Beranda Cerpen Sepatu Merah Terakhir Ayah

Sepatu Merah Terakhir Ayah

BERBAGI
(Doc. Istimewa)

Cerpen | DETaK

Aku tidak pernah benar-benar mengerti sejak kapan hidup berubah menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan setiap hari. Dulu, bagiku hidup sesederhana menunggu Ayah pulang kerja, mendengar suara Ibu dari dapur, dan bermain di halaman sempit depan rumah bersama adik-adikku. Dunia terasa kecil, tapi cukup. Tidak banyak yang kami miliki, tapi aku tidak pernah merasa kekurangan. Karena kasih sayang ayah dan ibu membuat kami bahagia.

Ayahku seorang buruh pabrik tekstil. Setiap pagi ia berangkat setelah shalat subuh, ketika langit masih gelap dan udara masih dingin. Ia berjalan pelan agar tidak membangunkanku, tapi aku sering terbangun. Dari balik selimut usang milik kami, aku melihat punggungnya yang semakin hari semakin membungkuk, seperti ada beban yang tak pernah benar-benar ia letakkan.

Iklan Souvenir DETaK

Suatu malam, ketika ayah pulang lebih larut dari biasanya, aku memberanikan diri untuk bertanya.

“Ayah capek?”

Ayah tersenyum, seperti biasa, senyum yang tidak pernah hilang walaupun matanya jelas menyimpan lelah. senyum yang sangat indah.

“Capek itu biasa, Nak. Yang penting kamu dan adikmu bisa sekolah.”

Aku tidak sepenuhnya mengerti, tapi aku mengangguk. Bagiku saat itu, Ayah adalah orang yang paling kuat di dunia seperti tokoh Superman yang aku tonton di televisi milik Alvin. ayah selalu punya jawaban untuk segalanya, bahkan untuk hal-hal yang sebenarnya tidak bisa dijawab.

Beberapa hari kemudian, ketika aku berjalan pulang dari sekolah, aku melihat sepatu merah di etalase toko kecil dekat jalan raya. Warnanya mencolok di antara sepatu-sepatu lain, seperti ingin dipilih. Aku berdiri lama di depan kaca, membayangkan kakiku ada di dalamnya. Warna merah dengan pita putih diatasnya.

Malamnya, aku berkata pada Ayah dengan suara pelan, hampir seperti bisikan agar tidak terdengar oleh ibu.

“Ayah, kalau ulang tahunku nanti… boleh ga aku minta sepatu merah?”

Ayah tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapku dengan sorot matanya yang teduh, lalu mengusap kepalaku dengan lembut.

“Boleh. Nanti Ayah belikan ketika ulang tahun kakak.”

Sesederhana itu, tapi bagiku itu janji yang sangat besar, yang tanpa kusadari membuatku kehilangan ayahku selamanya.

Sejak hari itu, Ayah bekerja lebih keras. Ia pulang semakin larut, kadang saat aku sudah tertidur. Pernah suatu kali aku terbangun di tengah malam dan melihatnya duduk diam di ruang tamu, memijat tangannya sendiri. Ada luka di lengannya, yang sebenarnya cukup parah, namun lagi-lagi aku tidak mengerti akan hal itu.

“Kenapa, Yah?” tanyaku khawaatir.

Ayah  buru-buru menyembunyikan tangannya.

“Tidak apa-apa. Cuma lecet, ayah kan jagoan” sembari memperagakan tangan bak superhero.

Aku pun tertawa cekikikan. Malam itu aku percaya. Aku selalu percaya bahwa ayahku baik-baik saja. Aku tidak tahu bahwa tidak semua luka terlihat ringan seperti yang dikatakan.

Hari ulang tahunku akhirnya tiba. Aku bangun lebih pagi dari biasanya, bahkan sebelum Ibu. Aku menunggu dengan perasaan yang sulit dijelaskan, campuran antara senang dan tidak sabar. Aku menanti di meja makan reyot milik kami menanti sosok hebat dalam hidupku.

Aku menunggu Ayah…

Menunggu pintu terbuka…

Menunggu suara langkahnya…

Menunggu sepatu merah itu…

Namun yang datang bukan Ayah.

Melainkan para tetangga yang ramai didepan rumahku, mengerubungi mobil jenazah bak lalat. Dan sebuah kabar yang terlalu besar untuk dimengerti oleh anak berusia enam tahun kala itu. Aku melihat Ibu menangis dipeluk oleh Bu Marni. Aku melihat pria dengan jas hitam dan kacamatanya keluar dari mobil sedan hitam. Aku melihat sebuah tubuh dibawa masuk ke rumah kami.

Itu adalah Ayahku, tapi ia bukan Ayah yang kukenal. Tidak ada senyum hangatnya, matanya terpejam, dan badannya penuh dengan luka luka. Ia saat itu diam. Aku mendekat, menggoyangkan tangannya berharap ia bangun dan memberikan sepatu merah itu.

“Ayah… bangun… aku sudah tunggu, mana sepatu merahnyaa??”

Namun tidak ada jawaban, tak peduli sekuat apa aku menggoyangnya, tubuh kecilku dipeluk oleh ibu dengan sangat erat.

Di sampingnya, ada sebuah kotak. Pak Somad membukanya. Sepatu merah itu ada di dalamnya masih baru, masih bersih, seperti belum pernah menyentuh tanah. Hadiah yang aku minta di malam itu. Aku tidak menangis saat itu. Aku hanya bingung. Kenapa Ayah tidak bangun? Kenapa semua orang menangis? Kenapa sepatu itu terasa sangat berat saat kupegang? Dan kenapa ayah mendiamkanku? Apa ayah membenciku karena meminta sepatu itu?

Seorang pria berjas yang kulihat tadi datang, ia berbicara dengan suara datar.

“Ini kecelakaan kerja, Sudah takdir,” ucapnya yang sangat angkuh.

Aku tidak suka kata itu, terlalu mudah diucapkan. Namun, aku memilih diam dan melihat pria itu mengeluarkan amplop coklat, tidak tau isinya apa. Hari itu, aku kehilangan pahlawanku, tapi aku belum benar-benar mengerti apa arti kehilangan.

Baru setelah hari-hari berikutnya berlalu, aku mulai merasakan perubahannya. Rumah kami menjadi lebih sepi, tidak ada lagi suara langkah Ayah, tidak ada lagi senyum lelahnya, Ibu pun  menjadi lebih pendiam. Matanya sering terlihat kosong, seolah sebagian dirinya ikut pergi bersama Ayah. Aku sangat benci melihatnya.

Beberapa minggu setelah Ayah pergi, setidaknya itu yang aku pahami, Ibu pun mulai bekerja. Di pabrik yang sama, sebuah tempat yang merenggut ayahku, aku pernah bertanya kepada ibu, dengan polos.

“Bukannya di situ Ayah…”

Ibu hanya menatapku, lalu berkata pelan, “Kita harus hidup, kita butuh makan, dan kamu perlu sekolah.”

Saat itu aku mulai belajar bahwa hidup tidak selalu memberi pilihan. Bahwa hidup terlalu keras untuk keluarga kecilku. Usiaku tujuh tahun ketika aku mulai berjualan tisu di jalan raya. Di bawah teriknya matahari, di antara kendaraan yang berlalu lalang, aku belajar bagaimana rasanya diabaikan. Banyak orang yang tidak melihatku, seolah aku ini tidak ada. Kadang aku ingin marah, tapi aku tidak punya waktu untuk itu. Dan aku mulai berteman dengan debu jalanan yang membuat mataku perih dan batuk disaat bersamaan, namun hanya debu itu yang menganggapku ada.

“Aku harus membantu ibu mencari uang,” tekadku pada saat itu.

Sepulangnya, aku memasak nasi, dan satu telur dadar dibagi untuk empat orang. Shasa, adikku, membantu membersihkan rumah. Ia tidak banyak bicara, tapi aku tahu ia juga merindukan Ayah.

Deva, adik bungsuku, sering sakit akibat gizi buruk. Tubuhnya semakin kecil dari hari ke hari. Sampai suatu malam, napasnya berhenti. Aku mengguncangnya, memanggil namanya, tapi ia tidak pernah bangun lagi untuk selamanya. Deva memilih untuk menyusul Ayah, ugh aku kesal sekali.

Aku mulai merasa dunia ini tidak adil, tapi aku masih terlalu kecil untuk melawan. Waktu terus saja berjalan, namun luka itu tidak kunjung hilang, ia hanya berubah bentuk.

Suatu malam, Ibu memasak. Sudah lama aku tidak mencium aroma masakannya. Aku duduk lama di depan piring menunggu Ibu selesai. Sesuatu yang sangat kurindukan, namun tidak berani kuucapkan.

“Ibu masak apaa, uhm harum sekali, aku sudah tidak sabar,” kataku.

Ibu tersenyum tipis, sorot matanya penuh dengan kelelahan, namun tetap memaksa kuat demi kami anaknya.

 “Ayam goreng dan sayur sop kesukaan anak Ibu yang paling baik.”

Aku dan Shasa makan dengan lahap malam itu, tanpa tahu bahwa itu adalah yang terakhir. Ayam goreng dan sayur sop penggiring kepergian Ibu.

Keesokan harinya, kabar itu datang lagi. Kabar yang membuatku trauma, apa iya aku harus menghadapi kehilangan terus-menerus?

Ibu meninggal.

Katanya kecelakaan tabrak lari.

Kali ini aku tidak menangis. Bukan karena tidak sedih, tapi karena aku tidak tahu harus menangis bagaimana lagi. Aku sudah lelah, kupeluk Shasa yang menatap kosong jasad Ibu yang terbujur kaku itu. Aku merasa kosong. Benar-benar sangat kosong.

Hari-hari berikutnya berjalan tanpa arah. Aku dan Shasa bertahan sebisa mungkin. Sekolah, berjualan, pulang, lalu mengulang semuanya lagi keesokan hari. Tidak ada yang berubah, tapi semuanya terasa berbeda. Kami berdua saling menguatkan, setidaknya untuk saat ini aku hanya punya Shasa, begitu juga Shasa hanya punya aku

Sampai suatu hari, ketika aku memberanikan diri membersihkan kamar Ibu setelah 3 tahun tidak aku bersihkan, aku yang kala itu berusia dua belas tahun, menemukan sesuatu di lemari lama Ibu. Sebuah surat. Lebih dari satu. Tanganku gemetar saat membacanya. di kertas itu, aku menemukan alasan kenapa rumah kami tak pernah utuh lagi, bukti ayah mentari cacat, dan keluarga Arif hancur.

Isi surat itu membuat dunia yang sudah retak menjadi benar-benar hancur, aku terpaku begitu lama memandangi surat tersebut. Mesin di pabrik itu rusak. Sudah sangat lama, dan mereka tahu akan hal itu, tapi tetap digunakan. Karena memperbaikinya mahal, lebih murah kehilangan pekerja.

Aku terdiam lama. Berarti Ayah bukan sekadar kecelakaan. Berarti Ibu juga bukan. Dadaku terasa sesak, tapi kali ini bukan karena kehilangan, melainkan karena marah. Untuk pertama kalinya, aku benar-benar marah akan hal ini

Di dalam surat itu ada nomor. Aku menatapnya lama. Ada rasa takut, tapi ada juga sesuatu yang lebih besar dari itu. Aku pun menelepon nomor itu menggunakan hp jadul milik Ibu. Sekali, tidak diangkat, dua kali, juga tidak., tiga kali pun, masih tidak.

Aku hamper menyerah, sampai pada akhirnya di percobaan keempat terdengar suara…

“Hallo?”

Aku menelan ludah, susah payah aku mencoba untuk berbicara satu kalimat bahwa…

“Saya… anak Bu Sinta.”

Malam itu menjadi awal dari sesuatu yang baru. Aku bertemu orang-orang yang selama ini mencari kebenaran yang sama. Aku menyerahkan bukti yang ditinggalkan Ibu, kami dipindahkan ke tempat aman, nama kami bahkan harus diubah. Untuk pertama kalinya sesak didadaku menghilang, bahwa aku telah menegakkan keadilan untuk yang pergi dan kehilangan.

Aku kehilangan banyak hal dalam hidupku, tapi kali ini, aku tidak ingin kehilangan kebenaran. Beberapa waktu kemudian, berita itu muncul di televisi kecil di tempat kami tinggal. Pemilik pabrik itu ditangkap dan ia terbukti membiarkan mesin rusak tetap digunakan.

Puluhan orang meninggal, ratusan lainnya cacat selama bertahun-tahun. Selama ini, semua itu disebut sebagai “kelalaian pekerja”. Dia memanfaatkan kemiskinan dan harapan kecil kami untuk mencari makan dengan harga murah, yaitu dibayar dengan kematian. Aku menatap layar itu tanpa berkedip. Tanganku mengepal, air mataku menetes dengan sendirinya.

Jadi selama ini… bukan takdir. Tapi kesengajaan demi meraih keuntungan besar. Ada keheningan panjang dalam diriku. Bukan lagi kosong seperti dulu, tapi penuh dengan sesuatu yang tidak bisa kujelaskan. Sepatu merah peninggalan ayah masih kusimpan. Sudah tidak muat dan warnanya sudah tidak secerah dulu.

Tapi aku tidak pernah membuangnya, karena itu bukan sekadar sepatu, itu adalah janji yang sedang diusahakan dan bukti bahwa ada seseorang yang pernah berjuang sangat keras hanya untuk membuatku bahagia. Dan itu juga pengingat, bahwa di balik setiap barang yang kita pakai, ada tangan-tangan yang bekerja tanpa pernah benar-benar dihargai. Jika suatu hari nanti seseorang bertanya kepadaku tentang Hari Buruh, aku tidak akan menjawab dengan teori atau definisi.

Aku akan bercerita tentang Ayahku yang berjuang demi keluarganya. Tentang Ibuku yang sangat berani mengungkapkan sesuatu walau harus kehilangan nyawa.

Tentang orang-orang yang bekerja tanpa suara, tapi memikul dunia di pundaknya.

Tentang mereka yang pulang… tidak dalam keadaan hidup.

Dan tentang satu hal yang akhirnya kupahami, bahwa ketidakadilan tidak akan berhenti hanya karena kita diam.

Cerita ini dipersembahkan untuk para buruh yang berjuang setiap hari, yang bekerja bukan hanya untuk diri mereka sendiri, tetapi untuk keluarga yang menunggu di rumah. Bahwa keselamatan kerja bukanlah pilihan, melainkan hak. Bahwa tidak ada nyawa yang pantas ditukar dengan keuntungan. Dan bahwa setiap suara, sekecil apa pun, tetap berarti ketika digunakan untuk melawan ketidakadilan.

Penulis bernama Zikni Anggela, Mahasiswa Program Studi Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala.

Editor: Kamilina Junita Damanik