Beranda Headline Vena, Vidi, Vici : Chapter 1

Vena, Vidi, Vici : Chapter 1

BERBAGI

Cerbung | DETaK

1 Januari 196X

Oh, sial ini sudah pagi. Itu yang pertama kali hal yang kupikirkan ketika jam beker merah loreng-loreng membangunkan ku dari tidurku. Sungguh mengesalkan aku harus bangun pagi dengan kondisi telanjang dada di hari pertama tahun, sekarang aku harus bersiap-siap untuk berangkat keluar rumah. Ah, sungguh apes hidupku. Ingin rasanya aku berkeluh kesah tentang keadaanku pada siapapun yang mendengar. Namun, apalah daya orang-orang egois ini tidak memiliki waktu untuk mendengar perkataan orang lain. Mereka terlalu sibuk memghidupi hidup mereka yang sempurna untuk peduli dengan orang-orang kecil sepertiku. Ahh, sudah cukup dengan gerutuan yang tidak berarti ini Leo, harusnya dirimu ini fokus menemukan pekerjaan.

Iklan Souvenir DETaK

Dengan segala usaha, akupun membuka mata dan menyesuaikan pandangan sebelum akhir memaksakan diri untuk beranjak dari tempat tidur yang sudah seperti sarang. Aku beberapa kali oleng dan menabrak benda-benda disekitar apartemen bodoh ini, akibat rasa kantukku yang belum mampu membuatku membuka mata secara total. Seperti biasa, aku melangkah terhuyung-huyung kearah kulkas dan menyambar kotak susu karena kebiasaan, dan meminumnya langsung dari kotak hingga habis, sebelum akhirnya aku dapat membuka mata secara penuh. Dengan cepat, aku membuang  kotak ussu kosong itu ke tempat sampah yang berada tepat di samping kulkas 20-an yang hampir menjadi sumber fire hazard sangking kacaunya kabel colokan listriknya.

Akupun melihat ke dalam kulkas, memindai setiap item yang akan aku jadikan menu sarapan hari ini. Namun, pada akhirnya aku hanya bisa membanting pintu kulkas itu dengan marah setelah beberapa detik melihat isi kulkas yang sebenarnya tidak perlu dilihat. Karena pada dasarnya kulkas ini kosong. Atau lebih tepatnya kulkas ini disi oleh 3 kotak susu setengah isi yang akan habis dalam 5-7 hari lagi. Dengan kesal, aku membuka konter dimana aku menyimpan makanan kering, mencari sarapan untuk satu dari sekian banyak hari sial milikku.

Hanya roti dan butter membalas tatapanku, yang berarti hanya itulah sisa makan yang ada. Aku mengambil dengan cepat kedua benda itu dan menutup konter secara tidak santai, menyalurkan rasa frustasi yang telah lelah aku keluhkan. Kutarik toaster, kuhidupkan, kumasukkan 2 potong roti, kemudian aku biarkan benda itu bekerja sambil mengambil kaos polos merah lusuh, yang dipakai untuk menutupi tubuh telanjangku. Kurapikan sedikit rambut coklatku yang berantakan kemudian memasukkan pakaian kotor ke mesin cuci yang berada disamping dapur, sebelum kembali berjalan kearah toaster yang telah selesai memanggang roti.

Kuambil pisau butter dan kusebarkan butter keatas roti dan kumakan dalam diam. Kupikirkan perusahaan yang akan kulamar. CoFinance, pilihan bagus perusahaan akuntasi kecil yang mengurus keuangan pribadi maupun perusahaan, aku bisa menjadi support tech  mereka. Grungter, perusahaan yang memproduksi teknologi music yang entah apa, aku kurang mengerti, tapi setidaknya aku bisa menjadi programmer mereka. Hebervent, ah, mengapa pula ini masuk kepikiranku, tentu saja aku tidak akan diterima oleh mereka. Lebih baik-.

Pikiranku terhenti ketika mendengar suara bel berdering dari pintu depan apartemenku, yang membuatku berpikir siapa yang akan datang ke apartemenku pada hari pertama tahun baru apalagi pada jam segini. Apa mungkin-. Ah, tidak seperti aku salah dengar, atau itulah adalah tamu milik salah satu tetanggaku, seorang wanita tua yang sangat ingin tau atas semua aktifitas semua orang. Mungkin salah satu anak-anaknya yang setiap hari ia keluhkan sampai telingaku sakit akhirnya datang berkunjung. Kalo begitu, sial soalnya wanita tua itu akan menjadi lebih cerewet ditambah ia pasti akan pura-pura menasehati untuk segera menikah dengan nada suara yang sangat menjijikkan. Andai aku bisa-

“Permisi apa ada orang disini?’, terdengar suara disertai dering bel yang kali ini jelas berasal dari depan pintu apartemenku. Yang menandakan bahwa aku tidak salah mendengar pertama kali bel dibunyikan. Rasa bingung sekaligus terganggu muncul dari diriku. Pertanyaan siapa yang datang dan mengapa mereka datang terus berputar dalam otakku. Namun, juga muncul pertanyaan mengapa mereka datang mengganggu sarapanku. Kuharap ini bukanlah seorang scammer, atau semacam orang yang tidak berkepentingan lainnya jika tidak-.

Kubuka pintu apartemen mengharapkan seseorang yang tidak penting. Tetapi, seperti takdir berkata lain. Sebabnya seseorang yang muncul sangatlah jauh dari kata tidak penting. Malahan bukan seseorang melainkan dua orang, berdiri dengan seragam gelap, topi dan ekspresi serius. Mereka juga memilki badge yang menandakan identitas resmi mereka. Dua orang ini adalah seorang polisi.

Officer, ada apa kalian berada didepan apartemen saya?”, ucapku sambil mencoba terdengar ramah, tidak ingin membuat kedua polisi ini merasa terancam.

“Saya harap kalian tidak salah unit apartemen, jika iya maka akan saya tutup”, ucapku santai mungkin mencoba mempersingkat urusan dengan mereka, bagaimana pula tidak ada yang lebih merepotkan daripada berurusan dengan polisi. Namun, sayangnya keinginannya pupus ketika mendengar perkataan salah satu polisi.

“Apakah anda tuan Leo Dreasaw?”, tanya polisi wanita.

“Ya, itu saya apa ada yang bisa saya bantu?”, ucapku gugup, Masuk ke dalam salah satu daftar yang dicari polisi bukan bertanda baik.

“Apakah anda mengenal tuan Jack Sparowdeck?” tanya polisi wanita yang sama, dan pertanyaan itu membuat aku terdiam karena rasa dingin yang ada di perutnya. Tentu saja aku tidak mengenal nama itu, Itu adalah nama sahabatku.

“Ya saya kenal orang yang anda tanyakan. Ada apa dengan dia?”, tanyaku hati-hati.

“Boleh anda menjawab beberapa pertanyaan tentang tuan Jack Sparowdeck? Ada kasus yang berhubungan tentang beliau”, ucap polisi wanita itu, yang dengan cepat kupotong.

“Boleh saya tau kasus apa?”

“Mohon maaf tapi ini kasus masih dalam tahap investigasi, kami tidak bisa memberi informasi secara sembarangan”.

“Mohon maaf jika begitu saya enggan memberi infomasi teman saya kepada anda kecuali anda dapat menjelaskan tentang situasi yang terjadi”.

Sir, anda sadar jika anda menolak anda akan masuk kepada daftar orang yang tidak koperatif atau menghambat kasus?”.

“Saya sadar namun saya tidak bisa memberi informasi jika tidak diinformasi tentang keadaan kasus, terutama ketika menyangkut sahabat saya”. Ucap Leo tegas.

Keheningan muncul akibat rasa tegang yang memuncak akibat pertidaksetujuan Leo terhadap situasi. Setelah beberapa keheningan tersebut akhirnya dipatah.

Kami sedang menyelidiki kasus pembunuhan yang dilaporakan kemarin, jika anda dapat memberi kami informasi tentang tuan Jack Sparowdeck, maka anda dapat membantukan menemukan titik terang dari kasus ini” ucap polisi pria muda yang menjadi patnert dari polisi wanita, yang saat ini mengeluarkan muka tidak senang.

“Apa hubungan Jack dengan kasus ini? Boleh saya tau?”, tanya Leo was-was.

Keheningan kembali muncul untuk beberapa detik belum sang polisi pria berdehem dan menjawab pertanyaan Leo.

“Tuan Jack Sparowdeck… merupakan korban pembunuhan kasus tersebut”.

Penulis bernama Riva Alya Najeela, Mahasiswa Program Studi Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Penegetahuan Alam, Universitas Syiah Kuala.

Editor: Sara Salsabila