukan orang dengan cara yang tidak disadari. Dan Aku tidak menyangka akan bertemu  Ashila di tempat ini, kafe yang sering ku kunjungi beberapa minggu yang lalu setelah dua minggu di kota ini.

“Lif, jadi bantu-bantu kan, rame kali ni” Rais menepuk pundakku.

“Iya, jadi” Aku menjawab dengan semangat

Aku bergegas menghampiri beberapa pelanggan yang berdatangan, malam ini kafe tiba-tiba dipenuhi banyak orang, suasananya lebih ramai dari yang biasanya. Sembari melayani pelanggan, Aku memperhatikan Ashila dari jauh, ia tampak sibuk mencari tempat duduk di tengah-tengah kafe yang ramai. Aku melihat wajahnya yang mulai lesu, wajah itu pernah ku lihat saat masih SMP dulu, wajah yang ia perlihatkan padaku saat ia tidak bisa menjawab soal ujian matematika.

Aku menghampirinya segera, dan mencarikannya tempat duduk.

“Makasih ya bang” ucapnya.

“Ya” jawabku spontan.

Lagi-lagi Aku tersenyum, kembali mengingat masa SMP saat pertama kalinya ia memanggilku dengan panggilan yang sama, panggilan keramat yang dulu sempat membuatku salah tingkah.

Sebenarnya Aku ingin menyapanya,  atau sekedar basa-basi menanyakan kabar, namun saat dia membuka laptop, Aku melihat foto laki-laki di walpaper jam tangannya, agaknya Aku mulai merasa kehilangan senyumku.

“Dimsum ayam 2, dimsum rumput laut 1, creamy late 1, cappucino 1, sama air mineral 1 ya” Ucap salah satu temannya.

Aku mengangguk saja, tapi sesekali melirik Ashila yang sibuk dengan laptop. Dia sama sekali tidak ada respon padaku, Apa mungkin dia sudah lupa denganku? atau mungkin dia sedang menjaga hati? Tapi yang pasti Aku tidak ingin menganggunya.

Bohong jika Aku bilang sudah lupa, ingatan masa lalu itu memang sudah terkubur dalam-dalam tapi bukan berarti Aku melupakannya. Semua masih terekam di kepalaku, tingkah lucunya yang selalu marah-marah, cerewetnya, apalagi lagaknya yang seperti ibu-ibu bila Aku selalu menjawab setiap ocehannya. Aku juga masih ingat wajahnya yang selalu kesal setiap Aku mengejeknya terus-terusan.

Aku masih ingat dulu, Aku selalu mengganggunya sampai dia tidak fokus menjawab soal ujian, Ashila memarahiku, kemudian menceramahiku seperti ibu-ibu. Semakin ku tambahi bumbu panas semakin cerewet dia, Lalu Aku akan tertawa karena memang itu yang ingin ku lihat. Saat dimana Bu Wati mengancam akan mengeluarkan kami dari kelas karena terus ribut, Ashila mengajakku untuk berdamai.

“Kita damai aja ya, jangan ribut terus” katanya. “Daripada ribut terus mending kita kerja sama”

Aku bingung kerja sama yang dimaksud. Lalu Aku bertanya, “Kerja sama gimana maksudnya?”

“Gini loh, nanti kan ada mapel olahraga, Aku kurang paham soal olahraga, nanti kasih tau aku ya jawaban yang gak aku tau, nanti di mapel lain Aku kasih tau juga jawaban yang ga Abang tau,” katanya.

Oh begitu, Aku memekik, “Baik kalo lagi ada maunya.”

Wajahnya langsung masam “Yaudah kalau ga mau, Aku uda nawarin yang bagus, kamunya aja yang selalu pengen ribut sama Aku,” jawabnya ketus.

Aku tertawa dalam hati, yasudah Aku mengalah saja, tawaran bagus tidak datang dua kali, pikirku.

“Aku ga bisa bahasa inggris,” ucapku “Nanti kasih tau aku ya jawabannya ya.”

Ashila langsung sumringah, “Okey, deal, kita damai ya,” katanya.

Aku mengangguk membalas uluran tangannya. Kami bersalaman, salam damai. Aku juga tak bisa menahan tawa, itu pertama kalinya Aku merasakan satu hal yang baru dalam hidupku.

“Berarti ga boleh ngejek aku lagi ya, ga boleh ngatain aku yang aneh-aneh lagi,” Ucapnya kembali.

“Oh ga bisa kalo itu,” jawabku cepat, sengaja buat dia marah.

Wajahnya langsung sinis, “mana bisa begitu, kan uda damai.”

Ya, ya, Aku mengalah lagi “Iya, aku janji gak ngejek kamu lagi, gak ngatain kamu yang aneh-aneh lagi,” ucapku.

Ashila langsung tersenyum, ia mengulurkan kelingkingnya padaku. “Janji kelingking dulu biar kamu ga ingkar.”

Aku segera menerima uluran janji kelingking itu, kedua jari kami bertaut, mengucapkan janji untuk tidak saling mengejek lagi. Janji kelingking itu menjadi warna hangat pada kisah singkat seminggu itu, salah satu tembok penghalang juga untukku karena tidak bisa mengganggunya lagi.

Ashila selalu bilang, “Aku ga mau liat kamu lagi, emosi Aku liat mukamu.”

Tapi Aku selalu ingin melihatnya, Aku selalu ingin di sampingnya. Saat itu Aku memang terus mempertahankan keinginanku untuk terus bersamanya, tapi hari dimana Aku berani mengungkapkan perasaanku, dia menolakku. Aku memilih pergi, Aku menghilang bukan karena Aku membencinya, Aku menghilang karena Aku menghargainya. Aku menyayanginya.

Dan disini, Aku bertemu lagi dengannya setelah sekian lama tidak pernah melihatnya lagi.

Penulis bernama Alya Anjadelisya Hasibuan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Program Studi Pendidikan Sejarah, Universitas Syiah Kuala.

Editor: Zikni Anggela