Opini | DETaK
Bulan ramadhan seharusnya menjadi momen untuk menahan diri bukan hanya dari makan dan minum, tetapi juga dari hal-hal yang dapat memicu hawa nafsu. Namun, di tengah perkembangan media sosial, muncul fenomena yang cukup unik yaitu komsumsi konten mukbang saat berpuasa.
Scroll sebentar saja kita akan dengan mudah menemukan video orang makan dalam porsi yang besar, lengkap dengan suara kunyahan yang menggoda. Bahkan tidak sedikit yang menjadikan konten mukbang sebagai “ teman ngabuburit”. Sekilas terlihat biasa saja sekadar hiburan. Tapi jika di pikir lebih dalam justru akan menghadirkan ironi di bulan yang identik dengan pengenalan diri.

Secara sederhana, mukbang adalah konten yang menampilkan seseorang maupun kelompok yang makan dalam jumlah yang besar, awalnya populer di korea selatan, kini mukbang telah menjadi tren global yang memengaruhi kebiasaan konsumsi masyarakat terutama generasi muda. Di Indonesia sendiri semakin berkembang seiring meningkatnya platfrom media sosial.
Masalahnya, menonton mukbang saat puasa bukan sekadar soal “boleh atau tidak boleh”. Memang, secara hukum, hal ini tidak membatalkan puasa. Namun, yang sering luput dibahas adalah dampak psikologis dan fisiologisnya. Penelitian menunjukkan bahwa menonton video mukbang dapat meningkatkan rasa lapar secara signifikan, terutama pada paparan awal . Artinya, apa yang kita tonton ternyata bisa memengaruhi kondisi tubuh kita secara langsung.
Ini menjelaskan kenapa setelah menonton mukbang, seseorang bisa tiba-tiba merasa lebih lapar, lebih ingin makan, bahkan lebih sulit menahan diri. Dalam konteks Ramadhan, hal ini jelas bertolak belakang dengan tujuan puasa itu sendiri, yaitu melatih kesabaran dan pengendalian diri.
Lebih jauh lagi, kebiasaan menonton mukbang juga berkaitan dengan pola makan yang kurang sehat. Dalam sebuah penelitian, individu yang gemar menonton mukbang cenderung mengalami emotional eating, yaitu makan sebagai respons terhadap emosi, bukan karena kebutuhan fisik . Ini bisa berdampak pada kebiasaan konsumsi berlebihan, terutama saat berbuka puasa.
Dari sisi nilai keagamaan, fenomena ini juga menarik untuk dikritisi. Dalam Islam, konsep makan berlebihan atau pemborosan dikenal sebagai israf, yang jelas tidak dianjurkan. Mukbang, yang sering menampilkan konsumsi makanan dalam jumlah besar, bahkan terkadang berlebihan, dapat dianggap bertentangan dengan prinsip kesederhanaan tersebut .
Di sinilah letak ironi yang sebenarnya, di bulan yang mengajarkan kesederhanaan, justru muncul tontonan yang menampilkan kemewahan konsumsi. Di saat kita seharusnya menahan diri, kita malah “memanjakan mata” dengan makanan.
Namun, di sisi lain, tidak bisa dipungkiri bahwa mukbang juga memiliki daya tarik tersendiri. Bagi sebagian orang, menonton mukbang justru memberikan sensasi “ikut makan” tanpa benar-benar makan. Bahkan, ada yang merasa terhibur atau teralihkan dari rasa lapar. Dalam konteks ini, mukbang bisa dilihat sebagai bentuk cara seseorang menghadapi rasa lapar selama puasa.
Sayangnya, jika tidak disadari, kebiasaan ini bisa menjadi kontraproduktif. Alih-alih membantu, mukbang justru bisa memperparah rasa lapar dan membuat waktu puasa terasa lebih berat. Apalagi jika dikonsumsi terus-menerus.
Fenomena ini juga mencerminkan bagaimana media sosial membentuk cara kita menjalani ibadah. Ramadhan yang seharusnya menjadi ruang refleksi spiritual, kini juga menjadi ruang konsumsi digital. Kita tidak hanya “menahan lapar”, tetapi juga terus-menerus terpapar konten yang justru memicu rasa lapar itu sendiri.
Pada akhirnya, yang perlu dipertanyakan bukan sekadar “boleh atau tidak”, tetapi “perlu atau tidak”. Apakah menonton mukbang benar-benar memberikan manfaat selama puasa? Atau justru mengurangi kualitas ibadah kita secara tidak sadar? Bukan berarti mukbang harus dihindari sepenuhnya. Namun, kesadaran dalam mengonsumsi konten menjadi hal yang penting. Sama seperti kita menjaga apa yang kita makan saat berbuka, kita juga perlu menjaga apa yang kita konsumsi secara visual selama berpuasa.
Karena pada akhirnya, esensi Ramadhan bukan hanya menahan lapar, tetapi juga melatih kontrol diri termasuk dalam hal yang sering dianggap sepele, seperti memilih tontonan.
Penulis Bernama Ananda Sahira , Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, Universitas Syiah Kuala.
Editor: Sara Salsabila










