Cerbung | DETaK
“Ya ampun, punya siapa itu?” Ucapan ibunya Margaret, membuat Verto sedikit terkejut. Verto yang baru saja kembali dari tempat latihan dan sedang melamun memandangi tembikar ciptaan Lyn yang diisi dengan bunga Lily biru. Ia kembali mengagum warna biru langit malam yang mempesona disertai gelombang vertikal yang melintang membentuk deburan ombak laut, ditambah dengan bunga Lily biru yang melengkapi sisi yang tidak ia ketahui. Membuatnya tidak menyadari ibunya memasuki ruangan tempatnya berada.
Mendengar pertanyaan ibunya, Verto menjawab “Ah, ini ciptaan pemiliki toko bunga didekat akademi. Bukannya ibu sudah mengetahuinya?” jawab Verto sedikit kebingungan dengan pertanyaan yang ibunya ketahui jawabannya. Namun, daripada menjawab Verto, ibunya hanya diam sebentar, menatap dirinya, sebelum tersenyum, membuat Verto merasa bahwa ia membuat kesalahan. Senyum Margaret-pun tidak memudar ketika ia berjalan mendekati putranya.

“Sangat indah bukan? Vas itu?” ujar Margaret, menunjuk vas berwarna biru yang menjadi objek perhatian Verto dengan dagunya. Verto kembali melempar pandangannya kepada vas biru yang sedari tadi ia perhatikan. Verto tidak mengetahui apa dan bagaimana maksud dari ibunya. Ibunya selalu menjadi seseorang sulit di tebak, bahkan bagi ayahnya. Meskipun, ayahnya mengatakan ia menyerupai ibunya dalam hal ini, tapi Verto yakin bahwa ibunya jauh lebih sulit untuk dihadapi.
Larut dalam pikirannya, sejak Verto kembali mendapati dirinya terpana kepada vas biru itu. Ia masih sulit untuk mengerti apa yang sangat spesial dari vas ini yang membuatnya terperosok dalam pesonanya. Suasana langit malam dan sentuhan laut yang sangat ia suka amati dapat ditangkap dan diinterpretasikan dengan detail yang sangat luar biasa nyata, mungkin menjadi salah satu alasan utama ia terpukau. Namun, bukan hal baru menjadikan laut sebagai inspirasi, begitupula dengan langit malam, semakin ia amati, semakin yakin bahwa rasa yang ia alami ialah.. ialah sangat familiar? Ia juga tidak mengerti bagaimana ia merasakan hal tersebut. Hanya rasa nyaman, seperti telah mengenal orang dalam waktu yang sangat lama, ia dapat mendeskripsikan rasa itu.
Verto, untuk kedua kalinya dalam hari ini kembali tersentak ketika merasakan tangan yang menyentuh dirinya dan membuyarkan konsentrasinya. Ia berbalik kearah pemilik tangan yang memandangnya dengan pandangan sepertinya ia telah memandangnya dalam waktu cukup lama, sebelum memutuskan meletakkan tangan.
“Ambil saja vas itu. Sepertinya dirimu sangat menyukainya.” Ujar Margaret tidak melepaskan tangannya dari pundak Verto. Verto menatap wajah ibunya yang sedang memandang vas biru sebelum berucap, “Pembuatnya menghadiahkannya kepadamu, bu. Tak seharusnya kau memberikannya padaku.” Lontar Verto setelah menyusun ucapannya dengan hati-hati, yang dibalas dengan senyuman oleh ibunya.
“Lyn memang menghadiahkannya padaku, tapi sepertinya vas ini lebih cocok padamu. Lagipula sepertinya dirimu akan menghargai vas ini lebih dari aku.” Tekan Margaret. Verto menyadari maksud tersembunyi dari ibunya. Ibunya ‘tertarik’ dengan fakta ia tidak bisa menarik perhatiannya dari vas tersebut, dan jika boleh jujur Verto tidak nyaman dengan faktanya. Ibunya bertindak seperti dirinya memahami sesuatu tentang perasaannya sendiri yang tidak ia ketahui, and he hates it.
Sebelum sempat Verto menyusun perkataannya. Ibu mengucapkan sesuatu yang kembali mengusiknya. “Terlebih sepertinya, Lyn tidak akan keberatan dengan dirimu yang memiliki bukan aku.” Senyum terukir di bibir ibunya, membuat Verto diam, tidak sempat ia memikirkan maksud dari ibunya. Ibunya melangkah pergi dan mengambil vas berwarna merah muda kemudian mengangkat sambil berkata. “Vas ini juga bagus, meski tidak seindah yang biru.” Ucap Margaret.
“Sepertinya, ia tidak begitu mengenal inspirasi vas ini dibandikan yang biru.” Ucap Margaret sebelum melangkah keluar. Setelah beberapa saat, Verto secara perlahan memalingkan kepalanya kearah vas biru yang sekarang menjadi miliknya. Ia beranjak, melangkah dan mengeluarkan bunga yang mengisi vas sebelum memutuskan kembali ke apartemennya sendiri, tentu saja dengan vas biru yang sekarang menjadi kepemilikannya.
—-o0o—–
Salju turun secara perlahan di pagi hari, meski tidaklah lebat namun dapat dipastikan tidaklah ringan pula. Lyn dengan syal berwarna kuning yang melingkar di sekeliling lehernya, secara perlahan membuka tokonya sebelum jam menunjukkan pukul 09:00. Lyn memutuskan untuk memperlambat waktu opening tokonya pada musim dingin, hal ini disebabkan jumlah bunga yang tersedia jauh berkurang dan jumlah pelanggan yang sedikit, dimana kebanyakan diantara mereka datang after noon.
Lyn menambil papan tulis kecil yang biasa ia letakkan diluar tokonya. Snapdragon, Hyacinths, Ranunculus, ia menulis bunga-bunga yang termasuk kategori winter flower dengan beberapa spring flower didalam papannya. Tidak lupa ia tambah diskon untuk bunga yang tidak begitu popular, seperti sunflower dan hibiscus. Setelah selesai mengatur bagian luar, Lyn mulai mengatur bagian dalam tokonya, ia mengatur bunga-bunga yang sudah dijadikan buket di meja yang terletak didepan toko, ia juga mengatur bunga-bunga yang belum dirangkai di rak disebelah kanan meja counter.
Dentingan pintu tokonya tiba-tiba berbunyi, membuat Lyn secara otomatis berbalik, tidak sempat Lyn berkata bahwa tokonya belum buka, ia menyadari bahwa yang datang bukanlah pelanggan. Melainkan kurir paket, sang kurir memegang paket yang berukuran sedang, kemudian memanggil namanya, “Lynanna Tsarovskaya?”. Lyn dengan cepat bergerak kearahnya, mengambil paket tersebut.
Ketika paket tersebut berganti tangan, wajah Lyn berubah, ia tidak dapat menahan senyum yang secara perlahan mengukir dikedua wajahnya. Tak ia sadari pada saat itu ia bahkan, bersenandung kecil merayakan. Lyn menunggu paket ini selama 3 bulan lamanya, dan pada akhirnya ia mendapatkannya. Ia secara perlahan meletakkannya di counter, sebelum berbalik mendapatkan sang kurir, masih berdiri dibelakangnya.
Lyn sangatlah bahagia sehingga ia tidak menyadari bahwasanya sang kurir belum beranjak pergi dari tempat tersebut dan menatapnya. Setelah sedikit bingung mengapa sang kurir belum pergi, sang kurir berkata ”Hm, permisi anda belum menandatangani surat penerimaannya”. Mendengar hal itu wajah Lyn berubah merah dan dengan cepat berjalan menandatangani surat penerimaan paket tersebut. Membuat sang kurir mendengus, menahan tawa.
Setelah selesai menekennya, Lyn tetap bingung mengapa sang kurir belum pergi. Suara sang kurir terdengar lagi setelah Lyn memikirkan pertanyaan tentang keberadaannya. “Perkenalkan nama saya Ivan, Ivan Belynov. Saya rasa kita akan saling sering bertemu.” Ucap sang kurir yang bernama Ivan, sebelum ia beranjak pergi. Meninggalkan Lyn sendiri.
-Bersambung-
Penulis bernama Riva Alya Najeela, Mahasiswa Program Studi Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Penegetahuan Alam, Universitas Syiah Kuala.
Editor: Zikni Anggela

![[DETouR] NUSANTARA](https://detakusk.com/wp-content/uploads/2026/07/Ilustrasi--238x178.png)








