Artikel | DETaK
Monumen raksasa biji meulinjo atau Aneuk Meuling ialah salah satu monumen yang paling unik di provinsi Aceh. Bagaimana tidak, bentuknya yang besar dengan warna yang mencolok membuatnya selalu menjadi pusat perhatian orang banyak. Tugu yang terletak di simpang empat lampu merah Kota Sigli atau yang lebih dikenal dengan Simpang Arakate ini tentu menarik perhatian banyak orang karena posisinya yang strategis di jalur utama Banda Aceh–Medan.
Tugu yang diresmikan pada tanggal 1 Januari 2025 ini dibangun sebagai simbol kebanggaan masyarakat Pidie dan pengingat akan identitas kabupaten sebagai lumbung emping melinjo. Kabupaten Pidie telah dikenal sebagai salah satu penghasil utama buah melinjo dan industri emping melinjo di Aceh. Pembangunan tugu ini dimaksudkan untuk memperkuat identitas lokal sekaligus membawa kebanggaan bahwa “Pidie sebagai penghasil melinjo terbaik”.

Dibalik bentuknya yang unik, ternyata Tugu Aneuk Mulieng ini terdapat beberapa filosofi yang tidak kalah uniknya juga lho!
Ternyata Tugu Aneuk Mulieng ini memiliki tinggi yang berukuran 17 meter dan berdiameter 30 meter dengan 22 titik air mancur. Tidak hanya itu, tugu ini tidak berdiri sendirian disana, tetapi ada 23 bentuk Aneuk Mulieng berukuran lebih kecil mengelilingi pusatnya. Biji-biji kecil ini di simbol kan sebagai warga yang menunjukkan kebersamaan, kekuatan kolektif dan potensi ekonomi lokal dari kebun melinjo didalam 23 kecamatan yang ada di kabupaten Pidie.
Tugu ini juga memiliki filosofi yang berkaitan dengan sejarah peradaban masyarakat Pidie, dengan setiap bagiannya memiliki makna tersendiri. Selain melambangkan nilai-nilai tradisional, tugu ini juga mendorong masyarakat untuk mengadopsi inovasi dan teknologi modern guna memajukan ekonomi daerah.
Tetapi siapa sangka, dibalik bentuknya yang megah ternyata biaya yang dikeluarkan untuk pembangunan tugu ini jauh lebih besar daripada perkiraan masyarakat di Aceh. Dengan pembangunan yang seringkali sempat tertunda sejak dulu, total anggaran untuk pembangunan tugu ini memiliki nilai sebesar 11,3 miliar rupiah. Oleh karena itu, diharapkan agar tugu ini bukan hanya estetika, tetapi juga mendorong pengembangan agribisnis melinjo dan industri kerupuk emping di kabupaten Pidie.
Penulis bernama Izzatul Ulya, Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakulktas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala.
Editor: Amirah Nurlija Zabrina










