Artikel | DETaK
People Pleaser adalah sebutan untuk seseorang yang memprioritaskan kebahagiaan orang lain, meskipun itu mengabaikan kebutuhan dan keinginan pribadi mereka sendiri. Mereka yang berusaha menyenangkan orang lain juga kesulitan mengomunikasikan keinginan mereka atau merasa tidak nyaman menentang opini publik.
Dalam bukunya “Stop People Pleasing: Be Assertive, Stop Caring What Others Think, Beat Your Guilt, & Stop Being a Pushover,” Patrick King berpendapat bahwa perilaku menyenangkan orang lain bermula dari kodependensi, suatu kondisi di mana seseorang memprioritaskan kebutuhan orang lain di atas kebutuhannya sendiri karena masalah emosional dan perilaku.

Seorang people pleaser juga berhubungan dengan gangguan kepribadian avoidant personality disorder, sehingga mereka memiliki beberapa ciri yang sama dengan gangguan kepribadian tersebut. Berikut merupakan ciri-ciri dari seorang people pleaser:
- Memiliki ketakutan menerima kritik atau teguran dalam situasi sosial.
- Menganggap diri lebih rendah dari orang lain sehingga memunculkan rasa insecure.
- Selalu menghindari pekerjaan yang melibatkan banyak orang.
- Merasa sulit untuk menolak permintaan orang lain padahal dirinya kesusahan.
- Menuruti hal-hal yang sebenarnya tidak membuat bahagia hanya untuk menghindari konflik.
- Enggan menyuarakan kebutuhan sendiri dan sering mengatakan bahwa ia baik-baik saja padahal sebenarnya tidak.
- Menghindari tidak setuju dengan orang lain atau menyampaikan pendapat yang jujur.
Kondisi Psikologis
Seorang people pleaser cenderung memiliki hubungan erat dengan salah satu gangguan kepribadian lain, seperti avoidant personality disorder. Hal ini disebabkan karena adanya kesamaan dari kedua kepribadian tersebut dalam merespon rasa takut akan penolakan. Ketakutan tersebut menyebabkan seseorang akhirnya people pleaser merasa perlu memenuhi ekspektasi yang orang lain berikan kepada mereka untuk menghindari penolakan yang mungkin datang.
Pada akhirnya, rasa takut akan penolakan yang mereka rasakan menyebabkan kecemasan yang berlebih. Selain itu, hal lain yang dirasakan oleh seorang people pleaser adalah sulit untuk mengatakan “tidak”. Sering kali mereka merasa bersalah dan egois ketika menolak suatu hal, yang akhirnya membuat mereka berakhir menyetujui hal tersebut dengan terpaksa. Hal tersebut akhirnya membuat mereka sering kali memendam emosi dan opini mereka.
Faktor tersebut yang akhirnya membuat seorang people pleaser selalu merasa kurang dan tidak puas terhadap diri mereka sendiri. Mereka menggantungkan kepuasan dan rasa harga diri mereka pada orang lain, yang akhirnya membuat mereka tidak pernah merasa cukup memuaskan orang lain. Karena berbagai untuk faktor tersebut, akhirnya seorang people pleaser cenderung memiliki tingkat stres yang cukup tinggi. Walau dengan tingkat stres yang cukup tinggi, mereka terbiasa untuk memendam semuanya sendirian. Sehingga sering kali mereka merasa dapat menanggung semuanya sendirian. Hal tersebut akhirnya berujung pada pelepasan emosi dan stres dengan cara yang tidak sehat, seperti self-harm.
Dampak Psikologis
Dampak psikologis dari keinginan untuk memuaskan orang lain salah satunya yaitu kesulitan dalam menolak permintaan atau situasi tertentu, yang dapat menimbulkan dampak psikologis. Selain itu, kecenderungan untuk terlalu sering mengakomodasi keinginan orang lain membuat mereka mudah dimanfaatkan dan cenderung mengesampingkan kebutuhan pribadi. Meskipun niat dasar seorang yang cenderung memuaskan orang lain adalah menjaga hubungan yang baik, memberikan “iya” terlalu sering dapat membuat orang lain mengeksploitasi kerelaan mereka.
Dampak lainnya termasuk kesulitan bagi mereka dalam menempatkan diri di depan, yang pada akhirnya dapat merugikan dan membuat lelah. Meskipun keinginan untuk menjaga hubungan yang baik dengan orang lain merupakan hal positif, tetapi memberikan terlalu banyak pengorbanan pada diri sendiri dapat membawa dampak negatif pada kesejahteraan mental. Mungkin menolak keinginan orang lain akan menimbulkan kecemasan, namun hal tersebut dapat langkah penting dianggap sebagai untuk menjaga kesehatan mental dan menghindari eksploitasi oleh orang lain.
Cara Mengatasi Perilaku People Pleaser
Berikut terdapat beberapa kebiasaan baru yang dapat diikuti untuk mengatasi perilaku people pleaser :
1. Berkomunikasi secara Asertif
Berkomunikasi secara asertif berarti mengomunikasikan perasaan dan pikiran dengan jelas, namun tetap menjaga rasa hormat lawan bicara. Percakapan dapat dimulai dengan kalimat, “Aku merasa … karena …” sehingga lawan bicara tidak merasa tertuduh atau disalahkan.
Misalnya,”Aku merasa kurang nyaman karena tempat ini sangat berisik.” Dapat dilihat dari kalimat tersebut bahwa pembicara berfokus pada pengungkapan perasaannya sendiri tanpa menyudutkan atau menyalahkan lawan bicaranya.
2. Belajar mengatakan “Tidak”
Banyak people pleaser merasa bahwa diri mereka jahat saat mengatakan “tidak” pada orang lain yang meminta bantuan atau mengajaknya pergi. Namun pada kenyataannya, beban perasaan orang lain bukanlah tanggung jawab mereka. Sehingga, perlu bagi people pleaser untuk membangun kebiasaan menolak suatu hal yang tidak mereka sukai.
Misalnya, “Maaf ya, kali ini aku tidak bisa membantu karena aku juga punya pekerjaan yang harus diselesaikan”. Meskipun pada awalnya mungkin timbul perasaan bersalah, namun mengatakan “tidak” bukanlah suatu tindakan yang buruk, melainkan bentuk upaya untuk menjaga dan menghargai diri sendiri.
3. Menentukan batasan orang lain terhadap diri sendiri
Seorang people pleaser cenderung kesulitan dalam menentukan batasan seseorang pada diri mereka. Sering kali mereka tidak sadar saat batasan yang mereka buat dilangkahi oleh orang lain. Hal tersebut dapat diubah, dimulai dengan meningkatkan kesadaran pada aktivitas sehari-hari. Kemudian memilah mana aktivitas yang membuat diri sendiri bahagia, dan mana yang tidak.
Misalnya, ketika rekan kerja meminta bantuan saat tugas kita sendiri belum terselesaikan, kita dapat mengatakan, “Aku akan membantu setelah tugasku selesai, ya.” Membantu orang lain memang tindakan yang positif, namun apabila dilakukan dengan mengorbankan diri sendiri ketika pekerjaan pribadi belum selesai, hal tersebut justru dapat menimbulkan kelelahan dan stres yang tinggi.
4. Memprioritaskan Diri Sendiri
People pleaser terbiasa memprioritaskan kebutuhan emosional orang lain di atas diri mereka sendiri. Hal tersebut akhirnya membuat seorang people pleaser cenderung lebih stres dan bingung kapan harus berhenti memenuhi kebutuhan emosional orang lain. Hal tersebut merupakan suatu kebiasaan yang harus diubah oleh seorang people pleaser. Untuk mengubah hal tersebut, people pleaser harus mengutamakan kemauan dirinya sendiri di atas orang lain, walaupun kemauannya akan menimbulkan kekecewaan pada orang lain. Fokuskan energi yang dimiliki untuk memenuhi kebutuhan emosional diri sendiri terlebih dahulu.
Misalnya, ketika seorang teman mengajak keluar pada saat kita telah menjadwalkan waktu untuk me time atau beristirahat, kita dapat menolak ajakan tersebut dengan mengatakan, “Terima kasih atas ajakannya, tapi hari ini aku mau istirahat dulu ya.” Meskipun penolakan tersebut mungkin menimbulkan kekecewaan pada orang lain, namun mengutamakan diri sendiri tetap menjadi hal yang lebih penting, karena dapat memberikan kebahagiaan serta menjaga keseimbangan emosional.
Penulis bernama Cut Irene Nabilah, Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala.
Editor: Khalisha Munabirah


![[Lensa] Ratusan Buruh Peringati May Day 2026 di Taman Sari Banda Aceh](https://detakusk.com/wp-content/uploads/2026/05/Foto-1-238x178.jpeg)






